Locita

Film Horor Asia Asia dalam pandangan layar lebar tak seindah potretan gambar

Asia jika diibaratkan dalam sebuah potret gambar akan menunjukkan suatu kawasan damai, dengan masyarakat stabil, perekonomian yang terus bertumbuh, dan aliansi yang kuat. Tetapi jika kita melihat sejarah ini sebagai sebuah film layar lebar, mungkin kita akan menonton kembali suatu masa dimana bagian dunia dengan ekonomi paling sukses mulai hancur berantakan.

NEW YORK – Sejarah setiap saat dapat dipahami sebagai potret gambar, menunjukkan dimana kita berada, atau sebagai gambar bergerak, tak hanya menunjukkan posisi kita namun juga kemana kita mungkin menuju. Ini adalah perbedaan yang sangat besar.

Lihat Asia Timur dan Pasifik. Sebuah potret akan menunjukkan suatu kawasan damai, dengan masyarakat stabil, perekonomian yang terus bertumbuh, dan aliansi yang kuat. Tetapi jika kita melihat sejarah ini sebagai sebuah film layar lebar, mungkin kita akan menonton kembali suatu masa dimana bagian dunia dengan ekonomi paling sukses mulai hancur berantakan.

Korea Utara adalah salah satu alasannya. Perang telah terhindari, bukan karena Korea Utara mengurangi ancaman yang ditimbulkan oleh senjata nuklir dan rudal balistiknya, tetapi karena pemerintahan Presiden AS Donald Trump belum mewujudkan celotehannya dengan tindakan. Ancaman nuklir dan rudal yang ditimbulkan oleh Korea Utara sebenarnya telah meningkat sejak Trump merangkul KTT dengan Kim Jong-un lebih dari setahun yang lalu.

Tidak ada alasan untuk percaya bahwa rezim Kim akan melakukan denuklirisasi. Pertanyaannya adalah, apakah ia akan setuju untuk memasang batasan pada kemampuan nuklirnya ditukar dengan beberapa pengurangan sanksi – dan jika demikian, apakah itu sesuai dengan perjanjian dan apakah para tetangga seperti Jepang percaya bahwa mereka bisa merasa aman tanpa mengembangkan senjata nuklir milik mereka sendiri.

Pertanyaan terakhir memperburuk dalam hubungan antara Jepang dan Korea Selatan. Para pejabat Jepang tidak nyaman dengan pendekatan Korea Selatan ke Korea Utara, menganggap langkah tersebut terlalu mendamaikan, dan sangat marah terhadap Korea Selatan karena mengungkit kembali permintaan untuk Jepang meminta maaf dan memberi kompensasi kepada wanita Korea yang dilecehkan oleh Tentara Jepang Kekaisaran sebelum dan selama Perang Dunia II. Ketegangan antara kedua sekutu Amerika ini menjalar ke dalam hubungan dagang mereka dan akan lebih mempersulit lagi untuk mengoordinasikan kebijakan menuju Korea Utara dan Tiongkok.

Kemudian ada protes yang sedang berlangsung di Hong Kong. Karena kontrol Tiongkok daratan atas bekas jajahan Inggris telah meningkat, formula “satu negara, dua sistem” yang dijanjikan pada tahun 1997 tidak berlaku seperti yang diharapkan rakyat Hong Kong, kian menghapus prinsip “satu negara, satu sistem.” Ini tidak mungkin berubah, karena Tiongkok kurang bergantung pada Hong Kong sebagai gerbang keuangan dan khawatir bahwa pendekatan liberal terhadap demonstran akan menandakan kelemahan dan mendorong protes – dan bahkan tantangan kepemimpinan – di Tiongkok daratan. Dengan demikian Pihak berwenang Beijing cenderung melakukan apa pun yang mereka yakini perlu untuk menjaga ketertiban.

Pergantian Tiongkok ke arah penindasan bahkan lebih jelas dalam kebijakannya terhadap minoritas Uighur. Pada saat yang sama, kebijakan luar negeri Deng Xiaoping yang hati-hati telah memberikan jalan bagi kebijakan luar negeri yang lebih tegas di bawah Presiden Xi Jinping. Di Laut Cina Selatan, Tiongkok memiliterkan pulau-pulaunya dalam upaya untuk mendapatkan kendali atas jalur air vital yang strategis ini dan mengintimidasi orang lain untuk mengabaikan klaim mereka. Demikian juga, dengan Belt and Road Initiative, Tiongkok menyediakan pinjaman infrastruktur untuk negara-negara di seluruh Eurasia, sering dengan persyaratan yang meningkatkan akses dan pengaruh Tiongkok, sambil menghasilkan manfaat yang dipertanyakan bagi para penerima.

Masa depan Taiwan juga tidak jelas. Tahun ini menandai peringatan 40 tahun terbentuknya hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Republik Rakyat Tiongkok (RRC). Pada saat itu, AS mengakui pemerintahan RRC sebagai satu-satunya pemerintah resmi Tiongkok, tetapi berjanji untuk mempertahankan hubungan tidak resmi dengan rakyat Taiwan. Dan dalam Undang-Undang Hubungan Taiwan 1979, AS berjanji untuk menyediakan senjata bagi pulau itu, dan menyatakan bahwa mereka akan menaruh perhatian penuh atas segala upaya untuk menentukan masa depan Taiwan selain secara damai.

Itu semua dibuat untuk pengaturan yang mengisi posisi tanpa adanya solusi yang dapat diterima secara umum, yang telah bekerja dengan baik selama empat dekade, karena Taiwan telah menjadi demokrasi yang berkembang dengan ekonomi yang berkembang pesat. Perbedaan pandangan terhadap Taiwan tidak menghalangi hubungan Tiongkok-Amerika, dan minimnya hubungan resmi tidak menghalangi hubungan kuat AS-Taiwan.

Namun sekarang, sepertinya Xi mungkin memutuskan untuk mendorong masalah ini, karena menyatukan Taiwan dengan Tiongkok daratan tampaknya menjadi bagian integral untuk mencapai “Impian Cina”-nya. Sementara itu, beberapa di AS dan Taiwan menganjurkan hubungan yang lebih dekat atau bahkan mengakui Taiwan sebagai negara merdeka. Pada titik tertentu, kemungkinan krisis akan terjadi ketika satu atau lebih pihak melewati batas yang tidak dapat diterima pihak lain.

Tanda tanya terakhir atas kawasan tersebut berasal dari kebijakan AS. AS telah menjadi pusat kesuksesan Asia. Aliansi dengan Korea Selatan telah mengurangi kemungkinan konflik di Semenanjung Korea; dan aliansinya dengan Jepang telah mengurangi kemungkinan program nuklir Jepang atau perang antara Tiongkok dan Jepang atas pulau-pulau yang disengketakan.

Namun Trump secara terbuka mempertanyakan nilai dan keadilan kedua aliansi tersebut, menunjukkan bahwa mereka berisiko kecuali Korea Selatan dan Jepang membayar lebih dan menyesuaikan kebijakan perdagangan mereka. Dan secara lebih luas, kebijakan luar negeri Trump pada intinya tidak dapat diprediksi dan mengganggu, sedangkan aliansi yang kuat membutuhkan kepastian dan kepercayaan diri.

Ketika semua potret-potert ini – Korea Utara yang dipersenjatai nuklir, Jepang yang gelisah, Tiongkok yang lebih tegas dan represif, semakin tidak sabar terhadap Taiwan, dan meningkatnya ketidakpastian atas kebijakan AS – dipandang sebagai film layar lebar, tampak jelas bahwa stabilitas yang mendasari perkembangan Asia tidak dapat lagi diprediksikan. Sulit membayangkan masa depan yang lebih baik dari masa lalu; namun tidak sulit sama sekali membayangkannya menjadi lebih buruk.

=====

Diterjemahkan dari “Asia’s Scary Movie” oleh Richard N. Haass, Presiden Dewan Hubungan Luar Negeri, mantan Direktur Perencanaan Kebijakan untuk Departemen Luar Negeri AS (2001-2003), dan merupakan utusan khusus Presiden George W. Bush untuk Irlandia Utara dan Koordinator untuk Masa Depan Afghanistan. Ia adalah penulis A World in Disarray: American Foreign Policy and the Crisis of the Old Order. Project Syndicate 17 Juli 2019.

farraaziza

Tentang Penulis

farraaziza

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.