Locita

Tiga Pesan Kematian

Sumber Foto: albashiroh.com

Petang telah berpulang, berganti temaram bulan. Seketika kami peroleh kabar, Om saya sedang kritis. Kami menyelesaikan teguk kopi terakhir, bergegas kembali ke rumah. Menyelesaikan maghrib sembari melantunkan doa untuk kesehatannya.

Jelang tiba di RS MMC, tepatnya di antara jalur cepat ingin berbelok ke jalur lambat, kami peroleh kabar baru. Om telah berpulang kembali ke Pemilik-Nya, Allah SWT. Innalillahi wa innailaihi rajiun.

Tidak ada yang bisa menerka hidup ini sampai dimana. Bukan sekedar syarat usia, juga sakit, yang muda bin sehat pun jika telah sampai waktunya pun, bahkan Tembok Cina tak bisa menghalaunya.

Haru meledak, isak tangis memecah, sekuat-kuatnya manusia jika ditinggal yang terkasih, tentu tak mampu dibendung jua. Om, pergi sementara. Mungkin Ia menyiapkan rumah yang indah untuk para keluarganya, sembari berbisik kepada Tuhan yang tepat berada di sampingnya. Bersaksi bahwa seluruh keluarganya adalah keluarga yang taat beribadah hanya kepada-Nya.

Begitulah kehidupan, seperti roda yang terus berputar. Ujiannya silih berganti, bahagia kemudian sedih, senang lalu susah, begitu seterusnya. Beruntunglah mereka yang selalu sadar akan datangnya semua ujian, sembari menguji keimanannya.

Setidaknya, jelang perginya Om, ada tiga hal yang dititipkan kepada orang-orang terdekatnya. Ini yang sempat mampir ke telinga kami.

Pertama, dalam urusan membahas agama, almarhum tidak sedikit pun punya rasa takut. Dalam sebuah kesempatan Om dengan sangat lantang berujar, kita harus terdepan membela Islam. Jangan takut pada apapun, kita sedang berjuang untuk agama kita.

Mati kalau sudah Allah yang berkehendak juga kita bisa apa. Yang masalah kalau kita mati tidak sedang membela agama.

Kedua, Almarhum berulang-ulang membahasakan soal ikhlas menerima apapun yang terjadi terhadap dirinya. Begitulah keimanan, tak ada sedikit pun ragu dalam menjemput mautnya.

Sebagai yang paling tua dan imam di keluarganya, ia tahu sesulit apapun kondisinya, sehebat apapun sakitnya, ia tak mau kelihatan lemah di hadapan keluarganya. Ia harus tetap tampak mengayomi.

Ketiga, kita itu saudara, saudara itu ada dalam semua kondisi. Sejak kecil, kita berhadapan dengan susah dan senang. Tak boleh kita saling menegasikan atau meniadakan. Harus saling mendoakan dan mendorong satu sama lain.
Pesan ini begitu kuat, tentang pentingnya menjaga fondasi keluarga. Hubungan manusia kepada manusia, apalagi keluarga adalah tiang penyangga hubungan manusia kepada pencipta-Nya, Allah SWT.

Manusia pun di perhadapkan pada persimpangannya, pada pilihan-pilihan dunia. Yang ketika berjalan akan sulit untuk memutar kembali. Saya pikir ini tidak berlaku untuk Debora, seorang bayi yang menjadi tumbal ketidakmanusiaan sistem kesehatan.

Saya tak begitu yakin, mungkin juga kita semua, ketika sedang berhadapan dengan kematian tak mampu berbagi hikmah seperti apa yang dilakoni Om. Jadi teringat kisah sebelum wafatnya Rasulullah SAW, dia tak memikirkan dirinya yang sedang berhadapan dengan maut, dia memilih memikirkan umatnya. Ummati ummati ummati. Salawat untukmu duhai Rasulullah.

Selamat jalan Om, di ujung pengabdianmu di dunia, engkau mengakhirinya dengan sangat indah. Berbagi pesan seperti junjunganmu, kekasih Allah, Rasulullah SAW. Doaku juga mengiringi Debora, semoga Kau bisa bersama-Nya di sana.

Avatar

Arief Rosyid

Seorang ayah dan suami, dokter gigi, Ketua Umum PB HMI 2013-2015

Tentang Penulis

Avatar

Arief Rosyid

Seorang ayah dan suami, dokter gigi, Ketua Umum PB HMI 2013-2015

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.