Locita

Doa yang Tak Dikabulkan

Ilustrasi: Indosport

“KYAI… tabe. Bagaimana kalau senin lusa, pengajian ditunda dulu”. Tesa mengajukan permintaan di ujung pengajian.

“Memang kenapa, nak Tesa?”

“Anu……Kyai.” Tesa jeda sejenak sembari menggaruk-garuk kepalanya, “hari itu PSM main lawan Bali United.” Kyai Saleh tersenyum. Pertandingan PSM (Persatuan Sepakbola Makassar) vs Bali United memang menyita perhatian warga Makassar beberapa hari ini.

Dari berita koran, Kyai Saleh mengetahui kalau pertandingan ini sangat penting bagi PSM musim ini. Meski tidak terlalu fanatik, Kyai Saleh pun senang menonton pertandingan sepakbola.

“Ini pertandingan menentukan, Kyai” Dani ikut memberi dukungan.

“Iya kyai. Kalau PSM menang peluang untuk juara sangat besar.” Ale ikut nimbrung.

“Baiklah… hari senin depan. Pengajian ditunda dulu. Silahkan yang mau menonton pertandingan PSM di stadion.” Kyai Saleh memberi keputusan.

“Terima kasih, Kyai” Tesa tersenyum lebar.

Dani, Ale dan beberapa jamaah pria lainnya turut tersenyum girang. “Baik… mari berdoa sebelum kita menutup pengajian.”

Tabe, Kyai!” Ale menyela.

“Kenapa nak Ale?”

“Bisakah Kyai membacakan doa agar PSM nanti menang lawan Bali United?” Kyai Saleh tersenyum simpul sambil menganggukkan kepala. Lalu, Kyai Saleh membaca doa penutup. Ale mememjamkan mata dengan khusyu. Dia mengaminkan setiap lafadz doa Kyai Saleh dengan suara yang mantap. Doa Kyai Saleh sangat penting baginya untuk kemenangan PSM.

Senin sore, Ale, Tesa, dan Dani bersegera menuju Stadion Mattoanging. Mereka memutuskan untuk Salat Magrib di masjid stadion. Suasana jalan menuju stadion Mattoanging biasanya sangat macet menjelang pertandingan yang melibatkan PSM. Apatah lagi, pertandingan yang menentukan seperti ini.

Animo warga Makassar pasti lebih besar. Ale sangat optimis PSM akan menang. Sepanjang perjalanan, Ale menjelaskan kans PSM menang melawan Bali United kepada Tesa dan Dani. Selain karena skuad PSM sangat baik dengan kehadiran Pluim dan Klok di lapangan tengah, juga karena Kyai Saleh sudah berkenan mendoakan.

Ale yakin PSM bisa mengakhiri puasa gelarselama 17 tahun. Tesa dan Dani hanya manggut-manggut mendengar analisis Ale. Pukul 19.30. Wasit meniup peluit tanda pertandingan dimulai. Suasana stadion bergemuruh dengan teriakan berirama dari beberapa kelompok supporter PSM sepanjang pertandingan.

Pertandingan berjalan alot. PSM memainkan sepakbola indah dengan alur yang teratur sejak menit pertama. Peran William Pluim di lapangan tangan membuat permainan terlihat menarik. PSM menguasai ball position. Ale sangat senang dan berteriak tiada henti.

Peluang demi peluang yang tercipta membuat adrenalin Ale, Tesa,dan Dani serta seluruh stadion terpacu cepat. Sayang, kiper Bali United bermain cemerlang. Tendangan Klok ditepisnya dengan sigap. Begitu pula dengan peluang dari penyerang PSM lainnya.

Ale semakin yakin menang ketika pemain Bali United, Komvalius dan Stepano Lilipaly terlibat perkelahian antar mereka sendiri. Namun, pertandingan berakhir anti klimaks. Satu serangan cepat Komvalius, Irfan Bachdim, diselesaikan dengan dingin oleh Stephano Lilipaly di menit 90.

Ale, Tesa, dan Dani terdiam lesu. Stadion Mattoanging terhenyak. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba stadion rusuh. Emosi para supporter tak terbendung. Botol beterbangan. Supporter memasuki lapangan.

Ale pun terbakar emosi.Dia ikut berlari ke tengah lapangan. Tesa dan Dani kewalahan mengikutinya. Untung saja, para pemain Bali United dan segelintir pendukungnya sudah dievakuasi oleh pihak keamanan sejak pertandingan selesai.

Keesokan harinya, Ale bersama Tesa dan Dani menemui Kyai Saleh dirumahnya.“Bagaimana ini Kyai? Kenapa Tuhan tidak mengabulkan doa kyai?” Ale bertanya dengan nada sedikit kesal.

Kyai Saleh tersenyum simpul melihat wajah Ale yang geram dan kesal. “Siapa bilang doa saya tidak dikabulkan?”

“Buktinya… PSM kalah, Kyai.”

“Lah… saya tidak mendoakan PSM menang. Saya mendoakan supaya pertandingan itu berjalan baik dan tidak menyebabkan gangguan bagi masyarakat Makassar secara umum. Nah, meski sempat ricuh di stadion tetapi tidak ada eksesnya diluar stadion. Itu berarti doa saya dikabulkan.”Ale melongo. Tak menyangka Kyai Saleh akan menjawab seperti itu.

“Tapi kyai, bukankah saya meminta agar PSM didoakan menang.”

“Nak Ale. Ingat. Saya pernah bilang di pengajian. Jika semua perjuangan bisa dengan intervensi Tuhan maka Nabi Muhammad tidak perlu melibatkan sahabat-sahabatnya berperang. Cukup Nabi sendiri saja berdoa kepada Allah dan meminta agar Allah mengalahkan orang-orang kafir.

Siapa yang bisa mengalahkan kekuatan Allah.Tetapi tidak, nabi berperang, nabi berjuang. Beliau biasanya berdoa agar diberi kekuatan untuk menghadapi cobaan sehingga strategi perang yang disusun bersama sahabatnyabisa berjalan lancar.

Nah, suatu ketika sahabat Nabi tidak mengindahkan strategi perang Nabi, akhirnya mereka kalah. Bahkan salah satu gigi Baginda Nabi patah terkena senjata musuh lawan.”

Trus bagaimana Kyai? Saya masih kesal… permainan PSM sangat bagus tetapi keberuntungan tidak berpihak.”

“Nak…Ale. Saya pun ikut menonton pertandingan itu. Bali United menggunakan strategi berbeda dengan PSM. Bali menerapkan sistem bertahan yang berjalan denganbaik. PSM dan Bali United bermain dengan polanya masing-masing. Dan, kali ini strategi Bali lebih berfungsi. Boleh juga karena memang PSM kurang beruntung dan Bali lebih beruntung. Dalam pertandingan olahraga, strategi dan keberuntungan adalahpaket kemenangan.”

“Tetap kalah kita, Kyai. Peluang juara sirna musim ini” Dani menyela.

“Siapa bilang kita kalah.”

“Ahh… jangan mainkan perasaan kami kyai” Tessa ikut menyela.

“Looohh… kita tetap menang nak. Sebagai tuan rumah, kita menang. Kita memang kalah di lapangan, kita sempat emosi sehingga ada kericuhan kecil. Tetapi, kita tidak menciderai para pemain lawan. Di luar stadion semua berjalan terkendali. Saya tidak mendengar ada kerusuhan di tengah kota. Itu berarti kita menang. Kita menang melawan diri kita sendiri. Kemenangan dan kekalahan adalah dua irama kehidupan. Menghormati kekalahan adalah wajah lain dari kemenangan.”

“Lalu, bagaimana-mi Kyai?” Suara Ale terdengar melemah.“Jangan patah dukungan kepada PSM. Musim depan semoga lebih baik”

“Amin..” Ale, Tesa, dan Dani berucap kompak. Ale mengusap wajah. Kesedihan dan kekesalannya sedikit terhibur oleh petuahKyai Saleh. Namun, selama tiga hari tiga malam, Ale kesulitan untuk tidur. Setiap memejamkan mata, bayangan gol Lilipaly serta penyelamatan gemilang kiper Bali United selalu membayangi dan memberati ingatannya.

Ah, andai saja!

Avatar

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Tentang Penulis

Avatar

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.