Locita

Ibu di Atas Keranjang Catatan dari Pengungsi Rohingya

Dasalomah bersama para pemanggulnya (Foto: Dhihram Tenrisau)

IBU itu memperlihatkan muka muram, seperti langit yang mulai menghilangkan birunya,  Selasa siang (17/10) di Jamtoli, Ukhiya. Seperti itu pula kemuraman itu akan meledak. Dia berada di dalam keranjang, memegangi dadanya. Kain sari membalut tubuhnya yang ringkih. Ibu itu pendek, tulangnya menyembul ke balik kulitnya yang kisut.

Di atas keranjang itu ibu itu, Dasalomah (50) dipikul oleh anaknya, Muhammad (17) dan kakaknya, Abobakar Siddiq (50), selayaknya dua orang pedagang buah yang membawa dagangannya ke pasar. Seorangnya memakai alas kaki, seorangnya lagi tidak. Alas kaki adalah sesuatu yang mewah untuk para pengungsi.

Melihat mereka, saya teringat akan sosok lelaki pemanggul goni dalam cerita pendek karya Budi Darma. Sosok yang berbadan gelap dengan gurat kemarahan.

Di hadapan posko kesehatan, Indonesia Humanitarian Alliance, Dasalomah digelar dalam antrian ratusan pasien yang mengantri. Dokter Anggia, selaku dokter yang bertugas hari itu kemudian memanggilnya.

Kinam?” Penerjemah kami menanyakan nama ibu ini. Harun, penerjemah kami adalah seorang pengungsi yang lumayan cakap berbahasa Inggris. Setelah itu dokter yang juga Nahdiyin ini menanyakan keluhannya. Dia menunjukkan dadanya sembari bercerita.

Di situ dia tidak mampu menahan dirinya yang sudah meradang. Dia mulai bercerita banyak, di situ pula peristiwa itu terurai satu persatu. Matanya basah.

Sebulan yang lalu dia tidak pernah menyangka harus meninggalkan desanya, Gawdu Zara. Desa ini dibakar oleh para militer yang menyerbu. Desa ini salah satu dari 288 desa yang dibakar oleh militer, menurut riset dari Human Rights Watch. Bersama kelima anaknya beserta suaminya, dia menempuh perjalanan menembus hutan dan jalan berlumpur.

Nahas di tengah jalan seorang pengungsi lainnya meneriakkan “tentara”, para pengungsi panik. Salah seorang diantara pengungsi itu kemudian menyembar pundaknya. Sayangnya, saat itu dia belum minum selama sehari lebih, terlebih terjangan terik. Dia terpeleset. Dadanya mengenai ujung batu yang tumpul di perjalanan ke kawasan pengungsian, dalam perjalanannya ke Sungai Naf (perbatasan Bangladesh-Myanmar). Beberapa kali dia merasakan terinjak. Menahan sakit dan perih, dia akhirnya ditandu oleh para keluarganya menggunakan keranjang.

Dua hari menembus liarnya hutan dan terjalnya perjalanan, dia berhasil mencapai Jamtoli Camp, daerah Ukhiya, Cox’s Bazar.

Di kamp pengungsi ini, kesehatan adalah barang yang tergolong mewah. Sekalipun posko kesehatan NGO lintas negara berhamburan, namun bersesak adalah konsekuensi. Apalagi anak-anaknya harus memenuhi kebutuhan lainnya untuk diburu: makanan dan air bersih. Akhirnya di sempat ditelantarkan selama beberapa minggu tanpa perawatan apapun. Hanya makan dan minum yang dipaksakan oleh keluarganya.

Dia terbaring di gubuk pengungsinya, sembari menunggu kematian mendatang di sisa-sisa harinya. Nyatanya itu tidak terjadi. Dan di hari ini, dia berhasil mendapatkan bantuan tim medis. Di sebuah gubuk pelayanan kesehatan milik tim medis Indonesia.

Dokter Angie memeriksa bagian belikat yang ditunjuk-tunjuknya. Dokter tersebut mulai melakukan palpasi (semacam perabaan). Ya di situ didgua terdapat keretakan atau keselahan posisi tulang (dislokasi). Idealnya perawatan itu haruslah dilakukan dalam berbagai tahap, apa daya posko kesehatan ini hanyalah gubuk sederhana dengan perlengkapan dan pengobatan seadanya.

Mereka akhirnya merujuk Dasalomah ke posko medis trans-nasional, MSF yang dikenal dengan Doctor Wihtout Borders atau IOM (International Organization for Migration), atau mungkin Bulan Sabit Merah Internasional. Ketiga tim bantuan medis itu telah memiliki rumah sakit darurat di tengah kawasan pengungsian. Bayangkan saja, mereka sudah memiliki UGD, ICU, bahkan kamar operasi, dan puluhan tim medis di tengah-tengah hutan.

Sedangkan tim medis kami, hanya memiliki bangku dan meja plastik, serta obat seadanya. Nyatanya memang membantu bukan hanya bermodalkan keberanian dan pengalaman.

Dina tin bar,” ujar Mutia, rekan saya yang berjaga di bagian obat ini menjelaskan aturan memakai obat tersebut tiga kali sehari.

“Saya masih merasakan bau hangus rumahku,”balasnya yang dialihbahasakan. Sebelum dipapa kembali oleh keluarganya lagi. Dia meninggalkan posko kesehatan setelah mengambil obat penahan nyerinya.

Di situ Angie sadar akan keterbatasan. Selain itu, mereka merasa bahwa ibu ini mungkin tidak membutuhkan perawatan untuk tulang belikatnya, tapi lebih keinginan menceritakan kebenciannya yang telah berlarut-larut.

Dan saat itu awan gelap tak mampu menahan lagi beratnya. Hujan deras mengguyur tanah berlumpur di depan posko. Beberapa berlari mencari tempat berteduh. Semua menepi dari jalan bertanah merah.

Tapi tidak bagi Dasalomah dan kedua orang yang menggandengnya. Sang pemanggul dan ibu dalam keranjang berjalan mantap dalam hujan. Dan mereka lenyap dalam hujan yang semakin deras. Bisa jadi hujan itu menyapu amarahnya, yang membara di atas keranjang.

*Penulis ditugaskan  di kawasan Pengungsi Rohingya di Cox’s Bazar, Bangladesh dalam tim Dompet Dhuafa dan Indonesian Humanitarian Alliance.

Avatar

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Tentang Penulis

Avatar

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.