Locita

Kyai Saleh, Jihad, dan Calabai

Ilustrasi: pojoksatu.id

DI pengajian subuh ini, Kyai Saleh membahas bab tentang Jihad. Dengan kalimat yang tegas dan bersemangat, Kyai Saleh mengobarkan jiwa jamaah pengajiannya.

“Jihad adalah ibadah tertinggi derajatnya dan termulia di mata Allah”, demikian kata Kyai Saleh dengan berapi-api.

Beberapa jamaah terperangah dan terpesona dengan agitasi Kyai Saleh. Yusran, salah satunya. Dia meresapi dengan khusyu setiap penjelasan tentang jihad dari mulut sang kyai. Setelah Kyai Saleh mengakhiri penjelasannya, Yusran angkat bicara.

“Kyai ! Saya ingin berjihad membela saudaraku sesama muslim di Rohingya!”

Kyai Saleh tersenyum. Semangat yang menyala dari jamaah tersebut membuatnya senang.

“Bagus. Itu tanda keimanan ada pada dirimu. Setiap orang Islam memang harus ikut merasakan penderitaan sesama muslim, juga sesama manusia”

Yusran tersenyum bangga mendengar kalimat dukungan dari Kyai Saleh.

“Siapa yang ingin mengikuti tekad Yusran??”

Beberapa orang jamaah yang rata-rata berusia muda mengacungkan jari.

“Bagus!! Ini baru anak muda.” Puji Kyai Saleh.

Beberapa jenak, Kyai Saleh diam. Dia seperti ingin memberi kesempatan kepada jamaah lain untuk mengacungkan jari. Benar saja, satu per satu jamaah lelaki mengacung jari.  Kecuali, seorang jamaah berusia muda. Tesa namanya. Serta Sarmidi, sang calabai.

“Eh, kenapa kamu tidak mengacungkan jari. Anak muda! Tidakkah kau ingin mendapatkan pahala jihad yang luar biasa besar,” seorang jamaah yang bernama Faris menegurnya.

Tesa hanya terdiam. Dia tidak menjawab, kecuali menatap wajah Kyai Saleh. Dia seperti hendak menyampaikan sesuatu tetapi tertahan.

“Kalau kamu calabai, jangan-mi angkat tangan. Bikin celaka kalau ikut berjihad.”

Sarmidi tertunduk dan tersenyum kecut.

Kyai Saleh melanjutkan penjelasannya, “Saudaraku, anak-anakku. Saya terharu melihat begitu tingginya semangat kalian semua berjihad ke Rohingya. Namun kalian harus menjawab pertanyaanku?”

Kyai Saleh sedikit jeda. Dia membiarkan suasana hening dan melepaskan batuk kecil yang tertahan sejak tadi.

“Apa kalian memiliki kemampuan berperang?”

Tidak ada yang menjawab.

“Tapi kami punya semangat, pak Kyai. Kami bersedia menyerahkan nyawa kami untuk kemuliaan agama!” Seru Yusran, masih dengan nada yang bersemangat. Jamaah lain mengangguk-angguk setuju.

“Saudaraku, tujuan perang adalah menang. Dengan begitu, kebaikan bisa diagungkan atas kebatilan. Semangat adalah modal yang penting memang, tetapi jauh dari itu keterampilan dan kemampuan berperang sangatlah penting. Itulah sebabnya tidak semua sahabat nabi ikut berperang. Mengapa? Karena jika hanya bermodal semangat, itu sama saja menyerahkan nyawa kepada musuh. Itu bukan jihad tetapi bunuh diri.”

“Tetapi, bukankah Allah akan memberi pertolongan kepada mujahidin dalam setiap medan pertempuran?”

“Ya. Tapi tidak seperti yang kalian pikirkan”

“Maksud Pak Kyai?”

“Kalau Allah menginginkan kemenangan dengan mudah. Tidak akan ada yang bisa mencegah kekuatan-Nya. Dia Maha Kuasa, bahkan bisa menghentikan perang tanpa kalian semua ikut berperang. Kalau kalian kesana karena mengharapkan pertolongan Allah untuk menang, itu sama saja kalian menghina keagungan-Nya”

“Tapi pahalanya sangat besar Pak Kyai. Kami mau masuk surga dengan mati di jalan Allah”

Belum sempat Kyai Saleh menjawab, Tesa yang sedari tadi berdiam diri, tiba-tiba bersuara.

“Apa Pak Kyai tidak berminat ikut berperang di Rohingya?”

Kyai Saleh sedikit terperanjat. Beberapa jenak kemudian, tersenyum.

“Untuk apa saya kesana?”

“Seperti kata kyai tadi, untuk berjihad. Kyai kan ahli agama. Tahu betul apa arti dan makna jihad, termasuk pahalanya yang sangat besar. Sebagai seorang yang paling paham agama di antara kita, bukankah seharusnya Kyai yang berada di garis depan?”

Kyai Saleh tersenyum lebar mendengar pertanyaan cerdas dari Tesa.

“Jihad itu inti ajaran Islam, nak. Ketahuilah, seluruh kehidupan kita ini adalah jihad. Berperang dalam Islam disebut qital. Ini salah satu bentuk jihad. Perang adalah contoh terbaik dari jihad, tetapi bukan satu-satunya”

Kyai Saleh berhenti sejenak. Air minum botol kemasan yang ada di sisi kanan diraihnya. Lalu melanjutkan kalimatnya,

“medan jihadku adalah pengajian ini. Dengan ilmu yang kumiliki, saya membaginya kepada kalian. Perang bukan meda jihad saya. Saya tidak cakap berperang. Usia saya sudah uzur dan sakit asma. Kalau saya ikut, belum sampai sampai sudah mati kelelahan. Untuk apa?”

Tesa tersenyum, “begitulah pak Kyai. Mengapa tadi saya tidak unjuk tangan. Dalam pikiran saya, saya bukan ahli perang.”

“Kamu mau jadi apa?”

“Saya kuliah di kedokteran, Kyai”

Kyai Saleh mengangguk-angguk.

“Maka mengobati orang adalah jihadmu, nak! Jika seorang dokter meninggal dalam perjuangannya mengobati manusia, memberi harapan hidup pada manusia maka dia meninggal di jalan Allah. Dia jihad”

Tesa tersenyum simpul sembari melirik Faris.

“Jadi, semua orang wajib berjihad pak Kyai?”

“Betul ! Kalian sering lupa kalau kalian suka terpesona dengan jihad yang heroik. Saya khawatir kalian sebenarnya tidak ingin berjihad, tetapi ingin jadi pahlawan. Saudaraku semua. Jangan kita memperhatikan jihad kecil tetapi mengabaikan jihad besar”

Para jamaah saling berpandangan. Mereka tidak mengerti arah kalimat Kyai Saleh.

“Melawan diri sendiri adalah jihad besar. Itu petunjuk dari Nabi, seusai perang Badar. Banyak yang bisa mengalahkan musuh tetapi tidak sanggup melawan dirinya sendiri”.

Semua jamaah terhenyak.

“Sebagai contoh, adik kita Sarmidi. Kita mengenalnya sebagai seorang calabai. Kita menghinanya. Tetapi dia tidak patah semangat. Dia menguatkan dirinya untuk hidup berdampingan bersama kita. Dia melawan ketakutannya, dia melawan bayangannya. Ini juga jihad!”

Mata Sarmidi berbinar-binar. Calabai itu sumringah namanya dijadikan contoh oleh Kyai Saleh. Matanya melirik jamaah yang mengejeknya tadi sembari tersenyum puas.

Langit sudah mulai terang. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 05.35. Kyai Saleh menutup pengajian.

Pepi Al-Bayqunie

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Tentang Penulis

Pepi Al-Bayqunie

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.