Locita

Pemilik Kopikina, Merawat Tanah Air dari Secangkir Kopi

Swangga bersama sang istri. (Foto: Aco')

Asap hitam tipis terombang-ambing di udara, pekat sesekali menutupi ruangan yang beukuran setengah lapangan voli. Pada sebelah kanan sudut ruangan itu, seseorang tampak duduk, sambil sibuk mengaduk searah putaran jarum jam.

Aroma khas pun menyeruap, bersama asap, terbawa angin menerobos keluar melalui celah jendela, terbang untuk kemudian lenyap tersapu langit Jakarta, Kamis pagi (17/08) di hari kemerdekaan itu.

Asap ini berasal dari kedai kopi yang terletak di pinggir Jalan Abdullah Syafei, Jakarta Selatan. Jika memasuki ruangan kedai kopi ini, tak perlu heran jika Anda disambut dengan aroma kopi tadi. Sambil mencicipi pesanan, Anda akan girang menyeruput setiap tegukan kopi Anda.

“Ada hampir 60 jenis kopi, bisa dipilih untuk diseduh, tapi ini sudah tinggal sedikit Mas,” kata barista Kopikina sambil memperlihatkan toples berisi biji kopi kepada saya.

Setelah memesan kopi. Saya pun duduk di sudut ruangan lain, sambil menanti secangkir kopi Cappucino.
Jangan duduk berlama-lama, kalau tidak, Anda akan terbawa ke masa lampau. Selain karena aroma kopi khas Nusantaranya, juga karena ruangan ini bertema ethnic vintage.

Dinding kedai rerdiri dari susunan batu bata, sengaja tidak ditutup sempurna menggunakan semen, dihiasi banyak frame foto hitam putih daerah Indonesia.

Sekeliling ruangan pun ada furniture seperti, radio, kamera analog hingga meja dan kursi jadul menambah kesan kuno ruangan ini. Suasana itu semakin nyata dengan alunan musik klasik, yang bersumber dari pemutar lagu piringan hitam.

Kedai kopi ini memang tak pernah sepi, sama seperti pagi itu, meski di balik pintu masih tertera tanda tutup.

“Kopi ini bahannya dari Temanggung Mas,” sambung barista tadi, sambil menyorongkan secangkir kopi.

Sekitar sejam menanti, akhirnya pemilik Kopikina Cornelius Swangga (28) datang, menyanggupi permintaan wawancara Locita.co. Perawakan yang sedang-sedang saja untuk ukuran orang Indonesia, Swangga-–panggilan akrabnya–tampak santai dengan mengenakan kaus merah dan celana jins di hari yang bertepatan dengan kemerdekaan itu.

Swangga membuka perbincangan dengan cerita awal mula memutuskan berhenti sebagai karyawan dan memutuskan fokus menggeluti bisnis kopi. Menyelesaikan kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 2010 silam.

Ia langsung bekerja hingga awal tahun 2017 memilih resign. Swangga memutuskan fokus menggeluti bisnis kopinya, setelah menyadari ada potensi yang sangat besar dari kopi Indonesia.

“Tingkat konsumsi kopi kita masih sangat rendah jika dibandingkan dengan produsen kopi lain, bahkan lebih rendah dibanding Vietnam padahal kita memiliki lebih banyak jenis kopi terbaik,” ujarnya.

Tak hanya jadi pemilik kedai kopi, bahkan kini bersama timnya, Swangga menjadi pembina untuk petani kopi di berbagai daerah di Indonesia. Kendati baru empat tahun, Kopikina telah membina beberapa petani kopi guna memenuhi pasar ekspor biji kopi ke Jepang, Jerman dan Ukraina.

“Kami berusaha memenuhi kualifikasi kelayakan internasional untuk cita rasa kopi bernilai tinggi,” kata Swangga penuh optimisme.

Swangga melanjutkan ceritanya, keputusan berdagang kopi diawali ketika ia bekerja sebagai geologis di sebuah kantor pertambangan yang berpusat di Jakarta. Setelah beberapa tahun bekerja keluar masuk menetap di pelosok daerah.

Ia memutuskan membuka kedai kopi sebagai sambilan dengan menjalin kerjasama bersama para petani kopi di berbagai daerah yang pernah ia temui. Selang tiga tahun menjalankan kedai kopi sembari bekerja, enam bulan lalu ia memutuskan berhenti sebagai karyawan dan memilih fokus mengurusi kedai kopinya.

“Energi dan waktu sangat terkuras, karena bekerja dua tempat, akhirnya saya tiba di suatu fase menentukan memilih usaha kopi ini,” terang Swangga.

Berhenti dari perusahaannya, membuat ia benar-benar fokus menjalankan bisnis yang baru pertama kali digelutinya itu.

Ruangan dipenuhi foto hitam putih serta piringan hitam yang memuat lagu-lagu lawas. (foto: Aco’)

Kini ia merasa berbahagia sebab dapat membantu para petani kopi memasarkan kopi mereka ke Jakarta. Bahkan hingga mancanegara terutama memperkenalkan berbagai jenis kopi yang asing di telinga penikmat kopi di Jakarta.

Sebut saja seperti kopi Kopi Preanger Malabar, Bondowoso Pancur, Ciwidey, Monoreh Suralaya, Merapa, Temanggung Sumbing, Sunda Hejo, Sunda Gesha, yang berasal dari Pulau Jawa kemudian ada kopi dari Pulau Sumatera di antaranya Gayo Umang, Blang Gele, dan Humbang Hasundutan.

“Ada potensi sangat besar bagaimana kalau kopi-kopi dari daerah tersebut saya hadirkan untuk konsumen di Jakarta di satu tempat, di mana konsumen bisa menemukan semua jenis kopi Indonesia,” kata Swangga.

Mendirikan Kopikina empat tahun lalu, Swangga mengaku bermodalkan semangat dengan tabungan yang ia miliki, setelah mantap membeli tanah dan membangun sebuah tempat di Tebet. Ia kemudian mengontak jaringan petani kopinya kemudian membeli dan mengeolah biji kopi tersebut di Kopikina.

Ditemani beberapa kawannya, awalnya mereka sempat kepayahan sebab belum memiliki ilmu yang mumpuni perihal jenis kopi terbaik. “Setelah dua tahun menjalankan Kopikina, saya mulai sadar bahwa kopi itu ada derajat kualitasnya, kami pun mulai menyeleksi kopi dan hanya menyediakan kopi yang kualitasnya itu memang udah tercapai treshold-nya,”tambah Swangga.

Kedai Kopikina ini bisa dibilang adalah proyek idealisme seorang Swangga. Berkeliling ke banyak tempat di Indonesia membuatnya memahami betapa rakyat Indonesia dikarunia kekayaan yang melimpah. Tak hanya kopi, jenis komoditi lain pun sangat kaya dan beragam tapi belum dikelola dengan cukup baik.

“Setelah saya riset ternyata 33 dari 34 provinsi di Indonesia semua punya perkebunan kopi. Di situ saya bisa melihat bahwa potensi keberagaman kopi yang kita miliki sangat besar,” ungkapnya.

Ditemani secangkir kopi perbincangan kami terus berlanjut, sampai tak terasa jarum jam menunjukkan pukul 12 siang. Kedepannya Swangga dan tim Kopikina hendak membuat semacam market place untuk kopi khusus Indonesia.

Platform digital yang menyediakan berbagai macam jenis kopi di Indonesia ini akan dijual untuk pasar ke luar negeri, tapi tetap atas pengawasan mereka dengan standar kopi internasional.

Kedai Kopikina tampak depan. Kedai dibuka sejak pukul 10 pagi hingga pukul dua dini hari. (Foto: Enthusiast Coffee)

“Semacam platform tapi bukan open market place. Kita mengelola kebun sendiri dengan bekerjasama bersama kelompok petani untuk menghasilkan kopi yang level dan kualitasnya terstandar internasional,” tambah Swangga.

Rencana yang tahun ini akan direalisasikan tersebut, kata Swangga lahir dari keprihatinan mereka melihat cara pengelolaan kopi Indonesia selama ini yang salah. Kalangan petani kopi masih menerapkan cara tradisional kala memanen kopi.

Kualitas kopi mereka akhirnya rendah. Ia menerangkan bahwa ada banyak pola yang salah baik pada proses pra maupun pasca panen.

Ia mencontohkan di mana pasca panen hanya dianggap sebagai proses pengupasan, belum dianggap sebagai proses manipulasi rasa yang mampu meningkatkan nilai tambah dan berujung pada peningkatan harga kopi.

Selain itu adapula proses petik merah, tingkat kematangan sempurna kopi ketika warnanya merah kadang diabaikan petani. Hal ini menyebabkan kadar gula dari kopi rendah.

“Nah, kalau di Indonesia kebanyakan itu mereka petik asal, karena hanya melihat volume. Komoditas kadang dilihat dari kuantitas saja itu membuat kita dobel rugi, pertama cita rasa jadi buruk, kedua kuantitas menurun karena dipetik belum saatnya,” jelas Swangga.

Menutup wawancara itu, Swangga berharap dapat melakukan sesuatu bersama teman-temannya agar memberi rmanfaat bagi masyarakat Indonesia untuk menghasilkan sebuah produk kopi asli yang memiliki nilai tambah bagi seluruh orang yang terlibat.

“Kita ingin mengambil bagian dari proses peningkatan nilai tambah produk kopi Indonesia. Harapan kami dari sebagian besar pelaku kopi Indonesia, sudah saatnya kopi indonesia dikelola dengan baik supaya nilai tambah yang diperoleh indonesia bisa lebih besar lagi,” tutup Swangga.

Sesuai dengan namanya Kina, yang diambil dari kata Kopi Indonesia, memang mewakili rasa asli kita sebagai bangsa beragam, darilah semangat anak muda ini, ada bakti bagi Pertiwi dan untuk Tanah Air lewat secangkir kopi.

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Tentang Penulis

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.