Locita

Hal-Hal yang Terlupa di AMI Awards 2017

ilustrasi [ami-awards.com]

TAK bisa dipungkiri kalau penghargaan-penghargaan adalah pencapaian serta apresiasi dari sebuah kerja keras, namun kadangkala penghargaan adalah inspirasi, memupuk generasi yang dibawah untuk melampaui apa yang digapai oleh pemenang. AMI Awards sebagai penghargaan di ranah musik  Indonesia adalah salah satunya.

AMI Awards telah terlaksana 16 November 2017 lalu, beberapa musisi larut dalam kebahagiaan saat menerima penghargaan terhadap musisi dan karya musik terbesar di Indonesia ini. Penghargaan yang telah dilaksanakan sejak tahun 1995 ini menjadikan malam itu Tulus dengan album Monokrom seperti “ratu sejagad semalam”

Kehadiran AMI Awards kiranya juga sebagai penganugerahaan prestisius, dapat menyetel paradigma kebanyakan akan musik yang baik. Apalagi tema tahun ini, “Musik Tanpa Batas”. Juga tuturan Dwiki Dharmawan bahwa gelaran ini akan mengikuti perkembangan zaman.

Ketiadaan ICEMA (Indonesia Cutting Edge Music Awards) semenjak tahun 2014, nyaris menghilangkan ruang-ruang apresiasi lebih—dalam hal ini penghargaan—kepada pemusik-pemusik yang di luar jalur utama. Sudah sewajarnya ketika ekspektasi kemudian diharapkan pada AMI Awards sebagai ajak musik kanonik dan penyubur ekosistem industri musik negara ini.

Saya sebenarnya tidak meragukan bagaimana kapasitas juri atau kurator dalam penganugerahaan yang bagi saya sangat mumpuni. Bens Leo, David Tarigan bahkan maestro Dwiki Dharmawan. Namun, rasanya ada beberapa hal yang luput dalam penghargaan yang bertajuk ini.

Nominasi AMI Awards untuk beberapa kategori rasanya didominasi masih berkisar “yang itu-itu saja”, yang rajin masuk tipih—sekalipun saya melihat beberapa nama yang sewajarnya menjadi nominasi dan pemenang turut hadir di situ. Tulus sudah berjaya di AMI Awards 2014.

Sama halnya dengan Raisa, Isyana, bahkan GAC. Kenapa AMI tidak sesuai dengan temanya “Musik Tanpa Batas”, lebih membuka ruang terhadap musisi yang baru, terlebih yang bermain di ranah cutting edge untuk kategori-kategori utama (kategori pop)?

Bisa diliat dari bagaimana Grammy memberi ruang untuk Esperanza Spalding, album The Suburbs milik Arcade Fire, atau duet Gotye-Kimbra beradu bersama musisi pop lainnya.

Entah mengapa rasanya AMI Awards masih belum membuka ruang pada musisi-musisi di luar label besar atau yang istilahnya cutting edge—khususnya untuk kategori pop. Para artis dari label-label besar masih mendominasi. label rekaman Orange Cliff, Elevation, Nanaba, dan lain-lain absen hadir di sini. Padahal label ini menurut Marcel Thee yang menyegarkan kembali musik di Indonesia.

Kalau saja AMI Awards lebih menembus batasannya, pastilah industri musik akan lebih kaya dan luas dengan musisi dari berbagai genre.

Keganjalan pertama adalah munculnya Arman Maulana di salah satu nominasi, Karya Produksi Folk/Country/Balada. Penominasian ini rasanya aneh mengingat Arman Maulana tidak konsisten di folk.  Kenapa bukan Bin Idris yang jelas-jelas bergulat di ranah genre seperti ini? Terlebih lagi albumnya, Anjing Tua banyak mendapat pujian.

Selain dari itu, Maliq & the Essential dengan salah satu karya terbaiknya, Senandung Senandika entah mengapa tidak mendapatkan penghargaan satu pun. Nyatanya, album ini salah satu album yang paling banyak dicap brilian oleh beberapa media, salah satunya Rolling Stones Indonesia (media paling sering dianggap kanonik dalam musik).

Di artwork, entah mengapa Dramaturgi Underground tidak masuk nominasi. Padahal album ini bisa dibilang inovatif dengan kolaborasinya dengan para perupa mural di setiap lagu-lagunya. Aspek kolaborasi lintas seni ini kiranya bisa menginspirasi kepada para musisi di masa mendatang.

Situs AMI Awards juga terlambat update. Sebagai orang yang tidak sempat menonton acara tersebut, saya harus membuka kanal-kanal berita untuk mengetahui informasi tersebut. Kalau Anda hingga tulisan ini dinaikkan (17/11), kita tidak dapat melihat para pemenang di situs website official dari penghargaan yang sudah 20 kali dilaksanakan di Indonesia ini.

Entah juga kenapa para pelaku musik di wilayah Indonesia Timur selalu luput dari perhelatan-perhelatan nasional. Tahun ini bahkan di kategori lagu berbahasa daerah, tidak mencantumkan sama sekali nominator dari Indonesia Timur. Apakah memang sepanjang dua tahunan ini, tiada album berbahasa daerah yang ditelurkan oleh para musisi di Sulawesi, Maluku, dan Papua?

Mungkin begitulah namanya penghargaan, tidak terlepas dari berbagai macam faktor. Industri, selera dewan juri, atau bahkan faktor-faktor lainnya. Seobjektifitas apapun sebuah penganugerahaan, tetap saja kritik dan protes tetap saja terjadi.

Terlepas dari kritikan di atas, saya harus mengakui bahwa penganugerahaan AMI Awards tahun ini lebih baik. Hal itu dengan hadirnya kategori religi, setidaknya memberi ruang untuk para musisi yang bermain di ranah ini.

Selain itu beberapa kejutan juga terjadi di penganugerahan ini. Kemenangan Yura Yunita atas Agnez Mo, menurut saya adalah indikator bahwa ajang ini memang melihat karya bukan sekedar kepopuleran dan militanisme para fans.

Kritik dan saran di atas bukanlah sebuah serangan untuk penghargaan karpet merah insan musik Indonesia ini, namun sebuah upaya untuk menjadikan AMI Awards sebagai sarana edukasi musik yang bagus bagi para pendengar musik di Indonesia, sama seperti pendapat Endah Widiastuti.

Atau mungkin kita perlu menganggap anugrah tahunan ini sebagai lelucon industri musik. Layaknya pandangan Nuran Wibisono saat tulisan ini saya buat, “Ndak usah dianggap terlalu serius.”

Oh ya, saya lupa menambahkan penghargaan ini kurang memasukkan nominasi kepada papa kita, Setya Novanto. Hmm…Kira-kira apa ya?

Avatar

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Tentang Penulis

Avatar

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.