Locita

Masjid Kebanggaan Wali Kota

ilustrasi

WALI Kota tersenyum puas. Ambisinya untuk membangun sebuah masjid megah ditengah kota terwujud. Abrakadabra! Hanya beberapa bulan dari rencana awal, masjid itu sudah bisa dibangun.

Masjid yang sangat indah. Bergaya Turki. Ada campuran emas di bagian kubahnya. Jika terlihat dari jauh, maka tampak pancaran sinar emas diterpa lampu jalanan atau bulan purnama. Indah nian. Wali Kota mengucurkan anggaran besar untuk membangun masjid ini.

Wali Kota mengundang tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk hadir di peresmian masjid yang diberi nama Tajul Madinah. Kyai Saleh yang kala itu sedang kedatangan tamu dari Jawa juga mendapatkan undangan untuk hadir.

Bahkan Wali Kota memintanya untuk membaca doa. “Kyai Jafar. Tundalah dulu barang sehari kembali ke Jawa. Temani aku menghadiri undangan pak wali kota, besok!”

“Wah! Kyai Saleh. Tampaknya antum dekat dengan pemerintah.Tidakkah engkau takut disebut ulama suu.”

“Hehehe… Insya Allah tidak Kyai. Dekat dengan pemerintah itu penting. Agar ada yang mengingatkan bila mereka salah arah.”

“Baiklah. Kutemani kau kesana besok. Biar aku bisa mencubitmu jika aku melihatmu menjadi cecunguk wali kota.” Kyai Saleh tersenyum kecil mendengar celoteh Kyai Jafar.

“Ganti aku baca doa, ya Kyai,” pinta Kyai Saleh.

“Honornya gede, gak?”

“Justru karena tidak ada honornya aku serahkan ke sampiyan, gus.”

Kedua kyai ini tertawa. Keesokan harinya. Wali kota begitu bersemangat memberi pidato sambutan. Setiap kalimatnya menunjukkan betapa dia begitu memperhatikan agama. Masjid ini adalah bukti komitmennya terhadap agama.

Semua yang hadir disana tepuk tangan bersorak sorai. Kecuali Kyai Saleh dan Kyai Jafar. Mereka malah terlihat bingung. Setelah sang Walikota selesai pidato. Kyai Jafar menutup dengan doa.

Kyai Jafar memulai doa dengan suara bening. Di tengah kalimat, dia terlihat gemetar. Air matanya mulai menetes. Semua yang hadir menjadi kebingungan. Ada pula yang kagum. Alangkah mudahnya Kyai Jafar menangis dalam doanya.

Kyai Saleh berzikir sejenak. Lalu tersenyum kecut. Dia paham mengapa Kyai Jafar menangis. Dia kenal betul sahabatnya ini. Seorang kyai khas yang mudah menangis bila di depannya terbayang penderitaan.

Dua bulan kemudian Kyai Saleh menyempatkan diri salat magrib di masjid indah itu. Dia tersenyum kecut. Masjid indah yang menghabiskan miliaran rupiah ini hanya diisi oleh tidak lebih dari sepuluh orang saja.

“Beginilah setiap hari, Kyai. Saya sulit mengajak orang untuk salat. Entah mengapa, gairah orang untuk salat di masjid ini sangat rendah,” kata takmir masjid.

Dia pun menceritakan kalau suasana masjid ini tidak nyaman. Padahal, fasilitasnya lengkap. Full ac.

“Ada apa ya Pak Kyai?” Kyai Saleh tidak menjawab. Dia memilih untuk salat sunnah dua rakaat.

“Apa pak wali kota tidak pernah salat disini?” Tanya Kyai Saleh usai salat sunnah.

“Pak wali mencanangkan setiap subuh senin salat berjamaah. Biasanya masjid ini baru ramai saat itu.”

“Selebihnya..?”

Takmir masjid menggelengkan kepala.

Keesokan harinya, Kyai Saleh mendatangi kantor wali kota. Untungnya, lak wali kota sedang ada di tempat.

“Eh, Kyai Saleh tumben datang.”

“Saya hanya mau bilang, masjid yang anda bangun itu rugi saja. Tidak ada orang yang mau salat disana.”

“Ah, jangan bercanda Kyai. Setiap subuh senin, penuh masjid itu. Kalau Kyai tidak percaya datanglah setiap subuh senin. Para ajudan saya bilang, suasana masjid itu sangat ramai.”

“Iya karena Pak Wali mencanangkan progam subuh berjamaah. Yang datang kesana para bawahan Pak Wali.”

“Benarkah, jangan bercanda Kyai!”

“Bagaimana kalau kita buktikan sebentar magrib saja Pak Wali Kota. Pak Wali jangan bilang-bilang kepada siapapun.”

“Oke. Silahkan minum Kyai.”

“Afwan. Saya lagi puasa.”

Walikota menepati janjinya. Dia datang sore hari menjelang magrib ke masjid megah itu. Kyai Saleh tampaknya sudah duluan. Walikota terenyuh! Hingga salat magrib usai dilakukan, tak ada satupun warga yang datang. Hanya ada takmir masjid, Kyai Saleh, dan wali kota.

“Apa setiap hari begini pak?” Tanya walikota kepada takmir masjid. Sang takmir mengangguk dengan sedikit takut.

“Ini tugas Kyai Saleh untuk menyadarkan masyarakat pentingnya salat berjamaah.Tugas saya sebagai pemerintah sudah selesai membangun fasilitas.”

Kyai Saleh tersenyum kecil mendengar alibi sang walikota. “Pak wali. Masjid ini dibangun untuk ambisi bapak. Bapak ingin kota ini punya masjid indah, bahkan terindah di seluruh nusantara. Bukan untuk ibadah.”

“Tidak begitu juga Pak Kyai. Itu salah satu saja. Tidakkah kita berbangga kalau punya masjid indah.”

“ Tapi, Pak Wali. Di balik ambisi dan kebanggaan kita dengan masjid ini, ada tangisan rakyat kecil.”

“Jangan mengada-ada Kyai! Apa maksud Pak Kyai?” Suara wali kota meninggi. Kyai Saleh tersenyum.

“Tanah masjid ini dulunya milik dua orang anak yatim. Ini adalah warisan satu-satunya yang ditinggalkan oleh bapaknya. Untuk memenuhi ambisi bapak membangun masjid, dua anak yatim itu terpaksa melepas tanah mereka dengan ganti rugi saja kepada aparat bapak. Mereka tidak bisa menjual karena mereka tidak punya sertifikat resmi. Anak yatim itu kini hidup menderita di sebuah tempat di kota ini.”

Walikota terkejut mendengar cerita Kyai Saleh. “Masjid ini kehilangan berkah, Pak Wali Kota. Saya tidak merasakan kehadiran Allah di masjid megah ini.

Bagaimana bisa mendatangkan jamaah? Siapa yang mau bertamu, bila rumah itu tidak punya tuan?”

“Darimana Kyai tahu semua ini?”

Walikota bertanya dengan nada yang lesu.

“Ketika Kyai Jafar menangis dalam doanya tempo hari. Saya paham bahwa ada sesuatu di balik masjid ini. Sejak itu saya mulai mencari tahu dan saya menemukan cerita miris ini.”

Kyai Saleh menjawab sembari memberi kode kepada takmir masjid untuk mengumandangkan azan menjelang salat Isya. Wali Kota terhenyak. Tak ada satupun kalimat yang bisa terucap dari bibirnya.

Avatar

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Tentang Penulis

Avatar

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.