Locita

Alexis Ditutup, Prostitusi? Ondeh Mandeh

Ilustrasi: (Sumber foto: Jawapos.com

Dua puluh ribu rupiah. Ya, hanya sebanyak itu seorang wanita dengan usia hampir berkepala empat dibayar oleh seorang pelanggannya dipinggir rel kereta api beberapa tahun yang lalu. Wanita yang saya lihat berpakaian seksi dan berdandan menor. Saya yang kala itu masih mahasiswa merenung, kalau mau nakal boleh juga ini sekali seminggu. Tentu saja tidak saya lakukan.

Sepekan terakhir ini jagad maya Indonesia riuh lagi. Gubernur Jakarta baru, Anies Baswedan, tidak memperpanjang izin Hotel Alexis. Ditengarai alasannya di hotel itu terdapat prostitusi. Gubernur sebelumnya, Ahok, pernah menyatakan bahwa di lantai 7 hotel Alexis terdapat surga dunia. Pihak Alexis membantahnya, yang mereka miliki hanya griya pijat dan spa, tidak ada bisnis lendir tersebut.

Prostitusi merupakan profesi yang hampir ada disepanjang sejarah manusia. Bahkan di masyarakat primitifpun sudah ada transaksi seks tersebut. Melissa Hope mengatakan dalam Encyclopedia of Prostitution and Sex Work bahwa catatan antropolog menunjukkan pada masyarakat primitif biasanya ada seorang wanita yang hidup diluar kampungnya terlibat dalam prostitusi. Dikatakan juga bahwa pada masyarakat Mesir kuno prostitusi termasuk penyumbang biaya untuk membangun piramida. Di Yunani kuno malahan ada stratifikasi sendiri untuk prostitusi.

Kalau merujuk sejarah mengenai seksualitas, Ensiklopedia tersebut menunjukkan pada tahun ke – 18 sebelum Masehi Roma sudah melarang perzinaan dengan wanita terhormat sekaligus mencegah perkawinan antara prostitusi dengan orang merdeka. Namun pada tahun 40 M Kaisar Caligula malah mengambil pajak dari prostitusi. Dibelahan dunia lain, Tiongkok, pada abad ke 7 M Dinasti Tang mulai menghubungkan antara orang terpelajar dengan pekerja seks dalam bentuk puisi.

Dibagian dunia Islam, Kesultanan Turki Usmani, lain lagi ceritanya. Menurut James E. Baldwin dalam Prostitution, Islamic Law and Ottoman Societies hukum terhadap prostitusi agak samar-samar. Paktek hukum terhadap orang yang jelas berzina dan para prostitusi dibedakan. Para pelaku prostitusi biasanya dibuang dari lingkungannya.

Di Indonesia sendiri catatan sejarah mengenai prostitusi cukup mengejutkan. Penelitian Terence H. Hull yang berjudul From Concubines to Prostitutes: A Partial History of Trade in Sexual Services in Indonesia yang dipublikasikan tahun ini mencatatnya dengan apik. Dia menyatakan bahwa prostitusi moderen di Indonesia bisa dilacak ke zaman Raja Jawa dimana perempuan sebagai komoditas merupakan bagian integral dari sistem feodal.

Salah satu tanda kekuasaan Raja adalah banyaknya selir yang ada di istana. Beberapa selir merupakan anak dari para bangsawan sebagai tanda loyalitas mereka pada sang Raja. Lainnya adalah hadiah dari beberapa Kerajaan. Dan ada juga selir yang merupakan bagian dari masyarakat kelas bawah yang diberikan oleh keluarganya untuk mendapatkan segenggam posisi di keraton.

Beberapa daerah terkenal sebagai penyuplai selir dimasa lalu. Diantaranya adalah Indramayu, Kuningan, Pati, Jepara, Malang dan Banyuwangi. Daerah-daerah ini menurut Hull adalah penyuplai prostitusi masa kini di Indonesia.

Pada masa Hindia Belanda industri seks semakin meluas. Salah satu faktor utama adalah banyaknya tenaga asing yang masih single masuk ke Nusantara pada waktu itu. Sementara Pemerintah Hindia Belanda dan juga penduduk lokal memahami perkawinan resmi antar ras berbahaya. Karena itu kohabitasi (tinggal serumah tanpa ikatan perkawinan) menjadi pilihan bagi pria Eropa dan dibiarkan oleh pemimpinnya.

Beberapa Masalah Prostitusi

Ditutupnya Alexis karena dituduh melakukan aktivitas prostitusi bukan berarti berhentinya aktivitas lendir diluar pernikahan itu. Sebab masih banyak lagi tempat-tempat prostitusi baik secara terlokalisasi maupun terselubung. Selain masalah aktivitasnya ada lagi beberapa hal yang menuntut berfikir keras untuk menyelesaikannya.

Prostisusi semakin meluas karena persoalan bahasa yang terkadang semakin lembut. Pada masa lalu orang dengan jelas menyebut pelacur untuk menyebut perempuan yang menjual dirinya. Tahun 2000-an awal istilahnya populer menjadi Wanita Tuna Susila (WTS). Belakangan istilah ini berubah lagi menjadi Pekerja Seks Komersial (PSK). Seakan-akan pekerjaan ini sudah diterima dalam masyarakat luas layaknya profesi lain. Dengan alasan muatan bahasa yang kurang efek moralnya, pelakunya pun kurang terbebani oleh profesinya.

Masalah berikutnya adalah ketidakadilan masyarakat dalam memandang prostitusi. Seringkali yang disalahkan adalah perempuan yang melakoni profesi jual tubuh itu. Padahal hadirnya profesi itu karena adanya pihak laki-laki yang menginginkannya. Artinya semakin banyak prostitusi menjamur maka semakin banyak pula laki – laki yang membutuhkannya. Kalau laki – laki bisa menyalurkan dorongan biologisnya dengan jalan yang sah, tentu konsumen para pekerja seks perempuan semakin berkurang.

Linear dengan hal itu adalah fenomena kehadiran prostitusi laki – laki. Gigolo, begitu orang menyebutnya. Mereka dibayar oleh perempuan berduit mulai dari sekedar  menemani ngobrol hingga menjadi kawan lalok (minang: teman tidur).

Masalah terakhir adalah mengenai kebijakan politik. Membubarkan satu tempat prostitusi mempunyai konsekuensi sendiri. Misalnya, kemana para prostitusi itu pergi setelah tempat mangkalnya dibubarkan. Ketika tempat prostitusi dibubarkan harus disediakan pekerjaan bagi mereka sebagai penyambung ekonomi. Jika tidak maka harus siap dengan munculnya tempat prostitusi terselebung secara sporadis.

Jujur dan harus diakui bahwa aktivitas prostitusi membuat dilema. Ketika para pekerja seks baik pria maupun wanita dilokalisasi maka cerita akan berubah, bahwa seorang pemimpin berikut masyarakat dibawahnya seakan-akan menerima keberadaannya. Namun apabila dilarang sepenuhnya, maka situasi menjadi tidak terkontrolnya aktivitas itu berikut dengan konsekuensi sosial, moral dan kesehatan yang ditimbulkannya.

Lantas harus bagaimana? Antahlah yuang

Avatar

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Tentang Penulis

Avatar

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.