Locita

Eks ISIS, Mengapa Tidak Perlu Diterima Kembali?

ilustrasi (foto: liputan6.com)

“Penyesalan akan selalu datang belakangan.”

Kalimat ini adalah istilah klasik namun masih relevan dalam banyak konteks kekinian. Pun demikian dengan orang Indonesia yang dulu bergabung dengan ISIS dan kini menyesali perbuatannya.

Penyesalan itu tampak begitu nyata di wajah ayah Nada. Nada, seorang putri remaja yang harus turut ke Suriah atas perintah ayahnya. Di sana, ia selalu menyangsikan kekejaman, pembantaian, bahkan pemenggalan kepala. Semua kekejian itu disaksikan dengan mata kepalanya sendiri. Dan kini ia hanya bisa menangis menerima kenyataan. Kenyataan bahwa ia telah meninggalkan Indonesia dan kehilangan harapan melanjutkan cita-citanya menjadi seorang dokter.

“Ini adalah kesalahan terbesar dalam hidup saya.” Kata ayah Nada kepada jurnalis BBC.
Semua orang berbuat salah, kata Nada. Dan saya setuju. Tetapi apa yang dilakukan ayah Nada bukanlah kesalahan biasa. Ia bergabung dengan organisasi teroris. Organisasi yang tidak hanya memperbudak tetapi membantai tanpa rasa tega kepada mereka yang seenaknya dianggap halal darahnya.

Nada, ayahnya, dan ibunya adalah satu keluarga dari 600 orang yang kini tersandera di kamp pengungsian. Sumber yang lain menyebut angka 1000. Dan setelah semua kejadian, peristiwa demi peristiwa mereka menyesali perbuatannya dan kini ramai dibincangkan. Bolehkah mereka diterima kembali ke Indonesia?

Pendapat bermunculan yang dibelah oleh boleh dan tidak. Mereka yang membolehkan beralasan mereka tetaplah manusia yang tak lepas dari kekhilafan. Seorang ustaz juga membuat video singkat.

“Mereka bukanlah manusia yang akan membawa bala bagi negeri ini.” Katanya berusaha meyakinkan.
Setiap perbuatan dan keputusan memiliki konsekuensi. Mereka yang telah berangkat ke Suriah atas nama jihad telah meninggalkan Indonesia. Mereka menjual harta bendanya. Mereka mengajak semua keluarga intinya. Mereka memalsukan paspor dan dokumen.

Belum lagi, mereka yang menghina-hina bangsanya sendiri sebagai negara kafir, negara yang tidak sesuai ajaran Islam. Mereka mengatakannya seolah-olah tidak akan kembali ke tanah airnya sendiri. Tanah tempat ia lahir, hidup, dan menumbuh sampai kini. Di darahnya mengalir sari dari makanan dan minuman dari tanah Indonesia. Tentu hal-hal ini sudah semestinya telah mereka pikirkan sebelum berangkat.

Dan setelah semua harapannya ternyata hanyalah ilusi. Setelah tersadar dari bayangan-bayangan semu. Semua ia tahu bahwa semua janjinya kenyataannya hanyalah janji manis. Kini ia baru menyadari semua. Dan kini berpaling meminta kembali ke negara yang ditinggalkannya, negara yang pernah dihina-hinakannya.

Wajahnya mengiba-iba. Air matanya tumpah. Saya tentu merasa iba kepada Nada. Putri remaja ini, kasihan sekali. Ia menjadi korban nafsu dan kebodohan ayahnya yang justru seharusnya membantu mewujudkan cita-citanya sebagai dokter. Kebodohannya itu harus dibayar mahal. Dan memanglah demikianlah harga yang harus dibayar.

Kita menghargai bahwa ada niat baik menerima mereka kembali. Masa depan mereka masih panjang dan cerah. Mereka sudah menyesalinya dengan wajah penuh sesal, terutama anak-anak mereka seperti Nada, yang masih lugu dan polos itu.

Tetapi,..

“Tetapi the innocent face sometimes hides monster (ideology).” Komen Saprillah, Kepala Balitbang Agama, saat mengomentasi postingan saya perihal video BBC tentang eks ISIS.

Saya setuju. Bahwa melihat wajah Nada yang menjadi korban, wajahnya tampak tidak berdosa. Betapa malang nasibnya yang harus menanggung semua deritanya. Namun, dibalik wajah yang tampak suci itu, ia bisa jadi menyimpan ideologi yang berbahaya. Ideologi yang bisa berwujud seperti monster. Monster yang kemudian membunuh siapapun dengan tega.

Bukankah mereka juga berangkat karena pengaruh ideologi? Ideologi yang membuatnya hilang akal, meninggalkan tanah kelahirannya, dan mengorbankan masa depan anaknya sendiri.

Walau terkesan dilematis, pertaruhan resikonya terlalu besar. Jumlah penduduk Indonesia yang berjumlah 260.000.000 jiwa itu jauh lebih penting dijaga daripada 600 orang yang telah mengkhianati bangsanya sendiri. 600 orang itu dengan ideologi di kepalanya cukup untuk menghancurkan sebuah bangsa.

Ideologi, sesuatu yang dijadikan pegangan hidup dan bagi beberapa orang dianggap sebagai harga mati dan tujuan hidup, tidak akan dengan mudah dibersihkan dari pikirannya. Ideologi tidak cukup beberapa bulan bahkan tahun sekalipun untuk membersihkannya. Apalagi hanya dengan menampakkan wajah tidak berdosa (innocent). Sungguh wajah tidak berdosa, innocent itu, seringkali sangat menipu.

Ideologi, sekalipun mereka mengaku telah berubah, sewaktu-waktu akan datang kembali dan menuntut balas kepada mereka yang dianggap menyakitinya atau memanfaatkannya. Dan resiko yang harus ditanggung begitu besar, begitu berbahaya.

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Tentang Penulis

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.