Locita

Anak Band dan Obsesi Pacar Berjilbab Review Film Suhu Beku (2017)

Sebelumnya saya ingin meminta maaf kepada panglima junjungan bangsa kita, Panglima Gatot karena belum sempat mengindakan amanatnya menyaksikan Pengkhianatan G30S/PKI. Malahan saya justru pergi menyaksikan Suhu Beku guna membangkitkan kenangan saya akan masa SMA yang sulit.

Iya, kisah berlatar “Smart & Sombere’ City” (Kota Pintar & Ramah), Makassar yang memotret sekumpulan anak SMA (dan satu temannya yang baru memulai kuliah) berjuang demi menciptakan sebuah band yang bisa berkarir dengan indie-nya tanpa perlu ke Jakarta ini tanpa sadar mengantar saya menuju kenangan asam-manis (seperti nama resep masakan) masa SMA.

Apa yang Fauzan, salah satu tokoh utama, bersama teman-temannya capai adalah apa yang saya impikan ketika masih SMA dulu. Bedanya, saya jangankan mau belajar main gitar, gitar saja tak punya. Mau kursus musik juga susah karena selalu terkendala duit. Belum lagi kalau mau kursus pasti harus ke kota dulu.

Maklum semasa SMA dulu saya tinggalnya di kampung, yang kalau mau sekolah harus bangun pagi tunggu ojek yang jumlah cuma bisa dihitung jari. Bedalah sama Fauzan dan teman-temanya, termasuk Lolo (setiap kali namanya disebut, saya spontan balas dalam hati, “Gue…gue.”) yang di usia muda belia kinyis-kinyis sudah punya mobil, bawa sendiri lagi tanpa perlu sopir.

Enaknya lagi karena punya mobil, mereka bebas boleh bangun telat. Bangun-bangun tinggal tancap gas ke sekolah melewati jalanan-jalanan kota yang kali ini bebas dari gambar ikon wajah bapak walikota tercinta. Nah, saya karena persoalan duit tadi, jangankan mau belajar main musik, bentuk band lebih sulit lagi.

Kan waktu itu bukan cuma saya yang datang dari keluarga miskin, rata-rata teman-teman saya yang lain juga. Alhasil karena tidak punya kemampuan bikin band sewaktu SMA, teman-teman saya kebanyakan jadi atlit voli atau jika tidak, sepak takraw. Bertahun-tahun kemudian eh mereka jadi PNS semua.

Nah, jadi kisah Fauzan, Lolo dan teman-temannya ini pokoknya berbanding terbaliklah dengan harapan saya sewaktu SMA. Mereka adalah contoh nyata slogan Agnez Mo; “Dream, believe, and make it happen”. Menyaksikan usaha mereka nge-band sampai promo album sendiri secara indie bikin saya berdecak kagum, “Wah gila ya, anak zaman milenial!”.

Sudah hidupnya enak, eh semua cita-cita mereka didukung habis-habisan sama orang tua. Dunia membutuhkan lebih banyak orang tua seperti dalam film ini. Bayangkan betapa majunya negara Indonesia jika semua orang tua-nya seperti orang tua Fauzan dkk, yang tidak (sering) nampak tapi penuh dukungan moral apalagi materil kepada anak-anak tersayang mereka.

Saking enaknya hidup anak-anak ini, duit bukan masalah ketika mereka baru mau membentuk band. Persoalan utama mereka lebih ke cara dapatkan personil yang pas dan tetap nge-band dengan mengedepankan idealisme.

Idealisme, ini juga yang bikin saya berdecak lebih kagum lagi. Anak SMA sudah berpikir jauh soal idealisme. Yah, jadi jika dipikir-pikir, ketika hidup bukan lagi soal di duit memang enak. Tapi bayangkan hidup di antara problema seperti menjadi idealis atau realistis di usia yang masih muda belia kinyis-kinyis, itu terdengar sangat depressing, bukan?

Dan karena persoalan mereka bukan soal menghasilkan uang tapi bagaimana caranya agar bisa eksis, tentulah ini sangat heart-breaking. Saya saja tiap kali update status di Facebook selalu was-was jika tidak di-like banyak orang. Syukurlah di akhir cerita sebagaimana yang sudah kita duga, band Suhu Beku sukses merintis karir mereka. Bayangkan andai mereka gagal, saya khawatir mereka ikut menyumbangkan angka kematian akibat bunuh diri di dunia ini.

Semua bahagia dan selamat pada akhirnya di Suhu Beku, kecuali ada satu orang yang patah hati karena punya kebebasan memilih, namanya Rima.

Ok, pembahasan saya akan terasa loncat-loncat, tapi penting untuk membahas kehadiran Rima karena ia mewakili perempuan milenial zaman sekarang utamanya di Makassar, kota yang selain populer dengan Pisang Epe’nya juga dengan slogan walikotanya, “dua kali tambah baik”. Penampakan Rima di poster dan di film memang agak berbanding terbalik karena ternyata baik dialog dan adegan yang menampilkan dirinya cuma sedikit.

Rima ini adalah sosok perempuan yang sedang trend saat ini; muda dan berjilbab. Andai adegan Rima disorot lebih banyak dalam film ini, saya yakin akan ada adegan Rima menghabiskan waktu dengan komunitas Hijabers-nya.

Saya jadi ingat salah seorang teman saya yang mengeluh karena menurutnya sudah terlalu banyak perempuan berjilbab (di Makassar), padahal tipe perempuan idamannya adalah yang tidak berjilbab. Alhasil, kesempatan ia menemukan gadis idamannya mungkin secara lebay ada di rasio 1:100 di antara kerumunan gadis-gadis berjilbab. Mengapa penting juga memasukkan keluhan teman saya soal perempuan berjilbab adalah untuk mendukung statemen saya bahwa benar makin banyak perempuan yang senang berjilbab.

Ok, Rima ini gadis yang ditaksir secara malu-malu oleh Fauzan. Rima akhirnya paham kalau Fauzan suka sama dia dan akhirnya mereka jalan bareng. Padahal Rima sudah punya pacar dan Fauzan tahu itu. Tapi kenapa Fauzan mau-mau saja ya, jalan bareng tanpa status dengan Rima sekali pun Rima sudah punya pacar?

Layak dicurigai bahwa Fauzan punya selera terbalik dengan teman saya (penyuka cewek tanpa jilbab itu). Karena Fauzan masih SMA, sekalipun idealis dalam nge-band, selera ceweknya bisa dibilang masih mengikuti trendan zaman-anak-sekarang, lagipula Rima memang manis.

Nah, yang membuat saya senang sama Rima (walaupun sayangnya ia berakhir tragis) adalah karena dalam kisah Suhu Beku tidak ada satu pun cowok-cowok ini yang punya pacar, atau punya selingkuhan alias berpacar lebih dari satu, tidak ada! Cuma Rima, dan dia perempuan. Mungkin karena cowok-cowok di film ini terlalu fokus nge-band.

Lalu, ini maksudnya apa? Yah, Rima dengan jilbabnya berhasil menentang stereotip dunia patriraki, jika bukan di dunia nyata, setidaknya dalam dunia sinema. Rima mewakili hak perempuan yang punya kebebasan bersikap dan memilih.

Yah, walaupun ini sangat kejam karena menyangkut perasaan laki-laki juga. Tapi biasanya jika cowok-cowok yang punya pacar dua, maka itu selalu dianggap wajar. Jadi buat saya, Rima adalah jagoan dalam film ini.

Jilbab yang ia kenakan bahkan tidak berhasil mendikte sikapnya. Seolah-olah Rima ingin bilang, “Jangan menilai seseorang dari apa yang ia kenakan.” Atau, “Jangan berharap saya harus bersikap alim, tunduk dalam kepatuhan dan malu-malu dalam kungkungan jilbab yang saya pakai”. Jika nanti Suhu Beku dibuatkan sekuel, semoga kita bisa bertemu Rima lagi, jika perlu dengan jilbab syar’i dan berpacar tiga.

Avatar

Kemal Putra

Sehari-harinya menghabiskan waktu menonton film. Saat ini terlibat dengan komunitas film bernama Kinotika yang setiap pekannya mengadakan eksebisi dan diskusi. Ia hanya menulis ketika dipaksa.

Tentang Penulis

Avatar

Kemal Putra

Sehari-harinya menghabiskan waktu menonton film. Saat ini terlibat dengan komunitas film bernama Kinotika yang setiap pekannya mengadakan eksebisi dan diskusi. Ia hanya menulis ketika dipaksa.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.