Locita

Bajo: Kisah di Balik Foto

foto: Rustam Awat

Bajo, suku pengembara laut perkasa. Suku pelaut nomaden yang telah tersebar di segala penjuru kepulauan. Memusatkan segalanya pada lautan. Laut adalah ibu yang menyediakan segala kebutuhan hidup suku pengembara laut ini. Bagi suku Bajo, laut serupa daratan yang bebas untuk dijelajahi.

Sebagaimana ditulis oleh Robert Dick-Read bahwa suku Bajo tersebar di mana-mana. Toponim “Bajo” dapat ditemukan dari ujung ke ujung kepulauan Indonesia: dari Kepulauan Mentawai di lepas pantai barat Pulau Sumatera hingga Papua di sebelah timur –sebuah wilayah yang sangat luas yang berjarak 2.500 mil dari barat ke timur dan 1.000 mil dari utara ke selatan. Mengagumkan.

Bertahun-tahun yang lalu seorang pelancong bernama Raymond Kennedy mengungkapkan bahwa “eksistensi Bajo ditandai dengan perjalanan mengarungi lautan. Berlayar di laut lepas layaknya burung-burung laut”.

Melihat Bajo, adalah melihat keunikan budaya. Bajo-lah satu-satunya suku yang menggantungkan hidupnya pada laut secara penuh. Sebelum tinggal di pesisir pantai secara menetap dengan membuat rumah bertiang bakau atau menimbun laut dangkal, suku pengembara laut ini tinggal dan benar-benar hidup di perahu selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Di dalam perahu itu, mereka beraktifitas, memasak, makan bermain, dan seterusnya. Semua hal dipusatkan di perahu. Perahu adalah rumah bagi bagi orang Bajo di masa-masa awal saat menjadi pengembara laut, penjelajah bahari, yang sebenar-benarnya. Suku pengembara laut ini secara konsisten berpegang teguh pada laut. Bila saja pemerintah tak memfasilitasi mereka untuk bermukim di darat atau di pesisir pantai, kemungkinan besar kita masih akan berjarak dengan Bajo dalam bermukim, sebab pemukiman kita dan mereka dipisahkan laut.

Bila kita mengunjungi perkampungan Bajo, maka mereka yang melihat kita sebagai pendatang akan berkata “bagai” pada teman atau orang tuanya yang berdekatan dengan dirinya. Bagai adalah kata dalam bahasa Bajo untuk menunjuk pada orang luar Bajo, sedangkan sesama Bajo akan menyebut yang lainnya sebagai sama’. Melihat pemukiman Bajo, tiang-tiang bakau berjejer menopang rumah-rumah kayu mereka.

Rumah-rumah sederhana ini begitu elok dipandang. Ada kesederhanaan dan kearifan lokal dalam memanfaatkan alam dengan menggunakan bakau sebagai tiang rumah, memanfaatkan anyaman bambu sebagai dinding rumah, dan daun rumbia sebagai atap. Yang menarik adalah dari beberapa pemukiman Bajo yang pernah saya kunjungi, baik di Buton dan juga Kaledupa (Wakatobi), pemukiman Bajo selalu terlindung dari terjangan ombak.

Bila pemukiman mereka berhadapan dengan laut terbuka, maka biasanya terdapat pohon-pohon bakau (mangrove) di sekitarnya yang berfungsi sebagai penahan ombak. Sebagai suku yang memanfaatkan laut secara penuh, dalam memilih lokasi bermukim, orang Bajo benar-benar telah mempertimbangkannya secara matang.

foto: Rustam Awat

Karena memusatkan segalanya pada laut, maka proses jual beli pun dilakukan di laut. Hal ini saya temui ketika mengunjungi Bajo Bahari, Kecamatan Wabula, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara. Di momen itu, saya melihat pembeli menyerahkan uang dari jembatan kayu, sedangkan pedagang memberikan dagangannya dari perahu. Biasanya pembeli akan membeli di lorong, jembatan, dan juga di bagian depan rumah mereka.

Si penjual, biasanya seorang ibu akan mendayung melewati kolong-kolong rumah bertiang bakau sambil membawa dagangan berupa roti, kue, dan aneka cemilan lainnya di dalam perahunya. Orang Bajo bagitu menakjubkan, seolah tak ingin berpisah dengan laut termasuk hanya untuk urusan menjual kue, gorengan, dan juga snack.

foto: Rustam Awat

Pemukiman orang Bajo yang dibangun di atas laut secara keseluruhan terhubung dengan jembatan-jembatan kayu dan papan, sehingga di antara mereka bebas untuk saling mengunjungi. Dari bocah ingusan hingga nenek-nenek, dan bahkan ibu hamil bisa dengan santainya berjalan di titian itu seakan berjalan di daratan. Bilah kayu dan papan satu lembar itu hanya berukuran selebar 25-30 cm, yang bila dilewati bukan hanya sempit tetapi juga goyah.

Bagi kita orang di luar Bajo, saat melihat mereka berjalan dan bahkan berlari, terutama anak-anak, menimbulkan semacam kekaguman tersendiri. Bagaimana tidak, jembatan papan atau kayu itu tidak memiliki pegangan sehingga saat melewatinya, kita harus menjaga keseimbangan agar tidak tercebur di laut.

foto: Rustam Awat

Sedari kecil, anak-anak Bajo belajar mengakrabi laut, sebab semuanya bermula, bertahan, dan juga akan berakhir di laut. Mereka yang bertumbuh akan mewarisi pengetahuan dari leluhur mereka bahwa laut adalah nafas hidup yang tak akan pernah berhenti berdenyut dalam setiap jiwa-jiwa Bajo. Banyak anak-anak Bajo yang masih lebih menyukai laut dibanding sekolah, masih lebih senang memegang dayung dan tombak dibanding pena. Laut dan segala isinya begitu lekat dalam ingatan dan pengetahuan orang Bajo sebagai bagian dari gerak hidupnya.

foto; Rustam Awat

Semakin banyak melangkah, semakin sering bepergian, semakin jauh menjelajah, akhirnya kita akan kaya dengan pemandangan, menemukan banyak pengalaman, pengetahuan, dan cerita di sepanjang perjalanan itu. Masih tetap dengan cerita tentang Bajo, di pasar Sampuafatu yang terletak di Desa Ambeua, Kecamatan Kaledupa, Kabupaten Wakatobi, orang-orang Bajo Sampela menjejerkan perahunya, berjualan di bawah jembatan dan menengadah saat menawarkan hasil laut yang mereka jual.

Pembeli akan melihat, menanyakan, dan menawar harga ikan dari jembatan. Sebuah pemandangan yang unik, bagaimana interaksi antara orang darat dan orang laut terjadi. Seakan ada garis imajiner tentang batas teritori masing-masing. Saat berkunjung di pasar ini di suatu siang, saya melihat di bawah jembatan itu, seorang ibu Bajo Sampela yang menjual ikan dengan lahapnya sedang memakan potongan-potongan ikan karang mentah tanpa jeruk maupun cuka.

Bagi orang-orang Bajo mungkin itu hal yang biasa, tapi bagi orang darat harus menyiapkan mental terlebih dahulu untuk melakukannya, kecuali bila ikan itu telah diberi jeruk untuk menghilangkan bau dan rasa amisnya.

foto: Rustam Awat

Lain Bajo Sampela, lain pula Bajo Kanawa. Di Bajo Kanawa yang merupakan bagian dari Kecamatan Siotapina, Kabupaten Buton saya menyaksikan pemandangan yang agak berbeda. Pagi itu seorang ibu menemani anaknya yang sedang sarapan di jembatan kayu depan pintu rumah mereka. Kemungkinan sarapan seperti ini bukan yang pertama kali, namun sering dilakukan bila melihat gaya sang anak dan sikap sang ibu yang santai seakan tak takut anaknya terpeleset dan tercebur ke laut.

foto: Rustam Awat

Masih tentang Bajo Kanawa, di sudut yang lain di pagi itu, saya melihat anak Bajo berseragam sekolah sedang sarapan di tanah yang lapang. Di tanah itu bambu-bambu berserakan, dan di antara bambu itu ada rompong baru yang belum sempat dipasang ke laut. Ia menikmati sarapan nasi kuningnya dengan duduk di rompong itu. Pemandangan itu mengasyikkan sebab tempat sarapan pun bersentuhan dengan nuansa laut. Ini membuktikan bahwa sedari awalnya Bajo tidak dapat dilepaskan dari unsur-unsur laut dalam keseharian mereka meski telah bertempat tinggal di darat.

foto: Rustam Awat

Tak puas memotret Bajo Kanawa, sehari setelahnya saya mengunjungi Bajo Indah yang terletak di Desa Bahari Makmur, Kecamatan Siotapina, Kabupaten Buton. Di Bajo Indah inilah saya melihat anak-anak Bajo bersekolah tidak jauh dari pemukiman mereka. Wajah-wajah ceria bermain di halaman sekolah tanpa pintu gerbang, dan pagar kayu yang hampir roboh. Bersekolah di desa yang jauh dari kota, tak bersepatu atau tak beralas kaki sama sekali, seakan termaklumi karena ini pemandangan yang banyak dijumpai di sini.

Di sekolah ini ada anak-anak yang membawa buku tulis yang diisi di dalam kantong plastik yang berfungsi sebagai tas. Ada anak-anak yang membawa ketapel kayu. Nuansa-nuansa seperti ini sudah  hampir tidak kita temukan di sekolah-sekolah pada umumnya. Anak-anak sekolah ini masing-masing dengan kesibukannya asyik bermain saat jam istirahat.

foto; Rustam Awat

Setelah memotret anak-anak Bajo yang bersekolah, saya penasaran bagaimana kira-kira pemukiman Bajo Indah. Pemukiman ini ditimbun batu-batu karang dan dibuat lorong-lorong sebagai tempat lalu lalang perahu. Di kiri-kanan pemukiman, pohon bakau tumbuh subur. Saat menyusuri pemukiman, saya melihat ibu-ibu yang masih menyisipkan sirih pinang di mulutnya sambil mendayung perahu, menyaksikan pompa air yang diakses bersama saat mencuci, memandang rumah yang dinding luarnya dihiasi dengan pajangan ekor tuna yang dicat warna-warni.

Apa yang saya lihat, tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Dari beberapa pemukiman suku Bajo yang pernah saya kunjungi, rumah berhiaskan pajangan ekor tuna-lah yang begitu unik karena merupakan satu-satunya yang saya temukan selama ini. Pajangan itu seakan menggambarkan bagaimana si bapak selama ini telah bertarung dan menaklukkan tuna-tuna dalam kesehariannya di laut.

foto: Rustam Awat

Berbicara tentang Bajo seakan tak ada habisnya. Menjadi wajar kiranya peneliti Francois-Robert Zacot dapat bertahan selama 30 tahun untuk hidup di tengah-tengah masyarakat Bajo Pulau Nain (di Utara Manado) dan Bajo Torosiaje (Gorontalo) dan menghasilkan buku etnografis tentang suku pengembara laut yang hebat ini.

Saya bangga pernah mengunjungi beberapa pemukiman Bajo yang ada di Sulawesi Tenggara, itu pengalaman yang tak akan terlupakan. Saya juga senang karena mengabadikannya rutinitas mereka dalam bidikan lensa kamera. Melihat kembali foto-foto Bajo yang pernah saya kunjungi, saya tergoda untuk membuat cerita di balik foto, dan inilah hasilnya.

Rustam Awat

Rustam Awat

akademisi, pejalan, pemotret

Tentang Penulis

Rustam Awat

Rustam Awat

akademisi, pejalan, pemotret

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.