Locita

Menjadi Calon Kepala Daerah di Masa Pandemi

Saya mencoba membayangkan diri saya adalah seorang calon kepala daerah yang akan segera berkontes di pemilihan serentak pada tanggal 9 Desember 2020 nanti.

Sebagai calon yang baru dan belum memiliki pengalaman maupun belum sempat kalah/menang dalam sebuah pemilihan, dengan kerendahan hati saya berusaha mempelajari apa yang dilakukan oleh calon-calon yang bertarung pada pemilhan-pemilihan sebelumnya.

Ya tentu saja, tiap ada pemilihan saya begitu antusias untuk mengamati mereka semua. Mulai dari tingkat pemilihan walikota, gubernur maupun pemilihan anggota wakil rakyat yang dilaksanakan tahun sebelumnya bersamaan dengan pemilihan presiden dan wakilnya.

Bukan hanya mengamati bagaimana upaya dan strategi yang dibangun pasangan calon (paslon) beserta tim pemenangan. Hal menarik untuk menjadi sorotan juga tertuju pada pendukung setia. Rupanya yang membuat satu pemilihan menjadi menarik ialah para pendukungnya. Tidak hanya para calon yang berjuang, di bawah sana ada individu maupun kelompok yang juga menceburkan dirinya ke dalam kubangan politik—secara sukarela.

Berdasar dengan penilaiannya sendiri maupun dengan opini yang membentuk pandangannya dari masyarakat maupun di media sosial, seseorang rela berdiri tegak di barisan terdepan agar calonnya bisa memenangkan pemilihan ini.

Tentu yang lebih menarik lagi adalah ketika para pendukung ini saling beradu argumen memperlihatkan keunggulan masing-masing calonnya di media sosial masing-masing. Kefanatikan ini tidak terlepas dari peran serta paslon yang berambisi sehingga membentuk pengkotak-kotakan masyarakat ketimbang mengkita-kitakan, lebih cenderung memperlihatkan semangat perbedaan dibanding persaudaraan, tentu saja.

Jauh sebelum media sosial media menyita hari-hari kita. Di musim-musim kampanye panggung-panggung politik berdiri di satu tempat ke tempat lainnya. Yang dekat merapat, yang jauh mendekat. Begitu kira-kira istilahnya. Jujur saja, untuk mengumpulkan massa dalam jumlah besar bukanlah hal yang mudah. Ada uang bensin yang rela di keluarkan oleh paslon untuk memobilisasi massa demi mengubah Lapangan Karebosi menjadi lautan manusia, misalnya. Ataupun dengan kreatif mengadakan festival gerak jalan santai dengan iming-iming hadiah besar.

Jika bukan karena itu (baca: uang) tidak ada yang mau datang menghabiskan waktu ditambah berpanas-panasan mendengar janji-janji palsu, maksud saya janji-janji paslon. Tentu hal itu sah-sah saja, toh itu bukan bagian dari politik uang? Hanya sebagai uang jalan, istilahnya.

Berbicara tentang jani-janji. Kembali membayangkan diri saya berdiri di atas sebuah panggung besar yang dihadiri oleh pembesar partai koalisi yang mengusung saya. Saya akan berbicara lantang, membakar hadirin, riuh oleh teriakan ‘yang tidak jelas’. Seperti biasa saya hanya meng ‘copy-paste’ janji-janji paslon yang telah saya lihat sebelum-sebelumnya. Saya akan merebut simpati, menyentuh aspek yang dianggap penting oleh masyarakat, seperti janji pendidikan gratis, kesehatan, membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya: kesejahteraan.

Tidak cukup dengan janji-janji, anggap saja itu sebagai formalitas belakang. Tentu pikiran sesat ini hanya membebek dari cara berfikir paslon lain dan lantas juga diikuti oleh pemilih. Sebagai calon kepala daerah saya mesti mendekati lingkaran sosial masyarakat. Sebagai umat beragama tentu saya akan mendekat ke lingkaran tersebut, apalagi agama yang saya anut merupakan mayoritas di sini, ladang suara besar. Tidak peduli dengan ancaman ketidak keharmonisan yang sewaktu-waktu bisa meledak. Menjadi bagian dari “kita” itu harus. Sebab kadang persamaan kekitaan melahirkan solidaritas.

Setelah itu saya akan mendekati minoritas, bahwa mayoritas akan selalu melindungi yang minoritas. Tidak lupa lingkaran kekerabatan saya masuki. Kekerabatan suku. Ini juga sangat potensial untuk meraup banyak suara. Kadangkala juga memanfaat kekuasaan yang dipegang.

Tak cukup dengan taktik sosial semacam itu. perlu ada gerakan bawah tanah, yah mungkin sekali sudah sangat lumrah di masyarakat kita. Masyarakat juga mengamini cara-cara seperti itu. Ketika rakyat kecewa dengan kinerja kepala daerahnya dan melupakan janji-janjinya, itu urusan lain. Nanti kita bicarakan di pemilihan selanjutnya. Toh masyarakat juga lebih bersimpati terhadap calon yang memberinya sesuatu daripada yang tidak sama sekali. Masyarakat menilai apa yang didapatkan dari calon-calon ini, ketimbang menunggu yang baru sebatas janji—tidak pasti.

Di tengah pandemik covid-19 ini, mungkinkah semua yang saya rencanakan ini akan berjalan sebagaimana mestinya? Mungkinkah cara-cara kemarin masih bisa diterapkan di keadaan sekarang? Mengingat beberapa hal serba dibatasi dan terbatas. Tidak bisa mengumpulkan massa secara kerumunan, salah satunya. Semuanya harus berdasarkan dengan protokol kesehatan. Tapi setidaknya pembatasan ini bisa mengamankan biaya bensin, sewa gedung, sewa panggung dan artis-artisnya.

Bagaimana dengan janji-janji kampanye? Haruskah mengalami perubahan dan menyesuaikan dengan kondisi sekarang? Atau mungkin saja pandemik ini malah memudahkan untuk meraup banyak suara. Mengingat ada beberap sektor yang bisa dijadikan jualan, tentu persoalan ekonomi dan kesehatan hal utama.


Tulisan ini sama sekali tidak mengandung unsur sinisme, mungkin. Toh ini realita yang terjadi, dari tahun ke tahun. Percuma kita melakukan pemilihan terus menerus jika hanya melahirkan hal yang sama secara berulang-ulang. Jika seperti itu, bagaimana bisa melahirkan seorang pemimpin? Jika kita sendiri sebagai rakyat mengamini kelemahan-kelemahan para calon pemimpin.

Seperti hari ini, pemimpin-pemimpin kita sedang diuji habisan-habisan diperhadapkan dengan krisis di berbagai sektor yang diakibatkan oleh pandemik covid-19 dan bencana alam lainnya. Pandemi ini mengingatkan bahwa kompetensi adalah hal yang harus dimiliki seorang pemimpin, bukan sekadar citra, meminjam ungkapan Okky Madasari. Ternyata selain karena kemauan juga harus dibarengi dengan kemampuan untuk menjadi seorang pemimpin. Kita tidak ingin memili(h)ki pemimpin seperti itu bukan? Menjadi mau saja tidak cukup. Apalagi untuk sekadar membayangkan. Saya kemudian berhenti membayangkan.

Seandainya kamu calonnya, apa janji-janjimu?

Wallahu a’lam bishawab.

Muhammad Musmulyadi

Muhammad Musmulyadi

Masih Mahasiswa

Tentang Penulis

Muhammad Musmulyadi

Muhammad Musmulyadi

Masih Mahasiswa

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.