Locita

Di Atas Kursi Roda, Lelaki Itu Mengobarkan Intifada

NAMANYA Ibrahim Abu Thuraya. Umurnya 29 tahun. Ia adalah seorang nelayan di Jalur Gaza, Palestina. Pada hari Jumat sore (15/12) lalu, Abu Thuraya ikut pada aksi demonstrasi bersama ribuan warga Palestina, mengecam keputusan Donald Trump soal Jerusalem.

Kendati kakinya harus ditopang oleh kursi roda, ia turut berteriak mengecam Amerika dan sesekali meneriakkan takbir. Lelaki berjenggot lebat itu ditemukan tewas tertembak, sesaat setelah berunjuk rasa di dekat pagar pembatas wilayah yang dicaplok dan dijaga oleh militer Israel.

Kematiannya terjadi selepas Jumat. Bermula ketika tentara Israel menembakkan gas air mata ke hadapan demonstran. Di tengah kepungan gas air mata, dan para demonstran yang berjumlah sekitar 3.500, Abu Thuraya tampak kebingungan. Ia hendak melarikan diri menggunakan kursi rodanya.

Rekaman video dan foto dari lokasi kejadian menampakkan tubuh Abu Thuraya terdesak, kemudian terjatuh dari kursi roda, ia lantas merangkak di atas rumput tanah Jerusalem yang dicintainya. Ia sempat menjauh dari pagar pembatas. Setelah chaos itulah, Abu Thuraya ditemukan tewas tertembak dengan luka menganga di kepalanya.

Lelaki yang mengalungkan bendera Palestina di lehernya sore itu, diduga tewas karena timah panas penembak jitu (sniper) Israel. Abu Thuraya tewas bersama tiga orang warga Palestina lainnya, Jumat, Sore (15/12/2017).

“Pemakaman (Thuraya) telah berlangsung. Dia tewas ditembak pada Jumat saat berunjuk rasa di Jalur Gaza memprotes keputusan Donald Trump mengakui Kota Yerusalem sebagai ibu kota Israel,” demikian dilansir Guardian, Sabtu, 16 Desember 2017.

Thuraya dikenal sebagai orang yang aktif menolak keberadaan tentara Israel di wilayah Palestina yang telah dibagi dengan Israel. Dua hari sebelum tertembak, Abu Thuraya, menurut Guardian pernah diwawancarai media setempat dan mengatakan bahwa Amerika harus bertanggung jawab atas keputusan mengakui Jerusalem sebagai ibukota Israel.

“Ini adalah tanah kami. Kami tidak akan menyerah. Amerika harus menarik pernyataan yang telah dibuat,” kata Abu Thuraya yang kehilangan kakinya pada 2008 saat Operasi Cast Lead Israel di Gaza seperti diwartakan The Jerusalem Post, Minggu (17/12/2017).

Kematian Abu Thuraya, mau tak mau kembali memantik semangat para pejuang maupun warga Palestina baik di Gaza maupun di Jerusalem. Seperti di tahun-tahun sebelumnya Intifada pasti selalu dipicu oleh adanya korban atau martir akibat perlakuan tentara Israel.

Nasser Atta, seorang jurnalis yang berbasis di Yerusalem, sesaat setelah kematian Abu Thuraya berkicau di twitternya. Ia mengaku telah berbicara dengan banyak orang Palestina, dan mereka mengira kematian Abu Thuraya akan menjadi awal dimulainya intifadah ketiga. Mereka membandingkannya dengan Muhammad al-Dura yang terbunuh saat Intifadah Kedua.

Siapakah Muhammad Al-Dura? Ialah tokoh martir yang menyemai bibit perlawanan intifada II yang nampaknya akan menjadi contoh intifada ketiga melalui Abu Thuraya.

Sejarah Intifada

Dalam konflik Israel-Palestina, intifada meliputi semua gerakan perlawanan untuk merebut kembali tanah Palestina sebelum negara Israel berdiri pada 1947. Intifada berasal dari kata berbahasa Arab intifadlah. Akar katanya nafadla yang berarti gerakan, goncangan, revolusi, pembersihan, kebangkitan, kevakuman menjelang revolusi, dan gerakan yang diiringi dengan kecepatan dan kekuatan.

Dalam sejarahnya Intifada pertama meletus pada 9 Desember 1987. Intifada ini disebut juga dengan revolusi batu, karena warga Palestina melawan tentara Israel yang memiliki persenjataan lengkap hanya dengan batu yang diikat pada seutas tali kemudian diputar di atas kepala dan dilemparkan.

Intifada pertama atau I terjadi pada kurun 1987 hingga 1993. Pemicunya adalah empat warga Palestina yang tewas usai ditabrak oleh seorang warga Israel menggunakan mobil, di kamp pengungsi Jalur Gaza. Warga Palestina pun bereaksi keras dengan melakukan demonstrasi serta melakukan tindak kekerasan hingga boikot massal dan penolakan bekerja di kantor-kantor pelayanan di Israel. Warga bahkan memanfaatkan bom Molotov dan persenjataan lain untuk menuntut keadilan pada Israel. sesuatu yang dibalas militer Israel dengan menurunkan kekuatan penuh untuk menghentikan aksi ini.

Kelompok pejuang HAM di Palestina melaporkan, sepanjang intifada I serdadu Israel dan pemukim Yahudi diperkirakan telah membunuh rakyat Palestina sebanyak 1.283 orang, 481 orang diusir, 22.088 dipenjara tanpa pengadilan, serta 2.533 rumah dihancurkan.

Setelah itu, berlanjut Intifada II yang meletus kurun waktu 2000. Salah satu pemicunya ialah video Talal Abu Rahma yang bekerja untuk stasiun televisi Perancis, Channel 2 dan CNN. Talal berhasil mengabadikan adegan video seorang bocah berusia 12 tahun, Muhammad Al-Dura yang tewas ditembak oleh penembak jitu Israel.

Muhammad dan ayahnya di pagi yang dingin itu baru saja pulang dari pasar setelah mereka terperangkap pada sebuah situasi mencekam. Tiba-tiba mereka ditembaki, ayah Al-Dura, Jamal, lantas berteriak-teriak minta pertolongan agar sang penembak berhenti menghujani mereka. Jamal, bahkan memohon sambil mengangkat tangannya berteriak, “Jangan tembak-jangan tembak,”. Jamal mengangkat tangan sambil memasang badannya melindungi sang putra dari terjangan dari balik dinding.

Selama 45 menit, ayah Muhammad memang berhasil melindungi anaknya. Tapi Muhammad al-Durrah akhirnya tertembak, dan tewas di tempat itu juga. Reaksi warga Palestina pun sangat besar dan perlawanan menggunakan batu dan segala macam senjata kembali terjadi. Dalam gerakan perlawanan itu, sedikitnya 3.000 orang Palestina dan 1.000 warga Israel tewas.

***

JIKA kita mengkaji melalui Karl Marx, maka kondisi yang dialami warga Palestina merupakan bentuk kesengsaraan dan kemiskinan proresif kelas pekerja. Gerakan sosial ini hanya memerlukan semacam pemantik untuk dapat membesar dan membakar siapapun juga. Perlawanan yang membuncah dan menjadi gerakan sosial atau social movement yang digaungkan Karl Marx diakibatkan oleh sistem eksploitasi yang diciptakan kaum kapitalis.

Menurut Karl Marx lambat laun kondisi-kondisi semacam ini akan ditentang keras oleh kaum pekerja, para pekerja akan menemukan akar sosial dari penderitaan mereka, yakni karena ulah majikan mereka. Karena itu, mereka pun akan menggulingkan para pendindas mereka. Inilah alasan sebuah gerakan sosial bisa tiba-tiba membesar tanpa bisa diterka ketika menemukan momentumnya melalui seorang korban saja.

Serupa yang terjadi di Palestina, dan Intifada merupakan bentuk perlawanan mereka untuk menggulingkan para penindas. Kematian Abu Uraya dan Muhammad Al-Dura yang disebarkan melalui video memang hanya puncak dari rasa kemarahan. Namun, kematian mereka melahirkan rasa geram dan kebencian yang meletup terhadap para penindas tentunya.

Kematian Ibrahim Abu Thuraya, seorang aktivis disabilitas Palestina di Gaza pada Jumat (15/12) serta Muhammad Al-Dura pada 2000 lalu, menjadi simbol yang mengawali perlawanan Palestina terhadap perilaku kesewenang-wenangan. Kedua korban tersebut menjadi martir bagi perlawanan terhadap Israel.

Hal yang tidak pernah membuat perlawanan itu berhenti, karena selalu ada martir yang menjadi korban dan memupuk semangat melawan mereka. Seperti perkataan Amal, ibu dari Muhammad Al-Dura yang kini menghabiskan hidupnya bersama 5 saudara Muhammad.

“Anak saya tidak mati sia-sia. Ini adalah pengorbanannya untuk tanah air kita, untuk Palestina,“ ucapnya penuh haru.

Dan sepertinya melalui Abu Thuraya kita akan menyaksikan betapa intifada III menggelora. Tenanglah engkau di sana wahai para pahlawan Palestina!

Aco Pamatte

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Tentang Penulis

Aco Pamatte

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.