Locita

Kesaktian Tidak Jauh Jatuh Dari Pohonnya

Ilustrasi: (playbuzz.com)

Demokrasi oligarki ditandai dengan pertarungan politik yang didominasi oleh koalisi kepentingan yang predatoris, yang mendorong peminggiran kekuatan masyarakat sipil – Fukuoka dalam M. Ridha (2016;1)

Semakin mendekati pemilu serentak tahun 2019, beragam ujian menghinggapi tubuh partai politik yang diketuai Papa Setya. Sebagai salah satu kontestan yang konsisten memenangkan hati rakyat karena tidak pernah terlempar dari lima besar di setiap agenda pemilu. Bukan jaminan bagi partai ini akan mudah lolos dari beragam ujian.

Terlebih agenda pemilihan umum yang desainnya berubah 180° setelah gelombang reformasi membawa angin segar bagi kehidupan demokrasi. Dari yang pura-pura pemilu menjadi pemilu betulan.

Banyak yang memprediksi partai ini akan terjungkal setelah bergulirnya reformasi, prediksi yang salah besar. Pohon beringin semakin kokoh, mengakar, dan tentu saja semakin disakralkan.

Tiga puluh dua tahun kesetiannya mengawal agenda Pelita (Pembangunan Lima Tahun) berjilid-jilid mendapat balasan setimpal. Kesaktian partai ini telah dibekali dengan nutrisi yang luar biasa melimpah selama kekuasaan orde baru.

Tentu saja kesaktian yang dipertontonkan langsung oleh ketua umum partai berlambang pohon beringin ini sesungguhnya hanyalah shortlist dari rekam jejak kesaktian orang-orang yang menghuni (partai berlambang) pohon beringin ini.

Publik masih ingat ustad politisi Misbakhun yang memilih pindah bendera dari PKS ke partai ini dengan status bebas transfer. Kesaktian partai ini jadi alasan utama sang ustad politisi berpindah haluan politik.

Presiden partai Misbakhun di partai sebelumnya tidak memiliki kesaktian, vonis 18 tahun karena suap kuota impor daging dijalani hingga kini. Belut bukan, oli juga tidak.

Lahirnya beragam partai politik dengan corak politik yang beragam sejak orde reformasi juga tidak terlepas dari sejarah panjang yang sudah dijalani oleh partai ini. Partai berlambang beringin merupakan partai yang paling aktif mulai dari membidani lahirnya partai politik baru hingga mendistribusikan kader-kadernya.

Partai Nasdem, Partai Demokrat, Partai Gerindra, Partai Hanura hingga Partai PSI harus banyak berterima kasih kepada partai ini. Sayangnya kesaktian partai-partai ini menjadi tanda tanya besar. Walaupun perolehan suara terbilang tinggi, partai Nasdem yang baru melewati satu periode pemilu harus merelakan fungsionarisnya Patrice Rio menjalani vonis tindak pidana rasuah.

Tapi partai kuning juga patut berbangga dengan anak manis yang dimilikinya seperti Indra J. Piliang, Yuddy Chrisnandi, Wiranto, atau Ferry Mursidan Baldan.

Sebelum Papa Setya terpilih menjadi ketua partai, partai ini sebelumnya diketuai oleh pengusaha sekaligus bos media di bawah naungan Bakrie Group. Masih ingat bencana lumpur Lapindo?

Rezim SBY sempat kerepotan menangani multi bencana yang disebabkan oleh lumpur beracun dan berbahaya di wilayah kabupaten Sidoarjo. Sang ketua saat itu menjabat sebagai Menkokesra. Kerepotan awal terjadi saat hendak mengubah definisi dari bencana manusia menjadi bencana alam. Bayangkan kesalahan yang dilakukan korporasi mau ditimpakan menjadi bencana alam, bencana yang tidak bisa dihindari jika sudah terjadi.

Efeuisme ala kekuasaan kemudian menamai peristiwa ini sebagai bencana lumpur Sidoarjo. Pengadilan bahkan saat itu menolak gugatan yang diajukan oleh Walhi perihal kategori bencana lumpur ini.

Selama ini, berkembang dua hipotesis tentang penyebab semburan lumpur di Sidoarjo. Hipotesis pertama, semburan terjadi akibat adanya kesalahan penerapan teknologi dalam pengeboran. Kedua, terjadinya semburan disebabkan oleh faktor alam.

Kedua hipotesis tersebut melahirkan pertanggungjawaban yang berbeda, terkait dengan pihak mana yang harus memikul tanggung jawab atas bencana lumpur yang menimpa warga di 12 desa dalam 3 kecamatan.

Kerepotan-kerepotan berikutnya adalah beban APBN yang begitu besar tersedot untuk menangani kesalahan yang (sebenarnya) dilakukan oleh korporasi. Pada tahun 2015 melalui mekanisme APBN negara masih menganggarkan dana sebesar 773 miliar sebagai dana talangan untuk masyarakat yang terpapar lumpur Lapindo.

Kedahsyatan semburan lumpur ini dari data resmi BPLS (sudah dibubarkan sejak era Jokowi) pada tahun 2013 dalam Anis Farida (2013;151) telah menenggelamkan 12 desa di 3 kecamatan (39.700 jiwa, 11.241 bangunan, dan 362 ha sawah) di Porong, Tanggulangin, dan Jabon.

Belum usai kisruh bencana lumpur, sang ketua saat itu hampir saja melaju di bursa pencapresan tahun 2014. Ide besar Atap Rumah Bangsa (ARB) nyatanya hanya bisa menjadi Atap Rumah Bakrie atau Atap Rumah Beringin, hanya melindungi lingkar korporasi dan kuasa politik yang dimilikinya.

Lain di lumpur lain pula di lapangan hijau. Sepak bola di Indonesia sebagai olahraga kerumunan, di mata politisi bisa begitu lihai dipakai sebagai free media yang tujuannya tidak jauh dari hal ihwal citra. Mc.Nair dalam Fajar Junaedi (2014;96) mengatakan bahwa free media dalam komunikasi politik telah menjadi pilihan para aktor politik, dimana aktor politik dapat memperoleh ekspos tanpa harus membayar.

Kerumunan di sepak bola adalah jalan pintas menggeret popularitas dan memperluas dominasi kekuasaan. Sepak bola di Indonesia baik itu secara permainan ataupun organ federasinya harus dikuasai kedua-duanya.

Selain sebagai free media bagi para politisi, dana yang berputar dalam pengelolaan sepak bola juga bisa dijadikan modus untuk bancakan. Terakhir, tangkap tangan yang dilakukan KPK terhadap Walikota Cilegon Tubagus Iman Ariyadi (Ketua DPD Partai Golkar Cilegon periode 2014-2019) memanfaatkan rekening klub Cilegon United untuk transfer dana hasil korupsi.

Jangan lupa, dalam sejarah kepemimpinan di tubuh PSSI bahkan pernah dipimpin oleh sang ketua dari balik Hotel Prodeo. Kemajuan prestasi sepak bola ternyata tidak hanya ditentukan oleh postur tubuh para pemain, postur kekuasaan politik yang beririsan dengan federasi sepak bola juga turut menentukan.

Kesaktian Papa Setya yang terpublikasi saat ini tidak hanya berasal dari kelihaian individu papa Setya sebagai politisi senior, ada rekam jejak kesaktian yang diwariskan dari para pendahulu. Jon Ria Ukur (Jonru) kalau memang benar mau terjun secara total di politik sebaiknya tidak memilih PKS.

Kesalihan Jon Ria Ukur harus dibentengi oleh kesaktian yang bisa didapat dari keanggotaan partai Papa. Ah, jika saja Carlo Ancelotti terdaftar secara resmi sebagai anggota partai milik papa, pemecatan dari manajemen Bayern Munchen tentu tidak secepat ini.

Avatar

Ade Saktiawan

Alumnus FKM Unhas, saat ini sedang melanjutkan studi di Magister Hukum Kesehatan UGM.

Tentang Penulis

Avatar

Ade Saktiawan

Alumnus FKM Unhas, saat ini sedang melanjutkan studi di Magister Hukum Kesehatan UGM.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.