Locita

Menjawab Menteri Agama, Apakah Kepercayaan Itu Agama?

Ilustrasi (Sumber foto: kaskus.co.id)

MAHKAMAH Konstitusi (MK) telah memutuskan bahwa status kelompok penghayat kepercayaan pada akhirnya sama dengan agama resmi yang telah diakui sebelumnya. Dikatakan sama sebab kelompok  itu sudah dapat mengisi kolom agama di KTP dan juga KK mereka dengan penghayat kepercayaan. Mereka sudah berhasil setara setidaknya secara administratif dengan agama yang sudah terlebih dahului diakui.

Sebagaimana diketahui terdapat banyak kelompok penghayat kepercayaan di Indonesia. Misalnya Parmalim agama tradisional Batak, Kaharingan yang dipraktekkan suku Dayak secara turun temurun dan Marapu, sebuah kepercayaan yang dianut sebagian penduduk pulau Sumba.

Jawa Pos memberitakan terdapat sekitar 187 penghayat kepercayaan yang ada di data Kementererian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Uniknya  Sunda Wiwitan justru tidak masuk dalam daftar tersebut. Cukup mengejutkan sebab Sunda Wiwitan merupakan salah satu kelompok penghayat kepercayaan yang cukup populer di Indonesia.

Kegaduhan tentu saja hadir menyambut putusan MK tersebut. Ada yang berkomentar dengan mempertanyakan, apakah agama sama dengan kepercayaan. Pihak lain menyatakan bahwa hal ini mengaburkan definisi agama. Tidak ketinggalan juga yang cukup mengapresiasi putusan tersebut.

Bagi saya yang paling menarik adalah pertanyaan Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin yang dimuat di Republika, mengenai apakah kepercayaan itu agama. Kalau kita periksa pertanyaan Menag tersebut bisa dipahami mengapa orang berpolemik terhadap putusan MK itu.

Sebab sudah jamak dipahami bahwa agama dan aliran kepercayaan suatu hal yang berbeda. Bahkan para penghayat kepercayaan dikatakan menyimpang dari apa yang disebut agama.

Para pemeluk agama seperti Islam, Kristen (baik Katolik atau Protestan) dan Yahudi tentu menganggap agama sebagai sesuatu yang datang Tuhan. Terlepas dari perdebatan apakah agama sama dengan konsep addin dalam konteks Islam.

Hal ini sudah berlangsung semenjak Nabi Adam turun ke Bumi. Keturunan Nabi Adam yang menjadi Rasul dibekali oleh Allah teks suci seperti Daud dengan Zabur, Musa dengan Taurat, Isa dengan Injil dan Muhammad dengan Al Quran. Teks inilah yang kemudian menjadi pedoman bagi setiap pemeluknya untuk menjalankan ritualnya masing-masing.

Narasi umum ini yang menjadikan orang kaget atas disahkannya kelompok penghayat kepercayaan menuliskan selain agama yang diakui di KTP. Padahal jika dipandang dari kacamata teoritis mestinya tidak ada yang perlu diperdebatkan.

Seorang sosiolog, Emile Durkheim, dalam bukunya The Elementary Forms of Religious Life mengatakan bahwa agama merupakan sistem yang padu mengenai keyakinan dan praktek terkait hal hal sakral berupa sesuatu yang dijauhi dan dilarang dimana keyakinan dan praktek itu menyatukan semua pengikut kedalam suatu komunitas moral yang disebut gereja.

Tentu saja dalam definisi Durkheim diatas Gereja tidak berarti tempat ibadah umat Kristiani seperti yang jamak dipahami hari ini. Hal itu bisa berarti komunitas agama apa saja.

Mengikuti alur definisi Durkheim setidaknya ada tiga neraca dalam melihat apakah sesuatu bisa disebut agama atau tidak. Ketiga hal itu adalah keyakinan, praktek dan mempunyai komunitas moral yang kesemuanya itu mempunyai aspek sakralitas. Jadi apabila suatu kelompok penghayat kepercayaan sudah memenuhi tiga neraca diatas, maka sebetulnya dia sudah sah disebut suatu kelompok agama.

Kita ambil contoh, Sunda Wiwitan untuk mengaplikasikan tiga kriteria agama diatas.

Menurut Ira Indrawardana dalam artikelnya “Berketuhanan Dalam Perspektif Kepercayaan Sunda Wiwitan” di jurnal Melintas, kelompok penghayat kepercayaan tersebut monoteis. Mereka yakin atas Batara Tunggal (Yang Maha Esa) atau disebut juga Sanghyang Keresa (Yang Maha Kuasa).

Secara ritual, orang mungkin mengenal upacara Seren Taun yang dilaksanakan setahun sekali oleh masyarakat Sunda Wiwitan. Seremoni ini bertujuan sebagai ungkapan kesyukuran mereka kepada Yang Maha Kuasa. Lebih dalamnya, mereka bahkah mempunyai konsep yang sangat filosofis untuk menata perilaku sehari-hari yang disebut dengan pikukuh tilu.

Dari kriteria terakhir yaitu, komunitas moral. Sudah jelas bahwa Sunda Wiwitan bukanlah kepercayaan individu. Mereka memiliki komunitas yang didalamnya individu berkumpul. Bukti bahwa ajaran Sunda Wiwitan masih ada sampai saat ini cukup meyakinkan bahwa mereka berusaha menjaga tradisi leluhur dan diwariskan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam kacamata Durkheim diatas, dapat dikatakan bahwa kelompok Sunda Wiwitan sebetulnya adalah agama. Oleh sebab itu menjawab pertanyaan Menag Lukman, “Apakah kepercayaan sama dengan agama, dalam kasus Sunda Wiwitan?” Dapat dijawab, “Ya”. Saya secara apriori menganggap bahwa demikian juga halnya dengan kepercayaan lainnya di Indonesia.

Sahnya, penghayat kepercayaan masuk kolom administrasi sebagai suatu putusan hukum, mesti dihormati oleh seluruh warga negara. Dengan demikian warga negara yang tidak mengimani agama yang telah resmi diakui–Islam, Katolik, Protestan, Budha, Hindu dan Konghucu–dapat menjalankan ritual mereka dengan lebih tenang. Hal ini tentu juga akan berkosekuensi dengan mata pelajaran Pendidikan Agama di sekolah harus mengakomodir anak-anak dari kelompok penghayat kepercayaan tersebut.

Akan halnya kegaduhan yang ditimbulkan menurut saya itu wajar saja, dan tidak perlu dilanjutkan menjadi polemik yang besar mengingat tidak begitu banyak informasi mengenai agama lokal di Indonesia. Kalau kelompok pemeluk agama tidak menyepakati hal itu dapat menjadikannya sebuah tantangan bagi para pendakwah dan misionaris mereka.

Avatar

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Tentang Penulis

Avatar

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.