Locita

Balada Media ‘Ngawur’ dan Beritanya yang Asal Ngasal

ilustrasi media (foto: liputan6.com)

Beberapa waktu lalu, dalam sebuah temu bincang, saya membawakan sebuah materi tentang seberapa jauh kita harus percaya kualitas pendidikan dengan berdasarkan dari survei Programme for International Student Assesment (PISA). Posisi saya dalam konteks tersebut jelas; menolak dan mengkritisi hasil PISA, termasuk mengkritisi media-media yang asal memberitakan.

Media selama ini berperan besar, seakan mengukuhkan kepercayaan bahwa PISA adalah satu-satunya alat ukur yang dapat digunakan semua negara. Tidak sedikit sesama pengajar dan akademisi yang menggunakan PISA dengan merujuk kepada media-media yang memberitakannya.

Beberapa jam selepas membawakan materi, rilis kegiatan itu dimuat media dengan redaksi seperti ini; “Saat ini kiblat pendidikan adalah Eropa, contohnya negara Finlandia yang saat ini memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia. Sepertinya Indonesia harus belajar dari Finlandia, karena Indonesia saat ini berada di urutan 74 berdasarkan hasil PISA 2018 dari 79 negara, “ jelasnya.

Bagi mereka yang tidak mengikuti dialog tersebut akan menyimpulkan bahwa PISA dapat menjadi rujukan dan apalagi ini diucapkan oleh saya. Seorang dosen dan alumni Amerika Serikat. Pembaca akan diyakinkan dengan status tersebut. Padahal yang saya maksudkan justru sebaliknya.

Bahwa saya mengatakan kata-kata tersebut memang benar. Tapi pernyataan ini adalah pembuka. Saya membahasakan ulang narasi yang selama ini dibangun media. Yang saya katakan selanjutnya adalah bantahan dan kritik terhadap hasil PISA.

Saya beruntung sebab ketika saya menyempatkan membaca berita tersebut saya segera menghubungi pihak medianya. Kebetulan pernyataan tersebut dirilis oleh mahasiswa sehingga dengan begitu saya dapat meminta dirilis ulang dengan perubahan. Artinya, saya memiliki kontrol sebelum dibaca lebih banyak orang, sebelum malah dijadikan argumen yang justru tidak saya sepakati. Bahkan saya juga memiliki kuasa untuk memberitahu kepada mahasiswa tersebut, yang memang saya kenal dan mahasiswa sendiri. Saya bisa membimbingnya agar tidak melakukan kesalahan serupa.

Namun, tidak demikian halnya dengan media-media, terutama media online yang seenaknya memotong pernyataan demi kepentingannya. Dan itulah yang terjadi dalam banyak kejadian di negeri kita.

Sama halnya ketika ketua KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) membuat pernyataan bahwa seorang perempuan bisa hamil jika berenang di kolam renang bareng laki-laki. Kita tahu bahwa pernyataan itu tidak sepenuhnya benar atau memang tidak benar. Tidak ada bukti ilmiah yang mendukung argumen tersebut. Mau dipahami dengan logika sederhana juga sama. Kita belajar biologi saat SMP misalnya. Yang barangkali masuk akal ya pembuahan pada tanaman atau buah-buahan.

Namun alih-alih mencari bantahan beberapa awak media justru memviralkan. Padahal tidak sulit mencari bantahan pernyataan keterangan Siti Hikmawati, Ketua KPAI tersebut. Saya meyakini para awak media itu tetap memiliki otak yang masih cukup memfilter benar tidaknya isu yang hendak diangkat.

Tetapi yang terjadi justru awak media menikmati dan seperti sengaja menunggu seorang, katakan itu tokoh yang memiliki pengaruh, salah bicara. Kesalahan bicara itu kemudian dilepaskan dari konteks dan menjadi bahan bakar memanen klik. Media kemudian mendapat keuntungan untuk pihaknya sendiri dan mengabaikan dampak yang bisa ditimbulkannya.

Dalam konteks ini media gagal menjadi kontrol sosial. Media sendiri justru tidak dapat mengontrol dirinya. Media justru membombardir agar semakin banyak tersebar. Media tidak melakukan verifikasi. Media kemudian tidak mencerdaskan masyarakat dan malah meresahkan masyarakat.

Lalu apa hal baik jika pernyataan yang kita sama-sama tahu konyol itu diberitakan berulang-ulang? Yang kemudian si pembuat pernyataan menjadi bulan-bulanan dan menjadi bahan rundungan. Saya pikir kita tidak mendapatkan apa-apa. Selain kegaduhan demi kegaduhan. Selain kekonyolan demi kekonyolan oleh media yang seharusnya memberikan yang lebih bermanfaat, lebih berfaedah.

Media seharusnya menjadi media edukasi bagi masyarakat dengan menyediakan berita-berita yang mencerahkan. Media justru menjadi counter jika ada pernyataan-pernyataan yang bisa menyesatkan. Netizen yang sudah begitu mudah gampang menelan berita ngawur janganlah lagi ditambah-tambah ngawur.

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Tentang Penulis

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.