Locita

Semoga Langit Jakarta Biru

Kota Perth di pagi hari, kapankah langit Jakarta biru seperti ini? (sumber foto: Australia.com)

RATUSAN Motor listrik bergerak beriringan di jalan utama Ibukota Jakarta, pada Sabtu pekan lalu. Salah satu penunggang di kelompok motor gede (moge) listrik ini ialah Sandiaga Uno. Wakil Gubernur Jakarta yang dilantik bulan lalu.

Sembari mawas diri terhadap pengemudi lain. Sandiaga yang menunggangi motor gede  ini  meluncur membelah jalanan ibukota. Dalam kecepatan rendah, ia menyaru di antara deruman mesin motor gede, bajaj dan matic yang ditunggangi oleh komunitas motor, direksi ataupun pekerja PLN. Mereka beriringan menuju Kota Tua, Jakarta.

Sesampainya di Kota Tua. Sebanyak 180 motor listrik yang mengikuti konvoi ini dicas ulang. Atas konvoi yang diprakarsai PLN tersebut, konvoi yang diberi nama Electric Fun Ride 2017 ini diganjar rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia atau MURI sebagai konvoi listrik motor terbanyak. Dari catatan MURI disebutkan bahwa konvoi motor listrik ini pertama kali di Indonesia.

“Semoga dengan adanya motor listrik langit Jakarta kembali biru,” harap Leo Basuki, Manajer Niaga dan Pelayanan PLN Disjaya kepada wartawan yang menanyainya perihal tujuan konvoi tersebut.

Penggunaan kendaraan seperti motor listrik memang kian menjadi tren di negara kita. sebelumnya menteri Jonan dan wakilnya Archandra Tahar juga telah membeli jenis motor yang berbeda dengan jenis Hybrida ini. Hal tersebut menjadi sebuah keharusan di tengah kian tercemarnya udara negara kita. Selain pencemaran udara, ini juga bentuk penghematan terhadap penggunaan bahan bakar fosil yaitu batu bara, minyak bumi, serta gas alam yang kian lama kian menipis saja.

Polusi dari kendaraan bermotor, masih jadi penyumbang terbesar terhadap pencemaran udara di Indonesia. Menurut data World Health Organization (WHO), Jakarta menjadi salah satu kota dengan kadar polutan tertinggi setelah Beijing, New Delhi dan Mexico. Langit Jakarta telah melampaui 4,5 kali ambang batas normal udara versi badan kesehatan dunia itu.

Kita tentu tak ingin bernasib sama dengan Cina dimana hampir setiap hari 4.400 orang meninggal dunia karena terpapar pencemaran udara. Pada Akhir September lalu WHO mengumumkan Cina adalah negara dengan polusi udara di ruang publik yang paling mematikan. Di Cina hampir 1,6 juta orang meninggal dunia tiap tahunnya. Jumlah ini tentu terlalu banyak, mati karena bernapas.

Jumlah meninggal sekitar 1,6 juta orang akibat polusi udara tersebut tentu sangat mengkawatirkan. Bayangkan saja, jumlah ini jauh lebih banyak dibanding kematian karena tragedi terburuk di negara kita, pembunuhan karena imbas gerakan 30 September dalam kurun waktu 1965-1966. Seperti dikatakan John Roosa dalam bukunya Dalih Pembunuhan Massa. Jumlah meninggal akibat peristiwa tersebut mencapai 500 ribu jiwa.

Jumlah kematian 1,6 juta jiwa pertahun itu berarti juga bisa mengalahkan ‘pembunuhan’ yang dilakukan Mao Zedong ketika menerapkan politik ekonominya “Lompatan Jauh Ke Depan”.

Pada kurun waktu lima tahun yakni 1957 hingga 1962, Jung Chang dan John Halliday, dalam bukunya Mao: the Unknown Story, menyebutkan sebanyak 70 juta jiwa orang meregang nyawa akiba program utopis Mao ini. Ini berarti hanya butuh waktu selama 44 tahun pada keadaan normal, untuk melampaui jumlah pembunuhan yang digerakkan mesin Partai Komunis Cina kala itu.

***

Masih dari laporan WHO dari sekitar 5,5 juta kematian per tahun yang terjadi di dunia karena polusi udara ini. Lebih dari separuhnya memang terjadi di Asia. Celakanya, 92 persen dari kematian tersebut terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Selain di Cina, juga terjadi di India dengan tingkat kematian 1,4 juta orang per tahun. Hal ini dapat dimaklumi karena negara-negara berkembang guna menuju negara industri baru, memerlukan bahan bakar yang tak sedikit untuk menggerakan perekonomian mereka.

The Guardian beberapa hari lalu melansir jika Cina tidak menghentikan pencemaran udara yang berasal dari polusi akibat pabrik-pabrik dan pembangkit listrik tenaga batu bara mereka, maka pada 2030 warga Cina yang akan meninggal karena terpapar polusi ini sebanyak 990.000-1,3 juta jiwa per hari.

Akibat menggenjot pertumbuhan ekonomi tak disadarai polusi udara ini juga menggerogoti ekonomi Cina maupun India. secara tidak langsung dua puluh tahun terakhir negara-negara ini menumpuk masalah yang seolah menjadi bom waktu. Cina dan India seolah luput terhadap pencemaran udara mereka, hingga saat ini tak kurang dari 10 dan 7,6 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) kedua negara industri baru ini dihabiskan untuk pengobatan warga yang sakit. Dampak lain tentunya penduduk mereka yang berjumlah di atas 1 miliar rentan sakit dan tentu berpengaruh terhadap keberlangsungan hidup mereka.

Persentase PDB Cina dan India yang tergerus oleh biaya pengobatan ini cukup besar. Di Amerika Serikat saja, biaya untuk kesehatan seperti asuransi dan pengobatan rumah sakit mereka sebesar 16 persen dari PDB. Ini ialah angka gerusan PDB terbesar di dunia. PDB sendiri ialah total pendapatan dari hasil produksi bidang industri, penjualan, bisnis maupun sektor jasa dalam jangka waktu tertentu, biasanya setahun. Sederhananya, PDB ialah pendapatan sebuah negara.

Polusi di Indonesia

Bagaimana dengan polusi di Indonesia? Greenpeace Indonesia menyebutkan, pada semester pertama 2016, tingkat polusi udara Jakarta juga pada tahap sangat mengkhawatirkan yaitu berada pada level 4,5 kali dari ambang batas yang ditetapkan WHO.

Buruknya kualitas udara ini terlihat dari Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) dimana Ibukota Jakarta angkanya lebih dari 100. ISPU adalah laporan kualitas udara yang menjelaskan seberapa bersih atau tercemarnya kualitas udara dan bagaimana dampaknya terhadap kesehatan setelah menghirup udara tersebut selama beberapa jam/hari/bulan.

Kualitas udara Jakarta masuk dalam kondisi ISPU sehat hanya pada selama 70-80 hari dalam setahun. Sementara pada hari kerja mulai Senin hingga Jumat, ISPU Jakarta tergolong tak sehat. Hal ini sesuai dengan dari data badan WHO bahwa lebih dari 80% orang yang tinggal di kota-kota besar di seluruh dunia memang terpapar polusi udara melewati ambang batas badan kesehatan dunia tersebut. Salah satu solusi mengurangi paparan udara berbahaya ini ialah menggunakan masker berbahan tebal.

Maka, memilih kendaraan hemat bahan bakar fosil seperti motor listrik jadi salah satu solusi untuk menanggulangi pencemaran udara. Hal ini perlu segera dicarikan solusi sebelum kasus kematian karena polusi ini benar terjadi di negara kita. Meski saya belum menemukan angka kematian karena paparan polusi ini.

Apalagi pemerintah mulai ambisius mengejar pertumbuhan ekonomi setinggi-tingginya, meski harus melupakan kesehatan lingkungan kita bersama.

Maka, apakah birunya langit kota-kota di Indonesia utopia belaka? Semoga semasa hidup kita masih bisa melihat langit Jakarta yang indah karena birunya, bukan karena abu-abu yang membuat mata perih melihatnya.

Avatar

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Tentang Penulis

Avatar

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.