Locita

Kalung Anti-Corona Kementan yang Membuat Saya Trauma

Sumber Gambar: Fajar.co.id

Sebenarnya saya tidak terlampau terkejut saat Mentan (Menteri Pertanian) Syahrul Yasin Limpo, yang juga Mantan Gubernur Sulawesi Selatan dua periode itu, mengumumkan kalung anti-corona yang akan segera diproduksi secara massal oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian (Balitbangtan).  

Beberapa bulan lalu –saat corona masih dianggap lelucon para menteri Jokowi—saya pergi ke pasar di kampung. Adalah kebiasaan saya ke pasar tradisional saat pulang kampung. Juga adalah kebiasaan saya mengamati aktivitas di pasar. Salah satu yang sering menarik perhatian adalah penjual obat. Mereka memakai toa dengan retorika kata-kata meyakinkan pengunjung pasar yang sebagian besar tidak sempat mengenyam berpendidikan tinggi. Bagi penjual obat, mereka target pembeli yang mudah terpengaruh dengan cerita-cerita.

Saya sudah sering melihatnya dan tersenyum-senyum. Bukan karena obatnya. Tetapi keberanian dan kegigihannya meyakinkan pengunjung dengan retorikanya yang membuat saya salut, yah walau memang belum pernah sekalipun memperdaya saya.

Namun, yang menarik bagi saya pagi itu adalah saat penjual obat menggunakan gambar Syahrul Yasin Limpo yang dicetak besar sebagai salah satu media promosi andalannya. Tampak pada gambar tersebut Yasin Limpo memakai kalung sambil tersenyum lebar dengan jempol kanan terangkat.

“Mantap.” Seolah-olah mengatakan begitu.

Bukan hanya satu gambar tetapi ada setidaknya dua gambar. Pintar juga penjual obat ini menggunakan keterkenalan Syahrul Yasin Limpo yang sudah tentu banyak dikenal rakyat Sulawesi Selatan. Setidaknya lewat gambar baliho kampanye saat mencalonkan diri sampai dua kali.

Penjual itu mengingatkan saya pada pelaku bisnis MLM (Multi Level Marketing). Mereka sering menggunakan tokoh publik untuk mempromosikan dagangannya. Seringkali lewat foto dan video.

Jenis bisnis ini pula yang mengingatkan saya beberapa tahun lalu. Beberapa orang keluar masuk dari kampung saya untuk menawarkan jenis kalung. Kalung itu berwarna perak dengan bentuk bundar.

Alkisah, kalung tersebut disinyalir dapat menyembuhkan penyakit yang banyak diderita orang tua: rematik, asam urat, sampai stroke. Para salesnya sangat lihai dan sangat meyakinkan saat menjelaskan. Mereka mendatangi rumah satu per satu. Tentu saja mereka sudah dibekali ‘public speaking’ dari perusahaannya, yang seringkali menjanjikan ke luar negeri dengan kapal pesiar itu atau menjanjikan mobil mewah atau setidak-tidaknya penghasilan besar dalam waktu singkat.

Dan mereka tahu betul kapan harus datang. Kapan musim uang di kampung. Seperti saat musim cengkeh atau merica saat para petani di kampung sedang panen. Mereka juga memiliki strategi khusus siapa yang harus pertama-tama mereka pengaruhi.

Mereka menyasar orang berpengaruh di kampung. Mereka menargetkan orang terpandang dan cukup kaya seperti para ‘puang aji’ yang memiliki lebih dari cukup uang. Saat mereka sudah berhasil memperdayanya, mereka akan menargetkan orang-orang sekitarnya sambil ‘menjual’ orang-orang berpengaruh yang sudah diperdaya ini.

Tak lupa mereka membawa semacam surat pengantar dari dinas kesehatan yang tentu saja bisa dibuat-buat.

Harga kalungnya bukan main-main. Satu juta per kalung. Saat saya pulang kampung beberapa tahun lalu, ibu saya yang tidak pernah sekolah dan mudah terpengaruh itu meminta saya membelikan kalung seperti itu. Kalung obat yang sudah banyak digunakan dan lagi ramai dibincangkan. Tentu ibu saya sambil menyebutkan mereka yang katanya sudah berhasil membuktikannya. Saya tidak membelikannya karena memang tidak percaya.

Tetapi ibu saya ternyata tetap membelinya kemudian dengan bantuan adik saya. Dan terbukti, kalung tersebut hanya ‘seolah’ membuat penggunanya merasa lebih sehat beberapa waktu lamanya. Sekarang kalung tersebut tak ada fungsinya selain aksesoris belaka.

Saya kemudian tahu jenis bisnis seperti ini. Dari sepupu saya yang pernah jadi sales kalung serupa di Kalimantan dan menyerah setelah beberapa hari, saya kemudian tahu jika harga kalung tersebut hanya Rp 250.000 yang kemudian bisa dijual sejuta sampai tiga juta.

Saya membayangkan hal yang sama bisa dilakukan pada klaim kalung anti-corona pak mentan ini. Di tengah kepanikan pandemi, masyarakat biasa bisa dengan mudah terpengaruh dengan teknik marketing ala MLM. Apalagi di kampung sedang musim panen cengkeh seperti sekarang. Tentu bisa memberikan keuntungan pihak-pihak tertentu dan masyarakat, yang sebagian besar mudah terpengaruh akan menjadi korban.

Apalagi toh kalung-kalung itu –baik kalung obat atau anti-corona—tidak memiliki bukti ilmiah. Tidak ada rujukan artikel di jurnal yang bisa penguat validasi. Silakan cek di Google Scholar. Yang ada malah membuat saya trauma dengan kalung-kalung yang di-MLM-kan, termasuk penjual kalung obat yang menjadikan gambar Syahrul Yasin Limpo sebagai media promosi itu.

Ah negeri saya, memang suka melucu bahkan ketika corona sudah menelan banyak korban.

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Tentang Penulis

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.