Locita

Sulitnya Menjadi Perempuan dalam Lelaki Harimau

Sumber: ekakurniawan.com

SALAH satu novel yang ketika membacanya membuat waktu saya banyak terbuang adalah Cantik itu Luka karya Eka Kurniawan. Dari halaman pertama hingga terakhir saya tak kunjung mengerti proporsi apa yang ingin disampaikan Eka.

Saya berkata dalam hati, mungkin ini terakhir kalinya saya akan membaca buku Eka. Apesnya, salah satu mata kuliah saya di jurusan Ilmu Susatra menawarkan satu topik untuk membuat esai atau kritik sastra terhadap, lagi lagi novel Eka Kurniawan.

Kali ini bukan Cantik itu Luka tapi novel Lelaki Harimau yang telah ditumpahi banyak pujian.

Benar kata Nirwan Arsuka, novel ini lebih licin dari Cantik itu Luka. Meskipun kita masih akan menjumpai struktur paragraf dan penceritaan yang kacau dalam Lelaki Harimau.Tapi itulah kekhasan Eka.

Kita disodorkan sebuah alur yang tidak hanya maju mundur. Tapi paragraf yang seringkali penceritaannya melompat dari paragraf sebelumnya.

Kekhasan lainnya adalah kompleksitas sudut pandang. Eka menggunakan lebih dari satu sudut pandang. Tidak privileged narrator, tidak pula restricted narrator.

Narator  bisa memasuki dan menceritakan isi pikiran setiap tokoh dalam novel tersebut. Akan tetapi narator juga terbatas dalam memberikan komentar/ ceramah. Pembaca akan dibiarkan mencari sendiri apa maksud dari alur cerita ini.

Salah satu kritik yang ingin dibangun dalam novel Lelaki Harimau adalah patriarki. Hal tersebut bisa dilihat dari kompleksitas tokoh perempuan terutama dalam tokoh Nuraeni.

Kompleksitas Tokoh Nuraeni dalam novel Lelaki Harimau memberikan pemaknaan terhadap harimau yang berada dalam diri Margio. Simbol harimau itulah yang berusaha ditunjukkan narator  sebagai bentuk krtik terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan kesederhanaan yang seringkali luput dalam masyarakat.

Utamanya nilai/bentuk penghargaan terhadap perempuan. Disadari ataupun tidak disadari telah membentuk struktur sosial masyarakat.

Penceritaan tokoh Nuraeni dimulai dari kisah perjodohannya dengan Komar bin Syueb. Nuraeni dinikahi oleh Komar bin Syueb di usianya yang masih belum genap 16 tahun. Sementara Komar telah mendekati usia 30 tahun.

Pernikahan yang telah direncanakan sejak empat tahun yang lalu. Bahkan baru diketahui Nuraeni saat sore tiba, hari dimana orangtua Komar datang melamarnya.

Ia mengawininya saat Nuraeni enam belas tahun, dirinya sendiri mendekati tiga puluh. Sebagaimana banyak gadis di kampung mereka, nasib perkawinan Nuraeni telah ditentukan sejak empat tahun sebelumnya, saat dadanya sendiri belum tumbuh dan belukar kemaluannya belum menyemak, kala Syueb datang dengan sebaskom beras dan mie dan selendang biru tua melamarnya untuk Komar […] (hal.96)

Perjodohan Nuraeni dengan Komar mengubah hidupnya, perempuan yang seharusnya masih asyik bermain bersama teman-temannya itu menjelma menjadi gadis. Nuraeni pun menerima dan turut senang dengan perjodohan itu. Begitu juga dengan orang tua, kerabat, dan sahabat.

Sore itu segera mengubah banyak hal, sebab Nuraeni kecil menjadi Nuraeni si gadis. Ibunya memmbelikan lipstik merah ati dan pupur serta pensil alis, dan ia tak lagi membiarkan dadanya yang mulai sedikit monyong dibiarkan terbuka di tengah udara sejuk desa berbukit. Kabar itu beriak deras, menyerbu telinga kerabat dan sahabat, bahwa gadis itu setengah terikat nasib dengan Komar bin Syueb, dan mereka ikut riang bersama dalam dirinya.

Hal di atas menunjukkan jika tradisi perjodohan, dimana perempuan tidak bisa memilih dan menentukkan pasangannya. Di sisi lain, konsep ini diterima begitu saja di dalam tatanan masyarakat.

Bahkan tokoh Nuraeni digambarkan menerima begitu saja perjodohannya dengan Komar bin Syueb. Artinya, bentuk-bentuk penindasan atau pelecehan terhadap perempuan masih langgeng bisa saja karena perempuan-perempuan tersebut tidak mengetahuinya.

Dominasi laki-laki terhadap tubuh perempuan masih banyak ditemukan. Misalnya, saat Nuraeni diperlakukan secara semena-mena dalam berhubungan seks dengan Komar. Dimulai dari malam pertama hingga malam-malam selanjutnya.

Masa-masa bercinta selalu merupakan saat yang sulit bagi mereka, sebab Nuraeni selalu menampilkan keengganan tertentu, dan Komar hampir selalu memaksanya jika nafsu telah naik ke tenggorokan, dan kerap kali itu hampir serupa pemerkosaan bengis di mana Nuraeni akan ditarik dan dilemparkan ke atas kasur dan disetubuhi bahkan tanpa ditanggalkan pakaiannya, lain waktu disuruhnya mengangkang di atas meja, kali lain disuruhnya nungging di kamar mandi. (hal.111)

Penindasan yang dialami Nuraeni disaksikan oleh Margio, anak dari Nuraeni dan Komar bin Syueb. Namun Margio lebih memilih keluar dari rumahnya dibandingkan memberontak kepada Komar bin Syueb.

Margio seorang laki-laki di usia yang ber api-api. Margio adalah seorang pemburu babi. Ia berguru tentang ilmu perburuan.

Dengan kekuatan yang dimiliki Margio, ia bisa saja menyakiti Ayahnya. Namun dalam cerita ini, ia tidak pernah berhasil melakukan itu.

Nampaknya Margio memahami jika ia tak akan bisa mengendalikan emosinya. Namun, nahas penindasan yang terjadi secara terus-menerus terhadap Ibunya membuat kebencian itu semakin mengakar dalam diri Margio.

Bukan hanya dalam bentuk kekerasan tubuh dan seks, tapi juga psikologis. Komar tidak memberi Nuraeni penghargaan sebagai Ibu dan perempuan.

Seperti saat keluarga mereka pindah rumah. Komar mengambil cincin mas kawin Nuraeni untuk membeli tanah dan rumah.

Jika ada hari paling sedih dalam hidupnya, inilah hari itu, Margio bisa melihat wajah Ibunya yang enggan, menenggelamkan diri dalam kerudung yang tak pernah dipakainya, duduk di samping Komar bin Syueb. Roman itu juga sedih, tapi Nureni lebih banyak diam, dan Margio bertanya-tanya, manakah yang membuatnya lebih sedih, kepindahan ini atau kehilangan cincin kawin […](hal.83)

Mungkin saja Komar bin Syueb tidak menyadari jika apa yang dilakukannya sangat menyakiti hati Nuraeni. Dianggapnya penindasan itu hanya sebatas kekerasan tubuh. Komar menganggap jika rumah itu telah menjadi milik mereka, sehingga lebih baik untuk mereka pindah saja.

Sementara bagi perempuan rumah adalah tubuh, keintiman banyak terjadi di dalam rumah. Rumah bukan hanya perkara materil seperti dalam anggapan Komar bin Syueb. Tapi juga batin dan nurani.

Sehingga pindah rumah adalah kesedihan yang luar bisa bagi Nuraeni. Melebihi kesedihannya saat Komar mengasarinya di atas kasur.

Kekecewaan yang terus berlanjut itulah yang membuat Nuraeni selingkuh dan tidur dengan laki-laki lain, Anwar Sadat. Margio yang mengetahui jika Ibunya mengandung anak dari laki-laki lain memilih untuk diam bahkan saat ia melihat Komar bin Syueb menyiksa Nuraeni.

Margio kebingungan harus menyalahkan siapa. Di sisi lain, ia adalah anak laki-laki satu-satunya yang harusnya menjadi pahlawan dalam keluarga.

Ayahmu Anwar Sadat meniduri Ibuku Nuraeni, dan lahirlah si gadis kecil yang mati di hari ke tujuh bernama Marian, sebab Ayahku mengetahuinya dan memukuli Ibuku hingga Marian lahir bahkan telah sekarat. (hal. 186)

Di akhir cerita, pembaca akan mengetahui alasan mengapa Margio membunuh Anwar Sadat. Satu kalimat yang menjelaskan seluruh isi novel itu.

Lagi pula aku tak mencintai Ibumu. (hal. 190)

Kata-kata Margio jika bukan dia yang membunuh Anwar Sadat melainkan harimau di dalam tubuhnya menyiratkan bahwa ada dorongan yang sangat kuat dalam dirinya yang tak bisa ia kontrol.

Hal tersebut menurut pembacaan saya adalah akumulasi dari dendam yang dibawa Margio kepada Ayahnya, Komar bin Syueb. Dendam yang tak bisa terlampiaskan hingga Ayahnya meninggal.

Begitupun perasaan berdosa Margio saat melihat bayi Marian yang meninggal karena tindakan Nuraeni, dan Anwar Sadat. Hal itu juga terjadi, utamanya karena Komar bin Syueb yang selalu menindas Nuraeni, yang membuat Nuraeni selingkuh.

Margio yang merasa bersalah dan tidak bisa mengontrol luapan dendam dan kemarahan bukan hanya kepada Anwar Sadat tapi juga terutama kepada Ayahnya, Komar bin Syueb.

Margio membunuh Anwar Sadat bagaikan harimau. Dendam dan amarah yang keluar dari tubuh Margio disimbolkan dalam wujud harimau.

Avatar

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Tentang Penulis

Avatar

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.