Locita

Corona Bukanlah Aib, Mengapa Harus Mengusir? Corona adalah penyakit biologis, hilangnya empati dan solidaritas adalah penyakit hati yang bisa lebih berbahaya

Ilustrasi (foto: shutterstock)

Sudah ada lebih satu juta orang di dunia ini yang mati karena virus corona. Di Indonesia, sudah hampir 200 yang menjadi korban. Pandemi corona telah membangkitkan empati dan solidaritas begitu banyak orang.

Dalam sebuah video singkat, di luar negeri, seorang perawat berjalan keluar dari apartemennya menuju mobilnya. Sebelum meraih gagang pintu mobilnya, ia tiba-tiba harus melap air mata yang jatuh dari kedua matanya. Tak lain sebab para tetangganya memberi tepuk tangan semangat untuk bekerja.

Bekerja menghadapi dan menyembuhkan pasien Covid-19. Ia sampai sejenak membungkukkan badan. Berterima kasih dan terharu atas dukungan moral yang terlihat sederhana tetapi begitu menyentuh dan berarti itu.

Sementara itu…

Perawat pasien corona di RS Persahabatan diusir dari kosannya. Beberapa dokter dan tenaga medis lain mengalami perlakuan yang sama. Pemilik kos memintanya untuk pindah. Tentu kejadiannya di Indonesia.

Hal yang sama juga dialami NA. Seorang pasien Corona di Lampung. Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit rujukan, ia diperbolehkan pulang karena hasil pemeriksaan menunjukkan ia negatif Corona.

Tetapi harapan pulang untuk beristirahat di tempatnya pupus ketika ia harus menerima kenyataan diusir dari kosannya. Selain diusir dari kosannya, ia juga dipecat dari tempatnya bekerja. Sebuah kepahitan hidup yang lengkap.

Di Makassar, Depok, dan ternyata kemudian juga diikuti beberapa tempat yang lain, kedatangan jenazah untuk dikuburkan ditolak. Bukan hanya ditolak tetapi diusir. Dan bukan hanya ditolak dan diusir tetapi juga para petugas dilempari batu.

Mengapa warga bisa berubah menjadi bar-bar alih-alih prihatin? Mengapa orang Indonesia yang konon memiliki rasa kepedulian dan tenggang rasa bisa dibuat berubah sedemikian drastinya? Mengapa tidak justru Corona ini semakin menunjukkan dan menegaskan bahwa kita memiliki nilai-nilai luhur yang tinggi?

Stigma. Stigmatisasi.

Di tengah masyarakat yang mudah menerima berita dan kabar begitu saja, ditambah dengan kepanikan dan ketakutan yang berlebihan, masyarakat menjadi judgemental. Buntut dari sifat judgemental atau mudah menghakimi tersebut adalah terbentuk polanya stigma.

Pada mulanya stigma itu hanya dipercaya beberapa orang. Lalu kemudian menyebar dan dipercayai demikian benar adanya. Terlebih jika tidak ada pencerahan terhadap stigma yang berkembang tersebut.

Memprihatinan.

Saat seharusnya kita bersatu melawan virus Corona, kita justru hanya berusaha menyelamatkan diri sendiri. Sebagian dari kita justru mengusir dan melemahkan semangat mereka para pejuang garis depan.

Setidak-tidaknya ketika kita tidak bisa memberikan dukungan materi, selemah-lemahnya dukungan dengan bantuan moral, dengan kata-kata positif misalnya.

Padahal corona bukanlah aib. Bukan dosa. Tentu tidak ada yang ingin meninggal hanya karena corona. Semua yang menjadi korban corona pasti telah berjuang sebisa mungkin untuk berjuang sendiri. Sampai Prof. Said Aqil menyatakan bahwa barang siapa yang telah berjuang melawan penyakit corona sampai akhirnya ia meninggal maka ia digolongkan mati syahid.

Sayangnya stigma dan aib ini terlanjut melekat. Keluarga saya bahkan hampir saja menjadi korban. Pada pertengahan Maret lalu, ketika wabah Corona tidak separah kini, saya sedang membawa jenazah kakak saya dari Ambon ke Sinjai, 4-5 jam dari Makassar waktu normal. Ada banyak yang melayat.

Namun, belakangan sempat ada sepelamparan isu jika beberapa ada yang memilih tidak hadir karena khawatir kakak saya meninggal karena corona. Tentu saja tidak benar, sebab kakak saya meninggal karena komplikasi jantung dan hati.

Kita mungkin dan boleh kehilangan banyak hal karena ujian dan musibah Corona ini. Namun, sekiranya kita tidak kehilangan rasa kemanusiaan kita. Kita seharusnya justru memberi empati dan bantuan sebisanya kepada mereka yang berjuang melawan Corona.

Kepada para dokter dan perawat di tengah keterbatasan APD (alat pelindung diri), kita seharusnya mensyukuri ada yang bersedia berjuang dan mempertaruhkan nyawanya di garis paling depan. Mereka juga manusia, punya keluarga.

Kepada pasien yang berhasil sembuh, kita belajar untuk melawan virus ini dan menyebarkan rasa optimis kepada pasien yang lain. Kepada jenazah sekalipun, kita harus tetap menghormati.

Dalam Islam, yang menjadi mayoritas di negeri ini, jenazah diperlakukan dengan sepenuh hormat. Kalau pun tidak, kita menjaga perasaan keluarganya yang justru jauh lebih terpukul. Mereka tidak lagi boleh memandikan dan mengubur dan hanya bisa melihat dikuburkan dari jauh, jika pun sempat.
Mudah-mudahan kita menjaga diri sendiri dan orang lain dan selalu berpikir jernih. Jangan sampai penyakit hati –yang bisa lebih parah—justru mematikan rasa kemanusiaan kita.

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Tentang Penulis

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.