Locita

Melihat Partai Politik di Dunia Sepakbola (Dulu)

HINGAR bingar pemilu 2019 tinggal menghitung hari, berbagai cara dilakukan oleh partai politik peserta pemilu untuk memikat khalayak ramai agar memilihnya. Sebagai pemuda pada umumnya yang “menggilai” sepakbola sekaligus penikmat kontestasi politik di media sosial, saya akan coba menguraikan gaya partai politik menurut nomor urut sesuai dengan nomor punggung khas pemain sepakbola.

Dalam sepakbola, pemberian nomor punggung pemain biasanya menjadi hal yang sangat penting, selain menentukan posisi si pemain, nomor punggung juga menggambarkan karakter pemain tersebut. Pilpres 2019 menjadi arena pertarungan sengit selain memenangkan pemilu legislatif. Saling serang diantara cebong dan kampret menjadikan pilpres kali ini sangat menarik untuk diikuti.

Nomor urut partai politik saat ini, jika dilihat dalam dunia sepakbola, karakter dan posisinya sudah tepat. Silahkan anda seduh kopi atau rebus mi instan untuk membaca uraian saya berikut ini.

PKB sebagai Penjaga Gawang

Seperti saat ini, PKB mendapat nomor urut 1, nomor punggung penjaga gawang. Tidak terlalu banyak manuver-manuver aneh tapi sangat penting bagi tim khususnya saat ini di koalisi pemerintah.

PKB yang saat ini dinahkodai oleh Muhaimin Iskandar merupakan cerminan penjaga gawang seperti Jerzy Dudek saat di Liverpool tahun 2005. Goyangan badannya saat adu penalti di final Liga Champion melawan AC Milan berhasil mengantarkan Liverpool menjadi juara dengan dramatis.

Jerzy Dudek adalah kiper hebat di masanya, pun demikian dengan PKB saat ini. Memperoleh 52 kursi di DPR RI dengan perolehan suara 10,57% tahun 2004 membuat PKB sebagai partai politik yang sangat disgani, selain karena memiliki basis massa yang sangat besar di keluarga besar NU di seluruh Indonesia, PKB sangat menarik dimata masyarakat saat itu.

Keseksian PKB saat ini pun masih ada ditengah menguatnya politik identitas saat kasus 212, kembali menjadikan PKB sebagai partai politik yang sangat dibutuhkan dengan tokohnya seperti KH. Ma’ruf Amin. Walaupun perolehan suara hanya 9,04% pada pemilu 2014, PKB mampu menjadikan KH. Ma’ruf Amin sebagai Cawapres dari Jokowi.

Sayangnya, sosok seperti Jerzy Dudek atau PKB saat ini yang sudah kian ditinggal para simpatisannya menggambarkan bahwa tipe partai politik seperti ini sudah ketinggalan jaman. Penjaga gawang bukan lagi hanya berdiri menunggu bola di dalam kotak 16 semata, tapi juga menjadi pengatur serangan di era sepakbola modern seperti sekarang ini.

Gerindra layaknya Wing Back

Nomor urut 2 bagi partai seperti Gerindra sangat layak. Partai politik pengusung presiden dan wakil presiden tunggal, Prabowo dan Sandiaga. Tidak sembarangan partai politik bisa mengisi posisi seperti wing back seperti ini, harus punya endurance yang mantap jiwa. Menjadi oposisi selama 5 tahun terakhir, tidak perlu kita ragukan lagi. Gerindra mempunyai daya tahan yang sangat bagus untuk mengkritisi setiap kebijakan pemerintah.

Kecepatan dan insting yang bagus menjadi gambaran yang tepat untuk posisi nomor 2 ini. Hanya satu pemain bernomor punggung 2 yang bisa menggambarkan Gerindra saat ini, hanya nama seorang Cafu yang layak.

Memenangkan banyak gelar bersama tim nasional Brasil dan klub yang dibelanya, menandakan Cafu selalu memberikan sumbangsih yang tidak sedikit untuk negara dan klubnya. Menjadi full-back yang tidak pernah berhenti berlari, membantu serangan dan tidak lupa untuk bertahan. Gerindra banget.

Menyerang kebijkan pemerintahan, memenangkan hati pemilih membuat Gerindra menjadi partai besar dengan perolehan 11,81% pada pemilu 2014. Tapi menjadi pemain besar seperti Cafu dan memenangkan hati rakyat layaknya Gerindra, tapi tidak pernah menjadi pemenang seutuhnya seperti yang Cafu rasakan.

Ia tidak pernah memenangkan Ballon d’ Or sebagai pemain terbaik. Cafu tetaplah menjadi seorang pemain yang enak ditonton, saat ini setidaknya. Begitulah Gerindra dan Prabowo, tokoh yang tidak pernah mencicipi jabatan sebagai Presiden. Entah untuk 2019 ini.

Centre Back ala PDIP

Mengenal centre back terbaik sepanjang masa hanya Paolo Maldini yang layak kita sebut. Maldini sebagai salah satu bek hebat era 90-an menjadi salah satu tembok tangguh AC Milan. Menjadi bek yang setia pada satu klub menggambarkan PDIP yang setia menjadi oposisi di era SBY selama 10 tahun.

Maldini tidak sekedar menjadi seorang bek. Kadang gol-gol penentu kemenangan AC Milan datang dari bek ini. Seperti PDIP yang rela turun ke jalan saat kenaikan BBM untuk aksi demosntrasi mencabut mandat SBY sebagai presiden, misalnya. Itu semua menjadi salah satu cara PDIP untuk merebut hati rakyat, sehingga tidak heran partai ini bisa memenangi pemilu legislatif dan pemilihan presiden di tahun 2014 dengan perolehan suara sebesar 18,95%.

Pemilu 2019 ini, ketangguhan PDIP sebagai bek tengah kembali diuji dari serangan partai oposisi. Koalisi pemerintahan yang dipimpin oleh PDIP mendapati masalah serius dari kritikan-kritikan tajam kubu tetangga terkait banyaknya janji-janji kampanye yang hingga saat ini tidak terealisasi. Resiko menjadi bek di sebuah klub seperti ini memang berat, serangan dari klub lawan terus menghujani lini pertahanan.

Tapi, lagi-lagi tidak semuanya bisa berjalan sesuai rencana. Pemain hebat sekaliber Paolo Maldini pun tidak selamanya dibutuhkan oleh klub. Dunia sepakbola modern kali ini tidak membutuhkan bek yang hanya menunggu diserang. Bek di sepakbola modern menjadi motor serangan utama. Ditengah serangan yang sangat variatif dari oposisi, lawan sangat mungkin untuk membalikkan keadaan. Kualitas passing dan intersep wajib dimiliki oleh PDIP, sehingga titik serang tidak melulu mengarah ke partai ini.

Golkar layaknya Patrick Vieira

Membahas Golkar, saya teringat akan hebatnya seorang pemain nomor 4 Patrick Vieira saat memimpin lini tengah Arsenal. Mengenal sosok gelandang terbaik yang pernah dimiliki Arsenal ini, setidaknya menggambarkan posisi Golkar sekarang dan dulu. Pernah invincibles seperti Arsenal, Golkar sempat merajai perpolitikan nasional di orde baru. Banyak tokoh-tokoh besar bangsa lahir dari partai ini.

Selalu masuk urutan 3 besar perolehan suara terbanyak disetiap pemilu, Golkar tidak pernah lepas dari kekuasaan. Lincah, cepat, kokoh dan memiliki visi permainan yang bagus layaknya Vieira, membuat Golkar selalu menjadi aktor penting dalam memenangkan setiap pertarungan.

Ketenangan dan kualitas passingnya, selalu masuk dalam strategi apapun yang diinginkan oleh Wenger kala itu. Yup, Golkar selalu menjadi pemenang. Kalah dalam pertarungan langsung sekalipun, partai yang dikomandoi oleh Erlangga Hartarto ini selalu berada dalam barisan pemenang. Seperti pepatah lama, Golkar tidak pernah bisa lepas dari kekuasaan.

Rismunandar Iskandar

Rismunandar Iskandar

Fans Arsenal, Pejalan Kaki, Penikmat Kopi dan Pegiat Lingkungan

41 comments

Tentang Penulis

Rismunandar Iskandar

Rismunandar Iskandar

Fans Arsenal, Pejalan Kaki, Penikmat Kopi dan Pegiat Lingkungan

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.