Locita

Menakar Aseng Asing dalam Bingkai Pancasila

galena.co.id

PANCASILA sudah bergerak dari konsensus menjadi kultur masyarakat. Kulturisasi Pancasila ini perlu ditingkatkan lebih lanjut. Sebab hari ini masih pada tataran klaim bahwa semua aktivitas berlatar belakang kelompok berdasarkan dan tidak bertentangan dengan Pancasila. Atau, dapat dikatakan orang berebut menjadi paling Pancasila dibandingkan yang lain.

Kultur yang sedemikan rupa tidak boleh dipertahankan dengan lama. Sebab akan mendegradasikan makna Pancasila itu sendiri sesuai dengan tafsir satu kelompok. Padahal Pancasila merupakan  dan harusnya menjadi sesuatu yang inklusif, mewakili semua golongan di Indonesia.

Terkait hal ini saya teringat istilah negatif yang belakangan sering muncul, aseng dan asing. Sebuah istilah untuk menyudutkan kelompok tertentu.

Istilah aseng menyiratkan dua hal, yaitu kelompok etnis Tionghoa dalam negeri dan negara Tiongkok yang juga banyak menanamkan modalnya di Indonesia. Etnis Tionghoa dalam negeri kerap menjadi sasaran sinisme sebab mereka maju secara ekonomi ketimbang kelompok etnis yang lain. Hal ini semakin mengental karena mereka dianggap sebagai pendatang, bukan penduduk asli layaknya etnis Jawa, Bugis, Minang dan sebagainya. Intinya, mereka bukan pribumi namun mereka kaya ditengah-tengah pribumi.

Untuk makna kedua merupakan cerminan dari tingginya investasi negeri tirai bambu di Indonesia. Sebagian besar investasinya dikerahkan dalam bidang infrastruktur. Belakangan, Indonesia menawarkan lagi proyek infrastruktur sebanyak 217 triliun, seperti diberitakan oleh bisnis.com.

Istilah asing biasanya menyiratkan kemarahan masyarakat sebab banyak sekali perusahaan asing masuk ke Indonesia, khususnya dari kawasan Barat. Para pemodal luar negeri datang untuk menyuntikkan dana mereka dalam mendukung pertumbuhan ekonomi. Mereka juga turut mendominasi pengelolaan sumber daya alam.

Misalnya perusahaan Chevron, asal Amerika Serikat, pengelola panas bumi di Jawa Barat dan minyak di Riau. Kemudian ada lagi British Proteleum dari Inggris yang beroperasi dalam mengeksplorasi gas di Papua. Masih banyak lagi daftarnya kalau di list satu per satu.

Istilah asing sebetulnya juga mengalami bias. Sebab tidak hanya negara barat namun ada kelompok asing lainnya yang juga mendominasi kehidupan masyarakat Indonesia, seperti Arab dan India. Untuk kelompok Arab ini merupakan pendakwah Islam semenjak datang ke Indonesia.

Mereka tidak mendapatkan stereotip yang kuat dikalangan masyarakat Indonesia, sebab memiliki hubungan keagamaan yang begitu kuat dengan sebagian besar masyarakat. Pun, kelompok masyarakat ini tidak terlalu menonjol dari segi ekonomi.

Kelompok India juga memainkan peran penting dalam kehidupan masyarakat, khususnya dalam bidang perfilman seperti yang dilakukan oleh keluarga Punjabi. Dulu selain mereka yang datang sebagai pedagang, ada juga yang merupakan pasukan Inggris sewaktu datang ke Nusantara pada masa lalu. Namun situasi mereka relatif sama dengan kelompok Arab, mereka tidak begitu menonjol dalam bidang ekonomi. Oleh sebab itu mereka hampir tidak pernah mendapatkan julukan sinis dari masyarakat.

Deskripsi diatas mengerucutkan istilah aseng dan asing pada satu hal,masalah ekonomi. Baik pada kelompok sosial dalam internal masyarakat Indonesia maupun sebagai respon terhadap kekuatan ekonomi yang datang dari luar negeri.

Untuk itu, masalah yang terkandung dalam istilah tersebut mesti dipilah-pilih. Kalau tidak disparitas sosial dan ekonomi akan semakin kentara dan menjadi potensi konflik yang laten dalam kehidupan masyarakat. Seperti yang terjadi terhadap masyarakat tionghoa pada peristiwa 1998.

Misalnya dalam istilah aseng, tidak bisa dipukul rata antara etnis Tionghoa sebagai kelompok yang sah sebagai warga negara Indonesia dan negara Tiongkok yang memang kekuatan ekonominya tengah maju. Untuk kategori pertama, mereka tidak dapat dianggap lagi sebagai pendatang sebab sudah hidup dan beranak pinak di Indonesia. Sebagian besar mereka memang kaya, sebab ulet dan tekun dalam berusaha.

Disisi lain ada hal penting yang perlu juga diperhatikan oleh kelompok Tionghoa. Menurut hemat saya kebanyak etnis Tionghoa hidup dengan eksklusif. Mereka kebanyakan bergaul dengan kelompok etnis mereka saja, tidak begitu berbaur dengan etnis lain. Kecuali bagi orang yang menjadi pedagang kaki lima seperti di Singkawang atau ditataran elit politik dan pengusaha.

Eksklusifitas ini membuat masyarakat semakin tidak memahami situasi Tionghoa. Orang hanya mengerti, bahwa mereka kaya. Masyarakat tidak dapat belajar dari mereka, mengenai kehidupan sehari-harinya, termasuk juga bagaimana kerasnya usaha mereka mencapai kehidupan yang makmur.

Tiongkok sebagai kekuatan ekonomi merupakan aspek yang harus diperhatikan dengan serius. Sebab dengan kekuatan itu mereka bisa melakukan ekspansi dalam bentuk pemberian bantuan modal investasi di Indonesia.

Ini merupakan dilema tersendiri. Disatu sisi Indonesia membutuhkan suntikan modal untuk membantu pertumbuhan ekonomi, disisi lain ini juga mengancam kedaulatan ekonomi Indonesia. Sebab dalam urusan ekonomi, apalagi negara, tidak ada bantuan yang sifatnya gratis.

Kekuatan asing juga perlu diperhatikan layaknya kekuatan ekonomi Tiongkok. Disinilah perlunya belajar dari disiplin geopolitik, seperti mengenai pentingnya arti peta. Selama ini pemahaman tentang peta, setidaknya yang saya pahami, hanya terbatas pada perbatasan dan siapa negeri jiran Indonesia. Pemerintah mestinya menyuguhkan penekanan atas peta sumber daya alam Indonesia.

Misalnya dimana lokasi sumber daya mineral dan energi yang selama ini menjadi incaran asing. Begitu juga sumber daya alam pertanian seperti produsen padi, jagung termasuk juga potensi sumber air yang sudah dan berpotensi untuk dikapitalisasi oleh perusahaan asing melalui anak perusahaanya di Indonesia.

Pentingnya kesadaran geografis ini, seperti yang diusulkan Ishak Rafick, supaya orang tidak berbondong-bondong mencari pekerjaan administratif. Begitu juga halnya dalam pendidikan, ketika masyarakat mencermati sumber daya potensial di daerah mereka masing-masing tentu pilihan jurusan mereka belajarpun bisa diarahkan. Intinya, masyarakat sadar bagaimana pengelolaan sumber daya alam disekitar mereka meningkat dan pengelolanya adalah mereka sendiri.

Kulturisasi Pancasila menjadi sesuatu yang inklusif ini mempunyai banyak keuntungan. Masyarakat akan semakin berbaur dengan yang lain dan menciptakan kerjama yang apik dalam pembangunan bangsa.

Istilah aseng dan asing tidak diperlukan kalau hanya untuk mendiskreditkan kelompok etnis tertentu. Sebab itu bertentangan dengan poin persatuan Indonesia yang termaktub dalam Pancasila.

Dimensi lainnya, akan meningkatkan kesadaran masyarakat dari sekedar sinisme simbolik menuju aktivitas yang konkrit dalam meningkatkan ekonomi. Pada titik ini muncul harapan, bahwa keadilan sosial (terutama dalam ekonomi) dapat terwujud dimasa datang.

Avatar

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Tentang Penulis

Avatar

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.