Locita

Keraton Sejagat dan Komodifikasi Imajinasi

Fanni dan Toto (foto : tibunnews)

Toto Susanto dan Fanni Amminadia barangkali tidak pernah terdengar sebelumnya. Namun semua berubah ketika mereka muncul sebagai Raja dan Ratu dari Keraton Agung Sejagat di Purworejo. Keduanya mendaku diri sebagai Sinuhun dan Ratu Dyah Gitarja yang mengaku sebagai sumber dari segala negara, bangsa dan kerajaan yang ada di dunia.

Klaim yang unik lainnya adalah bahwa kerajaan ini disebut sebagai hasil dari perjanjian antara Majapahit dengan Portugis sebagai perwakilan orang barat untuk mengakhiri dominasi barat yang dipimpin Amerika Serikat. Tampuk kekuasaan harus diserahkan kepada penerus Majapahit yang tidak lain adalah perkumpulan yang dia pimpin. Sungguh groundbreaking! Didukung bukti valid atau tidak itu urusan nanti, tapi groundbreaking dulu. Hehehe.

Cerita Keraton Agung Sejagat ini jelas mengacak-acak pemahaman sejarah yang kita pelajari dari sekolah dasar sampai sekolah tinggi. Dalam literatur sejarah, yang bersumber dari interpretasi prasasti, Majapahit diceritakan runtuh akibat serangan kerajaan Islam Demak ditambah dengan perang saudara antar pewaris kerajaan. Ternyata perang saudara antara Wikramawardhana dan Bhre Wirabumi yang disarikan dari catatan penjelajah Italia, Pigaffeta, tidak sepenuhnya benar. Yang pasti adalah Majapahit tidak runtuh tapi menitis kepada Keraton Agung Sejagat pimpinan Sinuhun Toto Susanto! Luar Biasa!

Iseng, saya berkunjung ke museum Majapahit di Trowulan Mojokerto untuk menanyakan catatan tentang Keraton ini di risalah-risalah kerajan. Ya, seiseng itu saya. Apalagi, Museum Majapahit bukan tempat baru bagi saya. Lokasinya kurang lebih 3 km dari rumah saya di kampung. Ngabuburit ke sekitaran Museum dan mancing di Waduk Segaran adalah keseharian saya di masa kecil.

Keisengan saya berbuah mengejutkan. Tidak pernah ada catatan mengenai Sinuhun Toto dan perkumpulannya dalam risalah di Museum Majapahit. Ah, saya masih berpikir positif, mungkin belum masuk database museum. Saya kemudian melakukan desk research menelusuri publikasi di dunia maya. Hasilnya lagi-lagi mengejutkan. Dengan mengetik kata kunci “Keraton Agung Sejagat” di mesin pencari, saya menemukan banyak sekali catatan tentang perkumpulan ini. Semuanya ditulis oleh portal berita daring pada tahun 2020. Simpulan saya Keraton Agung Sejagat sebagai titisan dari Majapahit menghilang dulu dari tahun 1500an ketika Majapahit runtuh sampai 2020 untuk menyambut kebangkitan dunia baru. Shahih!

Bagi mayoritas orang, ini jelas tidak masuk diakal. Namun faktanya sekitar 450an orang percaya bahkan menjadi anggota dari perkumpulan ini. Jumlah yang tidak sedikit tentunya.

Walaupun banyak klaim yang tidak masuk akal mengapa pengikutnya bisa sampai hampir ratusan orang ya?
Mungkin orang-orang yang bergabung di sini tidak pernah tahu atau memilih untuk tidak peduli mengenai lini masa sejarah yang didukung bukti. Tidak saya sebut versi yang benar, karena katanya sejarah ditulis oleh pemenang, bisa jadi yang “benar” adalah versi yang belum berhasil diungkap. Namun dalam kaca mata ilmiah, diukung bukti yang valid saja suah cukup.

Temuan sejarah ini mungkin tidak pernah sampai kepada masyarakat di kalangan akar rumput. Namun dijaman sosial media dan internet begini, lebih tepat disebut jika masyarakat enggan membaca literatur sejarah yang valid. Mungkin karena isinya tidak semenarik share berita di grup whatsapp keluarga yang bombastis dan tidak jelas rujukannya. Rendahnya literasi publik akan menyebabkan kedangkalan cara berpikir. Cara berpikir yang kritis adalah filter terakhir kita ditengah gempuran informasi yang masif dan repetitif.

Rendahnya literasi akan mudah dieksploitasi ketika bertemu dengan komoditi yang pas, ya betul imajinasi. Dalam kasus Keraton Agung Sejagat imajinasi yang ditawarkan adalah rasa bangga sebagai negara besar yang mampu menguasai bahkan Amerika Serikat dan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Di tengah persoalan sehari-hari yang mereka hadapi sebagai masyarakat akar rumput, hadirnya imajinasi dari Keraton Agung Sejagat ditangkap sebagai jalan keluar yang instan. Bergabung dengan Keraton Agung Sejagat dimaknai sebagai bergabung kepada otoritas yang lebih tinggi dengan iming-iming taraf hidup yang lebih baik.

Mungkin, sebagian dari mereka berpikir bahwa masalah kehidupan yang mereka hadapi sehari-hari adalah produk dari kegagalan otoritas untuk mengatur. Negara yang seharusnya hadir menjamin kesejahteraan, dalam pandangan meraka bisa jadi tidak berfungsi maksimal. Atau kembali lagi, jangan-jangan paparan informasi yang salah juga jadi penyebab. Pak Polisi, tolong cek grup WA keluarga nya dong, jangan-jangan penuh hoax sama hate speech.

Imajinasi mengenai hadirnya otoritas yang akan menyelesaikan semuanya juga dimanifestasikan dengan apik dalam bentuk seragam. Ya seragam item-item yang mereka pakai itu. Dalam kultur masyarakat Indonesia, seragam adalah koentji. Memakai seragam adalah simbol otoritas atas urusan publik. Seragam sekaligus adalah metode untuk mendisplinkan anggotanya, untuk menciptakan tubuh yang patuh (docile body) seperti yang dibilang oleh filsuf Perancis Mbah Foucault. Oleh karena itu dengan menghadirkan seragam dan bahkan pangkat, imajinasi mengenai otoritas dan disiplin tadi bisa dengan mudah diterima dan diinternalisasi oleh masyarakat.

Aspek terakhir yang penting, dan paling mudah dikomodifikasi, dari imajinasi dari Keraton Agung Sejagat adalah inferioritas masyarakat Indonesia terhadap budaya asing. Entah kenapa semua yang berbau asing di Indonesia selalu menarik. Entah untuk ditolak seperti produk budaya asing, maupun untuk dikejar seperti gaji perusahaan asing hehe. Dalam konteks Keraton Agung Sejagat, keduanya bekerja. Imajinasi menguasai wilayah asing dan mendapat gaji dengan mata uang asing.

Pengakuan dari salah satu mantan pengikutnya, motivasi utama mereka bergabung adalah karena diiming-imingi gaji dalam dolar. Dolar Amerika Serikat tentunya, kalau Dolar Zimbawe mungkin beda ceritanya. Mendapat gaji dolar adalah tujuan utama. Berapapun jumlahnya yang penting dolar hehehe. Konon kabarnya ada anggota yang setor iuran sampai Rp30 juta. Jika bisa setor dalam jumlah sebanyak itu seharusnya menjangkau dollar bukan hal yang tidak mungkin. Namun mereka memilih bergabung. Apa namanya kalau bukan inferior terhadap budaya asing?

Kemunculan Keraton ini bisa dimaknai macam-macam. Bagi saya ini alarm bagi kita semua bahwa ada masalah laten yang menjangkiti masyarakat kita, setidaknya soal literasi dan otoritas yang menyediakan solusi instan tadi. Di sisi lain, negara mau tidak mau harus hadir menjadi solusi bagi permasalahan kehidupan sehari-hari. Kalau tidak, ya ternyata banyak juga yang mau bikin negara sendiri.

Dias Pabyantara

Dias Pabyantara

Peneliti di Center for Identity and Urban Studies (CENTRIUS)

Aktif ngoceh di podcast: Luas Mendalam

Tentang Penulis

Dias Pabyantara

Dias Pabyantara

Peneliti di Center for Identity and Urban Studies (CENTRIUS)

Aktif ngoceh di podcast: Luas Mendalam

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.