Locita

Papua Tak Hanya Soal Freeport

dua bocah Papua di Merauke (foto: Yusran Darmawan)

Divestasi, kelanjutan pembangunan smelter, dan pemberitaan lainnya tentang Freeport menjadi perbincangan yang berterusan. Entah kapan soal Freeport ini tuntas. Hanya saja, dalam pelbagai dimensi Papua, banyak hal yang tetap perlu dikabarkan.

Demikian pula perkelahian dua anak mabuk di sudut kota Sorong, dijadikan berita di media arus utama. Sehingga menjadi kesan ketidakamanan sebuah kota. Padahal, di kota manapun di dunia, selalu saja ada orang mabuk. Tak hanya di Papua saja. Bahkan di Rusia, meminum vodka justru sambil jalan untuk menghalau dingin.

Jikalau Malala Yousafzai dianugerahi hadiah Nobel karena perjuangannya untuk pendidikan, di seluruh pelosok Papua, menjadi rumah bagi pendidik yang mendedikasikan hidupnya untuk mempertahankan sekolah-sekolah supaya terus bisa beroperasi. Walau hanya seorang saja mengajar untuk enam kelas. Mereka sejatinya juga peraih nobel, hanya saja karena tidak dikabarkan, maka terlupakan begitu saja. Mereka sama hebatnya dengan Melala.

Begitu juga dengan peserta didik. Sejak sekolah dasar mereka sudah mampu mendayung sampan untuk sampai ke sekolah. Memasuki jenjang sekolah menengah, tidak sedikit diantara mereka harus berpisah dengan keluarga demi memperoleh pendidikan. Hanya karena di pulau mereka hanya tersedia sekolah dasar saja. Demi pendidikan, kesempatan bertemu keluarga jadi berkurang. Bahkan memerlukan hitungan tahun untuk sesekali berjumpa.

Belum lagi, perawat, bidan, dan tenaga kesehatan lainnya. Jauh dari hiruk-pikuk dunia global. Mereka berusaha menjadi sandaran bagi para pasien. Walau harus meninggalkan keluarga dan mengorbankan dirinya sendiri.

Ketiadaan akses kepada layanan kesehatan sepenuhnya berusaha diatasi oleh mereka yang bahkan tidak bisa juga berbuat apa-apa. Merekalah pejuang kemanusiaan.

Papua adalah tanah yang menjadi bersemainya harmoni, persaudaraan, dan kesepahaman. Etnis, suku, dan identitas tidak lagi menjadi penting. Kerjasama dan sinergi lintaskultural terjalin dengan erat.

Bahkan perjumpaan etnis di Papua merupakan yang terbesar berbanding dengan wilayah Indonesia lainnya. Cerminan ini bisa dilihat dari komposisi anggota dewan dimana wilayah seperti Kota Sorong, dengan walikota dari Ayamaru, wakil walikota dari Bugis.

Sementara wakil ketua DPRD berasal dari Batak. Kepala dinas justru keturunan Alhamid. Begitu pula kepala dinas lain dari Toraja. Rekanan pemerintah kota berasal dari Makassar. Bahkan laman ini tidak akan cukup kalau sekadar menuliskan keberagaman itu.

Tatkala paduan suara gereja setanah Papua berkumpul di Kaimana untuk lomba, justru ketua panitianya adalah muslimah. Begitu pula panitia lainnya, tidak kurang dari 80 orang turut menyumbangkan tenaga dan kemampuannya untuk menyukseskan acara tahunan tersebut.

Sebelumnya di Bintuni begitu juga. Pelaksanaan musabaqah tilawatil Quran tidak hanya dilaksanakan masyarakat muslim. Warga Bintuni yang tidak menganut Islampun turut bekerja demi kesuksesan acara. Sebagaimana pula MTQ di Sorong, Raja Ampat, Manokwari, dan setiap tempat yang menjadi tuan rumah MTQ sebelumnya.

Dampaknya, MTQ di tingkat nasional Provinsi Papua Barat selalu meraih posisi sepuluh besar. Bahkan mengalahkan provinsi lain yang justru dikenal dengan Serambi Madinah.

Padahal dengan status sebagai “Kota Injil”, justru kesempatan pembinaan baca-tulis Alquran mendapatkan dukungan dan kebijakan untuk berkembang.

Saat perayaan idul adha, qurban yang dihelat setelah pelaksanaan salat ied. Secara rutin sejak puluhan tahun, keluarga-keluarga Protestan dan Katolik di lingkungan masjid Attaubah Malanu Kota Sorong turut menyediakan hewan qurban untuk dibagikan kepada warga sekitar.

Agama dan kepercayaan, bagi masyarakat Papua semata-mata hanyalah pilihan pribadi. Semuanya tergantung kepada keyakinan yang sepenuhnya hak individual.

Dengan demikian, tidak ada pilihan lain kecuali dengan memberikan kemerdekaan untuk beragama. Adapun soal hubungan sesama manusia tetap harus dijaga dengan tidak mempersoalkan sama sekali pilihan beragama itu.

Wamena, di pegunungan Papua tengah menggambarkan pertemuan antara tradisi dengan Islam dimana untuk mahar, beberapa keluarga menyerahkan babi.

Walau mereka sudah menerima Islam sebagai agama pilihan, tetap saja menjadikan hitungan babi sebagai ukuran prestise. Termasuk guru mengaji yang juga memelihara babi dengan keperluan untuk disumbangkan ke keluarga Protestan atau Katolik yang memiliki hajat.

Di Fakfak, satu tunggu tiga batu. Kalimat ini menjadi falsafah bahwa walau ada tiga agama yang berbeda, mereka tetaplah satu untuk menopang keluarga yang sama. Justru perbedaan dengan atas nama persaudaraan tidak dimasalahkan sama sekali. Justru mereka punya kesempatan untuk saling mendukung.

Sementara di Raja Ampat, dikenal dengan filosofi satu rumah empat pintu. Dalam sebuah bahkan berkumpul empat agama berbeda.

Ini menjadi tanda penerimaan perbedaan namun tetap saling menghormati antara satu dengan lainnya. Mereka dengan mudah menerima perbedaan agama dan tidak risau dengan apa yang diyakini orang lain, bahkan anggota keluarga sekalipun.

Masih di Raja Ampat, dan seentaro kepulauan Papua, praktik sasi menjadi kearifan tersendiri. Masyarakat menjaga laut dengan senantiasa mengutamakan kepentingan laut itu sendiri. Sehingga tidak terjadi eksploitasi. Dengan mengatur wilayah penangkapan ikan, akan menjadi sebuah kesempatan pemulihan biota laut. Bagi yang melanggar akan mendapatkan hukuman sosial. Mereka akan merasakan perihnya tersingkirkan dari lingkungannya sendiri.

Dengan sasilah, lingkungan tetap terjaga. Alam tidak dieksploitasi untuk kepentingan material semata. Mewariskan ke anak cucu dan memastikan bahwa alam justru tetap menjadi sandaran kehidupan adalah salah satu kemanfaatan praktik sasi dilaksanakan. Bahkan sasi diadaptasi menjadi praktik keberagamaan, sehingga dikenal dengan sasi masjid, sasi gereja.

Sekali lagi, Papua tak hanya soal Freeport. Sehingga dalam banyak hal, justru Papua adalah tanah yang damai. Tanah dimana limpahan ikan laut yang dapat disantap setiap saat. Belum lagi, pegunungan yang juga menyediakan anugerah alam yang justru tidak dapat ditemukan di tempat lain.

Ismail Suardi Wekke

STAIN Sorong

Tentang Penulis

Ismail Suardi Wekke

STAIN Sorong

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.