Locita

Calabai Mencari Tuhan

Ilustrasi: tintahijau.com

Suasana Masjid Nurul Autar sedikit heboh. Seorang calabai (waria) datang salat berjamaah. Dia datang dengan menggunakan mukena dan duduk di barisan perempuan.

“Eh, kau tidak boleh di sini, kau laki-laki!” sergah seorang jamaah perempuan

“Tidak gang, saya perempuan!” sanggah si calabai tak kalah tegasnya.

Jamaah perempuan tidak ingin bertengkar karena iqamat sudah dikumandangkan. Mereka menggeser barisan dan membiarkan sang calabai berdiri sendirian di bagian sudut masjid.

Usai salat, Kyai Saleh membalikkan badan. Jamaah masjid membentuk lingkaran. Ibu-ibu pun maju mendekat. Mereka siap mendengar petuah-petuah Kyai Saleh.

Namun, sebelum Kyai Saleh berbicara, salah seorang jamaah angkat suara. “Kyai… ini ada seorang calabai datang ke masjid. Dia tidak boleh kesini Pak Kyai. Dia ini makhluk jadi-jadian. Lihat saja dengan percaya diri dia pakai mukena, padahal dia berjenis kelamin laki-laki”

Kyai Saleh tersenyum dan memandang sang calabai yang duduk menyendiri di bagian belakang.

“Maju mendekat, Nak. Jangan sendirian di belakang situ!”

“Saya malu, Pak Kyai!”

“Jangan malu… ayo ikut bergabung kita pengajian bersama”

“Tapi Kyai? Apa orang seperti ini layak ikut majelis pengajian?” tanya seorang jamaah.

“Apa kamu merasa lebih mulia dari dia? Apa kamu lebih layak dari dia?” suara Kyai Saleh sedikit meninggi. Orang yang bertanya tadi memilih diam.

Merasa mendapat tempat, sang calabai memberanikan diri bertanya.

“Kyai bolehkah saya menggunakan mukena ketika salat?”

Sang Kyai tidak langsung menjawab. Dia memperhatikan wajah sang calabai dengan seksama.

“Untuk apa kamu salat, Nak?” tanya sang Kyai.

“Saya ingin menjalankan kewajiban saya sebagai orang Islam, Kyai.”

Kyai Saleh tersenyum lembut sekali.

“Apa kamu merasa perempuan?”

“Iya, Pak Kyai. Saya merasa kalau saya perempuan!”

“Ya.. sudah! Kamu boleh memakai mukena. Tetapi sebaiknya kamu berdiri di bagian sudut depan. Tidak apa-apa kan kalau saya beri kamu tempat khusus yang sedikit jauh dari jamaah perempuan.”

Pengajian dilanjutkan. Sang calabai tersenyum. Beberapa jamaah kurang gembira. Mereka tidak setuju dengan pendapat Kyai Saleh tapi mereka tidak berani membantah.

Sang calabai pun setiap hari ke masjid. Berdiri di tempat yang sudah disediakan oleh Kyai Saleh. Di depan perempuan, di belakang laki-laki. Dengan menggunakan mukena, sang calabai terlihat bersemangat.

Fatwa Kyai Saleh terdengar hingga ke Dewan Ulama Kota. Para ulama merasa Kyai Saleh sedang mengajarkan ajaran yang sesat. Mereka bersepakat untuk mengundang Kyai Saleh; mempertanggungjawabkan fatwa nyeleneh-nya.

“Saya tidak habis pikir, mengapa Kyai Saleh membolehkan seorang waria mengggunakan mukena ketika salat. Dia itu laki-laki, Pak Kyai. Mukena itu pakaian perempuan,” kata ketua Dewan Ulama.

Kyai Saleh hanya tersenyum kecil. Dia tidak segera menjawab dan membiarkan ulama-ulama lainnya memberikan argumentasi.

“Pendapat Kyai Saleh ini bisa menyesatkan umat. Apa dasar Kyai Saleh membenarkan seorang berjenis kelamin menggunakan pakaian ibadah seorang perempuan? Apa Pak Kyai lupa hadits tentang mutakhannisu minarrijal, lelaki yang menyerupai perempuan?”

Kyai Saleh malah memperlebar senyum. Para ulama yang lain sedikit salah tingkah melihat reaksi Kyai Saleh.

“Kenapa Kyai Saleh tidak menjawab? Apa Kyai Saleh ingin menyesatkan umat?”

Kyai Saleh diam sejenak, lalu menghela nafas.

“Tuan-tuan yang mulia. Saya tidak tega menggunakan fiqih untuk menghalangi keinginan seorang hamba mencari Tuhannya”

“Apa maksudmu? Fiqih itu mengatur hubungan hamba dengan Tuhan dalam beribadah. Tanpa fiqih, bagaimana kita beribadah”

“Betul. Tapi jangan menggunakan fiqih sebagai rezim!” Kyai Saleh menyela. Para ulama lainnya geleng-geleng kepala

“Ah.. Kyai. Jangan liberal begitu dong!” kata seorang ulama dengan suara sedikit meninggi.

Kyai Saleh malah tersenyum lebar. “Hehehehe… kalian ini. Sedikit-sedikit nuduh liberal. Tahukah tuan-tuan semua, calabai itu sedang melakukan pencarian. Jiwanya sedang gelisah. Dia butuh tuntunan! Kalau saya menggunakan pendekatan fiqih, dia pasti bingung, pasti merasa terasing, bingung dan tak bertempat. Tuan, bagi mereka agama telah memusuhinya. Sekarang dia datang ingin mendekatkan diri dengan agama. Apa tuan-tuan lebih senang, dia di jalanan melakukan perbuatan maksiat, ketimbang di masjid dengan menggunakan mukena?”

“Tetapi itu tidak sesuai fiqih!!”

“Itulah saya katakan tadi, jangan memenjara seorang hamba dengan fiqih. Bebaskan dia bertemu dengan Sang Maha Pembimbing. Calabai itu salat, tidak berbuat kejahatan ! Kesalahan satu-satunya adalah dia memakai mukena. Tapi dia salat. Dia dekat dengan Sang Maha Pemberi Hidayah. Mengapa kalian tidak mempercayakan dia kepada Tuhan. Biarkan dia dekat dengan Tuhan. Biarkan Tuhan yang membimbingnya. Bukankah selama ini kita hanya membenci mereka, tapi tak mau membimbingnya?”

Rapat selesai. Sebagian bisa maklum, sebagian lagi merasa tidak terima dengan metode Kyai Saleh yang dianggap bahaya.

Seminggu kemudian, sang calabai datang ke masjid. Kali ini dia menanggalkan mukenanya. Dia datang dengan sarung dan peci. Dia duduk di shaf pertama.

“Nak… mengapa kamu menanggalkan mukenamu?”

“Saya merasa kesepian di barisan tengah. Saya ingin berbaris bersama-sama. Perempuan sudah menolakku. Dan, ketika aku memakai peci dan sarung, aku bisa duduk di shaf terdepan Kyai.”

“Alhamdulillah!”

Kyai Saleh tersenyum merekah, lalu meleburkan diri dalam salat sunnah ba’da Isya. Pun, calabai itu.

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Tentang Penulis

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.