Locita

Pengabdi Setan yang Baik dan Meme yang Kurang Ajar

Sumber Foto: duniaku.net.com

Periode bulan September hingga Oktober bisa dibilang bulan yang ramai akan film Indonesia. Sebut saja Jembatan Pensil, My Stupid Boyfriend, Suhu Beku, Jomblo, Merah Putih Memanggil hingga Pengabdi Setan.

Pengabdi Setan karya Joko Anwar ini yang paling sering menarik perhatian. Promo-promo yang dilakukan, trailer yang dibagi dan paling utama adalah dari meme parodi poster yang dilakukan oleh netizen pada poster resmi Pengabdi Setan. Hal tersebut cukup ramai di berbagai sosial media. Sepertinya dari pihak Joko Anwar sendiri sengaja membolehkan hal ini yang menurut saya cukup berhasil juga untuk menarik orang untuk menonton.

Sejak rilis pada 28 September 2017. Saya baru sempat nonton seminggu setelahnya. Saya sengaja memilih waktu midninght untuk menambah sensasi seram dan mencekam. Yang ternyata agak terpatahkan karena suasana studio cukup ramai.

Pengabdi Setan, menceritakan tentang sebuah keluarga kecil yang mengalami keterpurukan di tahun 1981. Sang ibu (Ayu Laksmi) yang sebelumnya seniman dan penyanyi terkenal kini mendadak sakit selama 3 tahun. Karena tak ada lagi pemasukan dan perlunya biaya pengobatan, mereka pun hidup serba kekurangan.

Mereka tinggal di rumah neneknya (Elly D Luthan) yang berada di tengah hutan dekat areal pemakaman, menambah suasana mencekam di keluarga ini. Akhirnya, sang ibu meninggal secara misterius setelah sakit bertahun-tahun, meninggalkan keluarganya.

Namun, apakah sang ibu benar-benar meninggalkan mereka? Sebaliknya, dia justru “kembali” untuk menjemput anaknya, dan di sini, peran keluarga sangat penting. Rini (Tara Basro), kakak tertua harus memecahkan masalah atas kembalinya sang ibu, dan kenapa dia menjemput salah satu anaknya.

Sebuah review dari orang tidak begitu suka Horror

Sebelum menonton saya terhanyut akan review dan promo video reaction penonton Pengabdi Setan di bioskop. Saya sempat berpikir untuk tidak usah nonton. Tapi setelah nonton, saya punya sedikit rasa yang berbeda terhadap film ini.

  1. Film horror yang baik

Setelah keluar ruang studio saya tidak merasakan rasa ‘malas-ke toilet-tengah-malam’ yang biasa saya rasakan setelah habis menonton horror. Pengabdi Setan bagi saya adalah film horor yang baik, karena tidak meninggalkan teror kepada penontonnya.

Tapi bukan berarti sepanjang film saya hanya bermuka datar. Film ini benar-benar mencekam dari adegan awal hingga adegan akhir. Komponen-komponen horror tetap ada di dalamnya. Sebut saja rumah di tempat terpencil, cahaya remang-remang, angin, area pemakaman, benda-benda antik, dll.

Selain dari alur ceritanya, bagi saya semua penunjang lainnya seperti warna tone film, teknik pengambilan gambar, make up, scoring dan sebagainya. Sangat berperan penting dalam mewujudkan rasa mencekam, tegang bahkan takut kepada penonton.

Buktinya Pengabdi Setan langsung mendapatkan tempat dalam beberapa nominasi dalam Festival Film Indonesia 2017. Di antaranya, Penata busana terbaik, Penata artistik terbaik, penata efek visual terbaik, penata musik terbaik, pencipta lagu tema terbaik, penata suara terbaik, hingga penulis skenario terbaik yang diwakilkan oleh Joko Anwar sendiri.

Bukti lainnya yang lebih sederhana bisa didengarkan dari ramainya teriakan-teriakan di dalam studio saat beberapa adegan.

  1. Merevisi standar film Horor Indonesia

Film Pengabdi Setan ini merupakan ‘reboot’ dari film dengan judul yang sama pada tahun 1980 silam. Saya pribadi belum pernah menontonnya tapi saya pernah membaca bahwa Pengabdi Setan 1980 itu termasuk salah satu film horor terseram pada jamannya.

Seiring berjalannya waktu film horor Indonesia sendiri cukup banyak bermunculan tapi susah rasanya mencapai standar horror dari ukuran kualitas baik cerita, gambar, dsb. Memasuki tahun 2000-an film horor Indonesia yang cukup fenomenal yang mematok standar berkualitas bagi saya adalah Jelangkung, setelahnya beberapa terkesan trying to hard hingga harus menambah unsur kemolekan tubuh perempuan untuk menarik penonton.

Pengabdi Setan, walaupun di awal saya bilang horror yang baik tapi bagi saya cukup berhasil menetapkan standar baru untuk film horror Indonesia. Mulai dari bagaimana mengemas dan seterusnya.

  1. Cast Tepat

Setiap sutradara di manapun sepertinya punya beberapa cast favoritnya, mereka seperti punya chemistry sendiri yang sudah terbentuk dan tidak perlu diganggu gugat. Sebut saja Tim Burton & Johny Deep, Nolan & Michael Cane, Steven Spielberg & Tom Hanks.

Joko Anwar pun begitu. Dalam Pengabdi Setan kita bisa melihat kembalinya Tara Basro dipercaya memerankan tokoh Rini (anak pertama Ibu). Belum lagi Fachri Albar dalam adegan kecil di akhir film. Untuk mereka mungkin memang karena chemistry. Toh, kemampuan akting mereka tidak usah ditanya lagi.

Tapi yang saya rasa sangat mengagumkan di sini adalah bagaimana Joko Anwar rasanya selalu tepat memilih pemain untuk film-filmnya. Untuk Pengabdi Setan pun demikian.

Lihat saja pemeran Ibu. Pada film ini Ibu adalah seorang seniman (penyanyi). Entah bagaimana Joko Anwar bisa jeli memilih Ayu Laksmi (lahir di Singaraja, Bali, usianya hampir 50 tahun) yang latar belakangnya serupa yaitu penyanyi, penulis lagu, penari, aktris film & theater. Bahkan sempat dikenal sebagai lady rocker di awal 90-an. Ada kedekatan antara cast dan peran yang dimainkan. Walaupun pada akhirnya jadi mengerikan di dalam film hehehe.

Atau pemeran jurnalis majalah klenik yang diperankan Egi Fadli. Dari bentuk fisik sudah sangat mendukung streotipe tampilan jurnalis pada zaman itu, saya jadi teringat foto muda opa saya saat masih jadi wartawan dan penampilannya mirip. Juga dilihat dari segi filmografi yang diisi beberapa judul horror sungguh sangat mewakili perannya di film ini sebagai pakar hal-hal klenik.

Juga bagaimana peran anak-anak lainnya yang menampilkan wajah-wajah yang lebih segar dalam perfilman Indonesia. Seperti Endy Arfian, Nassar Annuz apalagi Muhammad Ahdiyat (10 tahun) pemeran Ian si anak bungsu yang menjadi kunci utama di film juga menarik perhatian di luar layar.

Ya, walaupun saya tidak beraksi seperti kebanyakan orang, saya sangat menikmati film Pengabdi Setan secara keseluruhan. Sungguh sebuah film horor yang baik dengan kualitas yang sangat baik.

Pada akhirnya film ini lebih dari sekedar horor. Ada potret kondisi keluarga, ada pesan tentang hidup yang ingin di sampaikan. Inilah mengapa saya selalu mengatakan film ini adalah horror yang baik.

Oh ia paska film, meme tentang film ini masih tersebar di sosial media. Dan jujur itu lebih seram, apalagi foto ibu di jendela. Jadi, tolong kepada Joko Anwar kurangilah memberi bahan meme kepada netizen dengan foto-foto Ibu. Sekarang saya sedang tidak berani tidur dengan lampu padam. Sial!

Aswan Pratama

Aswan Pratama

Teman main semesta

Tentang Penulis

Aswan Pratama

Aswan Pratama

Teman main semesta

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.