Locita

Menambat Harapan di Musik Hutan

MENYAMBANGI helatan musik, bagi saya seperti membuka pintu harapan bagi datangnya banyak kejutan selama helatan berlangsung. Kejutan yang tidak melulu tentang setlist dari band idola yang kamu nantikan, atau semua hal yang membuatmu rela dan betah bertahan di bibir panggung.

Tapi kejutan-kejutan itu bisa berbentuk apa saja yang mungkin abai kamu perhatikan karena semuanya tak terjadi di depan panggung dan jauh dari sorot lampu yang lebih sering membuatmu memicingkan mata. Dan demi semua ikhtiar untuk menemui rentetan kejutan yang bisa datang kapan saja itu, maka saya bersama istri dan si bungsu Suar kembali menyambangi helatan musik tahunan yang diberi nama Musik Hutan.

Musik Hutan sendiri merupakan festival musik yang pertama kali dihelat pada 2014. Helatan ini diinisiasi oleh beberapa anak muda pekerja kreatif  di Makassar yang hendak menyuguhkan tontonan musik alternatif dan memadukannya dengan kampanye pelestarian lingkungan khususnya hutan. Sejak awal, event ini dilaksanakan di area hutan yang berada di daerah yang tak jauh dari Makassar.

***

Jumat (6/10) kemarin, saat sengat panas matahari khas Makassar yang tersohor itu masih begitu terasa saat kami bertiga memulai perjalanan dengan roda dua menuju Hutan Pinus Bissoloro, Gowa, Sulawesi Selatan tempat pelaksanaan Musik Hutan 2017. Hingga kali keempat pelaksanaannya tahun ini, saya sendiri belum pernah absen, Dan saya mulai mengajak keluarga untuk menikmati helatan wisata musik ini di tahun kedua pelaksanaannya.

Kami tiba di area parkiran musik hutan yang dikelola oleh warga sekitar sejam sebelum azan magrib berkumandang. Sebelum tiba di venue, perjalanan kami sempat tersendat sebentar karena proses pengaspalan beberapa ruas jalan yang rusak.

Saat berhenti  dan menyaksikan kemacetan yang ditimbulkan oleh pengaspalan itu saya dan istri lalu bercakap sebentar dan sama-sama menyimpulkan kalau kebijakan soal pengaspalan jalan ini bisa jadi karena efek keberhasilan pelaksanaan Musik Hutan tahun sebelumnya yang juga dilaksanakan di area Hutan Pinus Bissoloro. Kebijakan yang tentu tidak hanya memudahkan kami para warga Musik Hutan menuju venue, tapi juga membuat lalu lintas warga sekitar menjadi lebih mudah.

Para pengunjung Musik Hutan di Hutan Pinus Bissoloro, Gowa (Sumber Foto: Muh. Farid Wajdi)

Memasuki gerbang acara, Anda akan merasakan sensasi penyambutan yang hangat. Dan sambutan ini digenapi dengan senyum ramah panitia di meja registrasi warga Musik Hutan. Kami diantar menuju sisi kanan dari area penyambutan. Tempat  dan melaksanakan beberapa aktivitas  di Musik Hutan. Sebelum mendirikan tenda, saya menjalankan rutinitas seperti biasa saat berada di tempat baru. Mencari dan memastikan toiletnya oke.

Saya langsung tersenyum sebab toilet berada tak jauh dari tenda kami dan apalagi setelah menyaksikan sendiri kalau air tumpah ruah seperti janji panitia.

Tak jauh dari toilet yang berjumlah empat, tersedia pula dua bilik  jungle shower yang berdinding bambu dan dilapisi kain vynil untuk mandi. Dan beberapa langkah dari kedua area itu juga tersedia mushalla dan fasilitas penunjangnya.

Secara umum, untuk urusan fasilitas dan pelayanan, tahun ini Musik Hutan menunjukkan kelasnya sebagai helatan musik yang semakin terkelola dengan baik. Semua hal yang menyangkut kenyamanan warga begitu diperhatikan dengan sangat detail. Dan yang terpenting karena teman-teman yang menjadi panitia Musik Hutan selalu memperhatikan dan mendengar aspirasi warga Musik Hutan untuk menjadi bahan pertimbangan di perhelatan tahun berikutnya.

Berkat bantuan panitia akhirnya tenda mungil yang dapat menampung kami bertiga berhasil didirikan. Tenda kami berada di area Kampung Literasi sesuai dengan tulisan yang tertera pada papan yang terikat di salah satu pohon yang berada beberapa langkah dari tenda kami. Di bagian depan tenda tersedia dua alas duduk besar yang terbuat dari bambu, sehingga para warga dapat membaca berbagai koleksi buku yang kami bawa, khususnya buku anak-anak.

Kampung Literasi di Musik Hutan. (Sumber foto: Boby Fajar Purna)

Sejak tahun pertama, Musik Hutan telah mengajak komunitas literasi untuk terlibat serta dan Kedai Buku Jenny serta KataKerja menjadi dua komunitas yang telah hadir sejak 2014, tahun pertama helatan ini diinisiasi. Tahun ini, karena kedua komunitas ini sedang menjalankan program literasi yang diberi nama Kampung Literasi Wesabbe, sehingga panitia Musik Hutan mengajak kedua komunitas yang berdomisili di Kompleks Wesabbe, Tamalanrea, Makassar ini untuk membawa Kampung Literasi Wesabbe ke Musik Hutan 2017.

Selain menyediakan berbagai koleksi buku yang dapat dibaca gratis oleh warga Musik Hutan di sela berbagai penampilan di panggung utama, di area Kampung Literasi juga ada program daur ulang untuk anak-anak. Mereka diajar untuk membuat kotak dari kertas yang tak terpakai. Program yang dilaksanakan pada hari kedua pelaksanaan Musik Hutan ini juga bekerjasama dengan Komunitas Peace Generation Makassar.

Di tahun pertamanya terlibat, Peace Generation Makassar memberi warna baru di Musik Hutan 2017. Komunitas ini menggelar berbagai program kreatif dan edukatif yang digemari anak-anak seperti permainan ular tangga raksasa untuk memahami nilai-nilai dasar perdamaian, scavenger hunts for peace, belajar tentang keragaman dengan membuat karya seni dari benda-benda di hutan, belajar resolusi konflik serta program bercerita tentang kekerasan atau bully yang dialami dalam kehidupan sehari-hari.

Tahun ini, Musik Hutan juga mengajak Komunitas Makassar Berkebun. Komunitas ini memberikan workshop singkat mengenai Urban Farming dengan memanfaatkan media yang tak terpakai untuk dijadikan sebagai media tanam kepada warga Musik Hutan.

Untuk tahun keempat ini, saya merasakan betul bagaimana kehadiran komunitas-komunitas ini menjelma menjadi kampung komunitas kecil yang di dalamnya ada anak-anak yang berlarian dan gelak tawa mereka yang sebelumnya tak kenal satu dengan lainnya dan dipertemukan di Musik Hutan, anak-anak muda paruh baya urban yang akhirnya bisa membaca dengan santai meski hangat mentari kadang menginterupsi, ada obrolan-obrolan kecil soal suasana yang bagi saya sangat menyenangkan.

Saya percaya dengan adagium lama, bahwa tak ada yang sempurna di muka bumi ini. Tapi usaha untuk terus menjadi lebih baik tentu adalah harapan bagi siapa saja yang ingin menyempurna. Kira-kira seperti itulah “beban” yang diemban Musik Hutan sebagai sebuah ruang presentasi karya seni.

Bagi saya, Musik Hutan kali ini menyuguhkan segala kemungkinan bagi warga untuk mengenal dan mengapresiasi karya-karya musik berkualitas yang datang tidak hanya dari “rumah sendiri” tapi juga dari musisi luar kota. Tanpa peduli apakah ia datang dari Sanggar Seni Kampus atau band yang punya jadwal manggung yang padat. Disini, saya tak merasakan disparitas yang sering diperhadapkan visavis, musisi lokal versus ibukota. Jika tak percaya, coba lihat saja komposisi musisi atau band yang disuguhkan.

Di tahun keempat ini, Musik Hutan membuka kesempatan yang semakin luas bagi musisi luar kota untuk mempresentasikan karya-karya mereka di panggung utama Musik Hutan. Dan bagi saya semua pilihan musisi luar kota yang tampil tidak hanya membuat para warga berdecak kagum dan dengan mudah menghambur tepuk tangan tapi karya-karya mereka juga bisa menjadi referensi bagi ruang dengar siapa saja. Baik musisi maupun siapa saja yang senang gemar “berburu” musik berkualitas.

Deskripsi saya mungkin tak cukup mewakili kualitas yang disuguhkan para musisi itu, makanya selanjutnya silahkan manfaatkan gawai pintar anda dan mulailah mencari musisi seperti Wake Up Iris! dari Malang yang menggenapi keindahan senja Bissoloro di hari kedua Musik Hutan, atau Ben Wolves dari Bandung yang berhasil mengembalikan kenangan saya bersama almarhum bapak dengan cara yang sangat kontemplatif. Dan begitulah, musisi luar kota lain seperti Dede Rukka (Balikpapan), Otoskopi (Maluku), Sanggar Seni Kalkula (Palu) datang dengan kualitasnya sendiri-sendiri. Dan bagi saya mereka berhasil.

Penampilan Dede Rukha. (Sumber Foto: Muh. Farid Wajdi).

Panggung Musik Hutan tentu menjadi ruang rendah, terang, luas dan tanpa barikade bagi musisi atau band kota sendiri. Ia jadi panggung presentasi dan apresiasi bagi musisi atau band yang telah atau hendak merilis karya teranyarnya. Di antara mereka ada MinorBebas, unit rock alternatif yang baru saja merilis album Crunch, Firstmoon dan Ruang Baca yang dalam waktu tak begitu lama lagi akan merilis album perdananya.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Musik Hutan juga jadi panggung bagi para musisi yang namanya sedang diperbincangkan banyak orang, atau ia baru saja muncul di permukaan namun ada sesuatu yang menjanjikan dalam karyanya. Di deretan ini ada nama-nama seperti Loka, Trigu, Valhalla, Jasmine Risach, Maizura, Ska With Klasik dan Fandy WD.

Bagi musisi atau band kota ini, ruang seperti Musik Hutan tentu bukan hanya sekadar untuk mengafirmasi slogan Makassar Bisa Tonji (baca: Makassar juga bisa), tapi lebih jauh untuk menambah ruang dengar alternatif yang sepertinya selalu terasa kurang meski karya-karya berkualitas terus bertambah. Musik Hutan juga dapat menjadi ruang yang memungkinkan terjadinya dialog atau perbincangan lintas genre dan generasi yang menjadi modal penting untuk menapaki ekosistem musik kota.

Dan yang tak kalah menarik perhatian, Musik Hutan tahun ini juga menunjukkan komitmen untuk mengangkat dan memberi panggung bagi praktik seni rakyat dengan menghadirkan Kelompok Gambus Bissoloro dan Teater Rakyat Kondobuleng.

Musik Hutan dalam konteks ini lalu menjelma menjadi ruang konservasi kesenian rakyat yang belakangan tak mendapat perhatian cukup.

Dan ketika malam di Bissoloro sepertinya enggan berakhir, saya masih saja dikejutkan oleh berbagai ide yang berseliweran di antara tenda dan ruang-ruang percakapan minor yang ingin agar helatan ini terus bertahan sembari menambah kejutan-kejutan yang dapat membuat siapa saja bisa tetap menambat harapan akan helatan musik yang tak monoton dan tak punya nyawa.

Minggu pagi (8/10), saya berpamitan kepada panitia dan warga Musik Hutan lainnya. Kemudian meninggalkan jejak di jalanan Bissoloro dengan tambatan harapan terhadap segala kejutan-kejutan di Musik Hutan tahun depan. Terima Kasih Musik Hutan 2017.

Avatar

Zulkhair Burhan

Sehari-hari bekerja sebagai Staf Pengajar di Prodi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Bosowa dan juga sebagai pegiat Kedai Buku Jenny Makassar

Tentang Penulis

Avatar

Zulkhair Burhan

Sehari-hari bekerja sebagai Staf Pengajar di Prodi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Bosowa dan juga sebagai pegiat Kedai Buku Jenny Makassar

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.