Locita

Pesan Moral

Ilustrasi: qubicle.id

DENGAN gaun hijau berdada rendah itu, Melia adalah yang paling berkilau di antara kami. Dia telah tiba di gerbang sebelah utara, tempat yang telah kami rencanakan untuk berkumpul, lima belas menit sebelum aku tiba. Setidaknya begitu pengakuannya.

Dia sedang tersipu mendengar aku memuji dandanannya saat Sandra kemudian datang menumpangi taksi. Reaksinya kala melihat Melia sama sepertiku; terpukau. Melia bercerita betapa gaun hijau berdada rendah tersebut telah berhari-hari membuatnya repot dan gundah.

Ketika Melia tiba di bagian ia menangis semalaman lantaran penjahit langganannya keliru memotong bagian bawah gaun itu, Fatra datang dengan gaun separuh putih separuh kecokelatan. Tetesan air di ujung-ujung kain, dan semerbak comberan yang menguar darinya, membuat kami paham kalau warna yang disebut kedua, yang melungsur dari perut ke bagian terbawah gaun Fatra tersebut, adalah sesuatu yang baru saja ditambahkan oleh sebuah kecelakaan.

“Kalau kalian benar-benar sahabatku, sebaiknya kita kompak tidak masuk gedung. Aku sedang berantakan,” pinta Fatra tanpa melirik Melia sama sekali.

       ***

DENGAN gaun hijau berdada rendah itu, Melia adalah yang paling berkilau di antara kami. Berkilau seperti zamrud langka di tengah jalinan kawat-kawat emas imitasi. Seorang perajin yang sungguh-sungguh rajin, menggosok zamrud itu setiap hari, bahkan setiap jam, seolah pekerjaan semacam itu adalah yang paling mulia dan sama pentingnya dengan pekerjaan seorang penjaga tiang-tiang penopang bumi.

Saat melihatnya aku bisa membayangkan, di pesta yang akan kami hadiri ia akan jadi pusat perhatian. Zamrud adalah kemuliaan. Adalah segalanya yang membuat para pangeran dari negeri-negeri jauh tak akan merasa menyesal telah memenuhi undangan.

Setiap kali Melia tertawa, zamrud itu semakin berpendar menyilaukan. Pendar yang membuat aku, Inez, dan Fatra; kawat-kawat emas imitasi yang tak berharga ini, menjadi gangguan yang menyebalkan.

Tapi sungguh, bukan kecemburuan yang membuatku setuju dengan ajakan Fatra agar kami semua tak masuk ke gedung pertemuan itu untuk menghadiri pesta ulang tahun Pak Walikota. Solidaritas di atas segalanya. Persahabatan yang telah kami pupuk bertahun-tahun adalah yang utama.

Aku sebetulnya turut sedih melihat zamrud langka itu perlahan berubah jadi agar-agar hijau, benda rapuh yang disentuh sedikit saja akan langsung lumer dan berceceran sebagai noda.  Melia yang cantik kelihatannya akan menangis dan sulit menerima. Tapi apa mau dikata, solidaritas di atas segalanya, persahabatan adalah yang utama.

     ***

DENGAN gaun hijau berdada rendah itu, Melia adalah yang paling berkilau di antara kami. Aku harus mengakui itu. Perempuan itu bertubuh mungil, tapi sepasang payudaranya begitu padat berisi. Kedua pundaknya terlihat sedikit lebih tinggi. Punggungnya yang biasanya bungkuk dan ringkih malam ini tampak tegak dan meyakinkan. Gaun yang sempit, pikirku, tapi entah mengapa dia bisa bergerak begitu leluasa di dalam sana.

Mau tak mau aku mengedarkan pandangan juga ke bokongnya yang seolah terangkat beberapa senti. Aku menduga ia mengenakan bantalan. Pelacur itu sehari-hari senang mencitrakan diri sebagai gadis baik-baik, tapi tidak malam ini. Aku yakin bukan pujian dari kami, kawan-kawannya sendiri, yang sedang ia harapkan. Sama sekali bukan.

Beberapa hari lalu, Tante Santi bertanya apakah aku kenal Melia, puteri pengusaha batubara yang sukses di kota kami. Tentu saja, jawabku. Bersama Inez dan Sandra, kami telah membentuk persekutuan gadis-gadis berselera tinggi sejak hari pertama mengenakan seragam putih abu-abu sampai hari ini, ketika kami tengah meniti karier di bidang masing-masing. Di antara kesibukan, kami selalu menyempatkan jalan bersama, dua atau tiga kali dalam seminggu.

Tanteku kemudian menunjukkan sketsa rancangan gaun yang sedang dijahitnya. Sebuah gaun malam berbahan satin sutera, dengan garis dada model V yang rendah. Sangat rendah hingga aku memperkirakan jarak antara titik terendah dengan bagian pusar pemakainya tak sampai sejengkal.

Perempuan murahan itu selalu menyebut-nyebut nama Faisal. Aku yakin gaun itu akan ia gunakan untuk menarik perhatian anak Pak Walikota itu. Maka, tanpa perlu banyak menimbang, saat Tante Santi tak memperhatikan, aku ambil catatan rancangan itu dan mengganti angka-angka di dalamnya. Aku mungkin telah gagal menggapai cita-cita sebagai perancang busana, tapi aku masih ingat cara mengubah gaun malam menjadi bahan tertawaan.

Kasihan juga Tante Santi, pasti berat kehilangan seorang pelanggan yang kaya raya. Tapi, apa boleh buat, dalam memperjuangkan hal-hal yang suci, pengorbanan adalah sesuatu yang pasti. Hal suci yang kumaksud adalah persatuan kelompok kami.

Dengan gerak senyap seperti ini, aku tidak perlu mengungkapkan perasaanku secara terang-terangan kepada teman-temanku bahwa aku pun menginginkan anak walikota itu. Dan yang paling utama adalah, jika aku tak bisa mendapatkan Faisal, maka nenek sihir itu pun tak boleh memilikinya.

Namun, malam itu, setelah dari kejauhan aku melihat Melia berdiri di gerbang sebelah utara gedung itu (ya, aku adalah gadis paling miskin dalam kelompok ini, karena itu aku ke sana dengan berjalan kaki) aku tahu aku harus melakukan pengorbanan yang lebih besar lagi.

Seorang penjahit lain rupanya telah menemukan cara memperbaiki gaunnya yang telah aku sabotase. Ia memotong banyak kain sampai di bagian paha, lalu menutupnya dengan tile mahal berwarna hijau terang. Kerusakan yang aku buat justru membuat kodok Suriname itu menjadi semakin cemerlang.

Aku harus berkoban lebih besar lagi. Melawan bacin, nyamuk, dan dingin, perlahan aku benamkan sebagian tubuhku ke dalam got terdekat yang bisa aku temukan.

               ***

“DENGAN gaun hijau berdada rendah itu, Melia adalah yang paling berkilau di antara kami…” Gumam salah seorang peserta kelas menulis.

“Kenapa?” Tegur Dul, “Ada yang janggal?”

Pemuda yang kena tegur hanya tersenyum dan menggeleng.

“Yang lain?” Dul mengedarkan pandangan.

Selain Dul dan pemuda itu, ada sembilan orang lagi duduk lesehan di sudut perpustakaan yang telah disulap jadi ruangan belajar tersebut. Namun tidak ada lagi yang bersuara.

“Baiklah, kalau tidak ada, boleh disimak penjelasan saya,” Lanjut Dul. “Dalam mengembangkan sebuah kalimat sederhana menjadi sebuah fragmen atau sebuah cerita; baik itu dengan narasi, analogi, deskripsi, dialog, atau negasi, yang harus seorang pengarang pikirkan juga adalah bagaimana menciptakan motif.”

Dul berhenti sejenak, menyedot teh dalam kemasan kotak di hadapannya, lalu kembali  berceramah: “Das sein dan das sollen. Problem adalah kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Problem yang menjadi penggerak cerita adalah buah dari pertentangan banyak hal. Harapan satu tokoh bertentangan dengan harapan tokoh-tokoh lain, atau dengan situasi, atau dengan nilai-nilai ideal yang dianut sang tokoh itu sendiri. Ketika kalian telah menggerakkan seorang tokoh untuk melakukan sesuatu, kalian harus menyiapkan juga konsekuensinya. Konsekuensi inilah yang dilihat pembaca sebagai pesan moral.”

Tujuh dari sepuluh peserta manggut-manggut.

Dul melanjutkan: “Maka, seharusnya, kalian tidak perlu repot menceramahi pembaca. Tidak perlu mengajari atau memaksa mereka menyetujui suatu gagasan. Cukup tunjukkan; Melia melakukan A hasilnya akan begini, ia berbuat B yang terjadi adalah begitu. Selanjutnya, biarkan pembaca menyimpulkan sendiri.

Dalam cerita ini, misalnya, apa pun yang akan dilakukan oleh Melia atau teman-temannya hasilnya akan sama saja; akan ada perpecahan, akan ada rasa sakit hati. Sebuah keputusan tidak akan memuaskan semua pihak. Itu pesan moralnya.”

“Bagaimana jika ada pihak lain di luar kelompok itu yang tindakannya sangat signifikan?” Pemuda yang sebelumnya bergumam kembali bersuara.

“Maksudmu siapa? Tuhan?” Dul tersenyum mengejek.

Pemuda itu balas tersenyum. “Bukan. Tulisan saya mungkin akan menunjukkan itu. Tapi…ini mungkin sedikit melenceng dari aturan main kita.”

Dul diam. Tak berapa lama ia berkata, “Bacakan saja.”

        ***

DENGAN gaun hijau berdada rendah itu, Melia adalah yang paling berkilau di antara mereka; empat perempuan muda yang sedang bergerombol beberapa meter di belakang Kipli. Namun, Kipli tidak tahu hal ini. Bahkan jika pun dia tahu, pasti lelaki kurus itu tak akan ambil pusing.

Dia tidak akan mau repot-repot terjebak dalam debat kelompok itu, tentang apakah masuk atau tak masuk dalam sebuah pesta ulang tahun akan mempengaruhi suatu persahabatan. Satu-satunya perdebatan yang ia tahu adalah perdebatan antara Kipli si Pemaaf dan Kipli si Pendendam.

Dia ingat betul sumpah serapah Pak Makmur. Dia ingat semburan ludah bosnya itu yang menyiram kelopak mata dan pangkal hidungnya lima hari lalu. Kipli telah dituduh mencuri beberapa meter kain gorden dari gudang penyimpanan.

Ini bukan kali pertama. Sejak empat bulan lalu mulai bekerja di gedung pertemuan itu, dia sudah sering dihina. Semua orang di tempat itu tahu latar belakang bapaknya yang gemar mencuri dan hobi masuk bui. Kipli cukup kebal hinaan sebetulnya, tetapi ia akhirnya habis kesabaran.

Suatu malam, bapaknya menyelinap di kamar sempit yang ia kontrak, bersembunyi dari kejaran polisi, dan semalaman suntuk menceramahinya tentang pentingnya menjaga harga diri tak dikoyak cakar-cakar kemelaratan. Seusai mendengarkan ceramah itu, secuil bayangan gelap dalam diri Kipli mulai berbisik tentang betapa bedebahnya sejumlah orang di tempat kerjanya.

Maka pada Minggu siang itu, selepas menerima rentetan makian yang ditutup semburan ludah Pak Makmur, Kipli menyambangi sebuah warnet, membuka situs yang dibuat sekelompok pembenci kehidupan, dan mulai menyalin cara membuat bom dari bahan-bahan yang mudah ditemukan.

Empat hari ia habiskan merakit benda itu, sehari meyakinkan diri, dan akhirnya, malam itu, ia memasukkan bom rakitannya ke dalam sebuah kado, sebelum mengenakan seragam pelayan yang telah disetrika licin. Tentu saja kado tersebut ia sembunyikan lebih dahulu ke dalam tas punggungnya, sebab ia bukan tamu dalam ulangtahun pak Walikota.

Di atas tumpukan hadiah ia meletakkan benda itu, lalu pergi.

Selanjutnya, sebagaimana yang diberitakan sejumlah televisi, koran, dan situs berita, sebuah bom berdaya ledak kecil mengacaukan sebuah pesta. Sebanyak 373 orang luka-luka, sebagian besar karena jatuh dan terinjak-injak dalam kepanikan.

Jumlah itu bisa saja menjadi 374 andai perdebatan Melia dan kawan-kawannya selesai beberapa detik lebih cepat, Melia tetap memenuhi undangan Walikota sementara ketiga temannya pulang sembari mengutuk sikap tidak sekawan gadis itu. Akan menjadi 375 kalau Inez tetap mendukung Melia. Dan akan menjadi 376 jika Fatra dicampakkan sendirian.***

 

Gorontalo, 2017

Avatar

Jamil Massa

Menulis puisi, cerpen, dan esai.

Tentang Penulis

Avatar

Jamil Massa

Menulis puisi, cerpen, dan esai.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.