Locita

Menggugat PHP Kemanusiaan di Kamisan

Sumber foto: (ANTARA FOTO/Fanny Octavianu)

Sampai saat ini saya tidak menyesal sudah memilih Jokowi-JK di Pilpres 2014 yang lalu. Sejumput harapan yang diberikan benar-benar menjadi kenyataan. Mulai dari akselerasi pembangunan khusunya di Indonesia Timur, penyamaan harga BBM.

Juga yang sesuai wacana saya dengan terbitnya Peraturan Presiden RI Nomor 66 Tahun 2017 tentang Koordinasi Strategis Lintas Sektor Pelayanan Kepemudaan.

Sebagai pemimpin memang kita dituntut untuk berani mengambil sikap. Walaupun beda tipis dengan pelawak. Pelawak mesti menyenangkan semua pihak, pemimpin tak perlu repot asal sikapnya cermin dari beningnya akal dan jernihnya nurani.

Meski masa ada sedikit ragu yang mengganjal, bagaimana dengan komitmen mereka soal penuntasan masalah HAM di masa lalu. Tema ini seingatan saya yang membuat banyak migrasi suara dari swing voters ke pemilih ideologis pasangan ini.

Hari Kamis lalu, saya ikut hadir bersama Chicco Jerikho dan Rio Dewanto yang membawa mobil VW Filosofi Kopi dengan Kopi tanpa Arsenik dan Sianidanya. Turut juga senior saya di IVLP, Bung Malik Feri Kusuma (Aktivis KontraS).

Tentu dengan ratusan orang lain, termasuk polisi yang juga menikmati suasana Kamisan mengenang 13 tahun kematian  Munir Said Thalib. Ini kali pertama saya hadir di acara Kamisan.

Payung-payung hitam juga kaos hitam seperti berduka bergelar di latari mega-mega keemasan senja dan dua simbol kejayaan bangsa dan negara ini (Istana Negara dan Monas). Kerumunan itu adalah ibu-ibu dan orang tua para aktivis dan orang-orang hilang, para keluarga kerusuhan Mei, para korban 1965. Beberapa diantaranya adalah anak-anak muda yang mungkin belum lahir saat kejadian tersebut.

Salah satu yang paling menggugah saya adalah seorang ibu yang seluruh rambutnya telah memutih, Maria Catarina Sumarsih. Saya mendapatkan informasi bahwa tiap hari Kamis, ibu tersebut senantiasa hadir di tempat ini untuk mempertanyakan keadilan untuk anaknya yang menjadi korban peristiwa Semanggi I. Di antara para perempuan berbaju hitam itu terlihat isteri dari Munir, Suciwati Munir.

Di situ saya melihat ketegaran seorang ibu, kasih sayang hingga sekalipun maut sudah memisahkan. Sesuatu yang mungkin sulit saya dapatkan dan alami, baik saat berada di organisasi yang sering diidentikkan effortless dan di lingkungan keluarga yang mapan.

Dalam tulisan Bung Malik Feri Kurnia setahun yang lalu, yang tahun ini kembali viral, “Munir, Kader HMI yang Melawan Kezaliman” menggarisbawahi bahwa perjuangan Munir adalah manifestasi dari perjuangan Islam yang ia pelajari.

“Setelah saya pelajari, saya menemukan Islam, mengakui bahwa dalam relasi sosial ada ketidakadilan. Ada yang menzalimi dan yang dizalimi. Islam harus memihak pada pihak yang dizalimi….Aku jadi bersemangat jadi aktivis, aku tetap di HMI, tetap jadi instruktur…,” kata Munir.

Saya jadi ikut larut dalam kesedihan, membayangkan ketika suatu hari Arzanka (anak saya) diculik atau peluru menembus kepalanya saat demonstrasi pertamanya. Berkelabat juga bagaimana seandainya Arzan (sapaan Arzanka) semengerikan dan setragis Bima seperti pada tulisan Mulyani Hasan–tulisan ini diberikan oleh rekan saya, Adyatma Arifin.

Atau bahkan dia terbujur kaku lewat minuman jus jeruknya campur arsenik. Apakah mungkin saya dan isteri bisa setegar dan sekuat ibu-ibu tersebut?

Saya juga menyesal kenapa di zaman saya peroleh tanggung jawab sebagai Ketua Umum PB HMI 2013-2015 saya in absentia dalam usaha menyingkap tabir gelap soal kematiannya. Sekiranya saya juga gagal dalam menjadikan Munir sebagai salah satu tokoh sentrum di HMI.

Saya dan para pengurus saya bahkan tidak pernah hadir di acara untuk melanjutkan perjuangannya, Kamisan di depan Istana Presiden.

Seandainya saya getol memperjuangkan persis seperti agenda “Bonus Demografi dan Pembangunan Kepemudaan” mungkin ada warisan yang mungkin dapat sedikit mengubah wajah organisasi tersebut. Mengurangi kadar oportunistik di dalamnya.

Atau mungkin menginspirasi kader-kader muda lain untuk menilik sesuatu di luar panggung politik. Sesuatu yang lebih manusiawi dan jelas-jelas sesuai dengan tujuan HMI, membela para mustadafin.

Tapi jarum jam tetap bergeser ke kanan, ia tak mungkin berputar kembali. Saya membatin, mungkin di waktu yang tersisa boleh sesekali saya ikut bersama-sama mereka yang sedari awal mendorong penuntasan masalah-masalah kejahatan HAM masa lalu.

Sampai pagi kemarin waktunya tiba, sebuah kehormatan saya diajak oleh Bung Malik Feri untuk hadir di acara Kamisan depan Istana Kepresidenan. Untuk sebuah kebaikan, tentu tak ada yang terlambat.

Minimal suatu waktu ketika Arzanka sudah besar dan menggugat soal komitmen ayahnya pada akal sehat dan hati nurani, saya bisa ikut menceritakan momentum berharga ini.

Saya bukanlah seorang aktivis yang melalui jalan sunyi dan berbatu seperti halnya Munir. Saya bukanlah seorang dengan ketegaran seperti Ibu Sumarsih. Mungkin juga saya terbilang sangat telat untuk turut berada dan ikut menggugat kewarasan negeri ini.

Tapi besar harapan saya semangat-semangat menolak lupa ini terhadir dalam pikiran anak-anak muda utamanya para anggota organisasi kepemudaan formal. Di tangan mereka–yang notabene tidak langsung mengalaminya–bangsa ini bisa sedikit belajar dari sejarah. Kelak di masa depan tragedi kemanusiaan tidak terjadi lagi. Mereka adalah lilin-lilin kecil yang kelak mengganti mentari tua yang lelah berpijar.

Dua tahun lagi waktu yang tersisa bagi pemerintahan Jokowi-JK untuk membayar semua janji berikut utang-utangnya. Di sisa waktu itulah, kita perlu sesekali berdoa dan terus-terusan berikhtiar agar mereka menghabiskan waktunya untuk menunaikan semuanya.

Besar harapan saya tak ada lagi kumpulan berita juga meme yang menunjukkan Jokowi-JK sekedar PHP (pemberi harapan palsu). Semoga jualan penuntasan kasus HAM tidak hanya menjadi komoditas politik.

Dan acara itu berakhir, di bawah langit yang tidak sedang pesta warna di dalam senjakala, tanda nilai kemanusiaan masih tanda tanya.

Arief Rosyid

Seorang ayah dan suami, dokter gigi, Ketua Umum PB HMI 2013-2015

Tentang Penulis

Arief Rosyid

Seorang ayah dan suami, dokter gigi, Ketua Umum PB HMI 2013-2015

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.