Locita

Kopi Terakhir Sang Ketua

Sumber foto: instagram/filosofikopi

Entah aku sial atau beruntung berhadapan dengannya malam ini. Lingkaran ini sama halnya sebuah kawah panas. Magma yang siap meletup, dan aku hanya bisa mengerutkan dahi, membulatkan bibir dan suara, atau membelalakkan mata.

Kami menatap layar televisi yang tergantung di pojok. Pak Presiden sedang di podium kenegaraan. Dia berpidato tapi suaranya tiada terdengar, tertutupi oleh godam bass bertalu-talu dari speaker. Apapun yang Pak Presiden sampaikan hanya terjelaskan pada sebaris kalimat yang berganti-ganti di pojok televisi. Demo besar-besaran akan digelar.

“Pak Presiden akan  dikudeta besok.”

Keluarlah letupan pertama dari kawah panas itu. Sosok di hadapanku  mengepulkan asap rokoknya dan untuk kesekian kalinya. Orang di depannya melingkar antusias.  Semakin  malam, kepulan asap tembakau terbakar semakin membubung, seperti abu vulkanik yang menandakan erupsi berapi akan menyusul setelahnya.

Ini sudah batang kesembilan dan gelas kopi kedua yang dia habiskan. Bibirnya sudah menghitam dan mengerut tapi bibir itu seakan menolak untuk berhenti menyelipkan filter kretek. Rambutnya rapi berminyak, memakai kemeja Gucci, celana kainnya licin tanpa kerut, bersepatu dress berkilap, aneka batu akik memeluk jejarinya, dan di pergelangan tangan kanannya melingkar buai kilau keemasan jam tangan.

Kesemuanya memperindah kulitnya yang gosong terbakar matahari. Sekarang dia Jauh dari gambaran masa lalu yang terkenal dekil, bercelana jins robek, serta rambut kusut kering nan merindu sejuk guyuran air.

Tubuhnya tidak lebih dari 160-an cm, tapi volume suara dan semangatnya bercerita mengalahkan  lagu EDM yang dimainkan di kafe ini.

Dengan penampilan seperti itu, dirinya sebenarnya sudah cukup mencolok di tempat ini. Namun sekeliling kafe sepertinya tidak peduli akan dirinya, padahal dia adalah seorang petinggi dari organisasi pemuda yang namanya setali dengan kekuasaan, Komunitas Mahasiswa Indonesia.

Organisasi itu serupa family dalam film favoritku, The Godfather, berprinsip dalam memberikan penawaran yang tidak bisa ditolak. Dari cara paling halus hingga paling kasar. Kami diajari menyitir ayat suci untuk perut hingga sesekali bawah perut.

Secara historis, organisasiku telah melahirkan orang-orang penting di level nasional, hal tersebut berimbas kepada para kadernya. Banyak dari mereka hidup dan kaya berkat menjabat posisi penting di organisasi. Mereka hidup berkat koneksi dan proyek dari ”kakak-kakak” mereka yang  berada di pemerintahan.

Orang yang di hadapanku ini adalah salah satunya.

Bisa dibilang bertemu dengannya adalah kesempatan langka. Terlalu banyak orang mencarinya. Petunjuknya adalah jalan keselamatan untuk suksesi kekuasaan di berbagai level, dari kampus, Pilkada, sampai level nasional. Kedekatannya dengan berbagai tokoh nasional menjadikan dia orang penting.

Pertemuan kali ini dengannya bisa dibilang kecelakaan. Saat itu tidak sengaja Fadlan menghubungiku via aplikasi pesan. Saat itu aku sedang goleran menikmati terjangan lapar di kamar kos bersama Ilham dan Saris.

“War, di mana?”

“Lagi makan malam bareng Kanda Opik.”

“Bohong. Kanda Opik baru saja ditangkap KPK tahu. Makanya update berita.”

Tolol! Harusnya aku menyempatkan diri untuk menelusuri gawaiku. Aku cuma tertawa malu membalas pernyataannya.

“Eh,  Kanda Is ajak nongkrong di cafe. Ayo, sekalian makan malam.”

Saat itu rasanya, perutku seperti dialiri penganan. Selamatlah kita malam ini. Kubangunkan dengan tergesa Ilham dan Saris, mereka turut merasakan ada harapan bagi lambungnya yang kian membelit.

Dengan isi tiap dompet sepuluh ribuan dan beberapa uang koin, aku dan teman-teman memakai jasa taksi online di tempat yang diarahkan rekan tadi. Demi pertemuan bersama Is. Sang Ketua. Malam  ini adalah pertemuanku pertama kali dengan  organisasi pemuda yang paling disegani tersebut.

Ah, Kanda Is memang baik, mengerti sulitnya jadi perantau baru. Tanpa harus melempar batu, dan megaphone yang meracau. Bulan ini tidak ada pesanan.

“Lihat ini! Ini saat saya menemani Arman bermain golf,” ujarnya sembari mengusap layar gawainya.

Di situ tampak tokoh-tokoh yang biasa aku lihat di televisi dan headline news berdampingan dengan dirinya. Beberapa pose menunjukkan  betapa menteri tersebut merangkul pundaknya sembari mengancungkan jempol juga mengguratkan senyum. Seakan menunjukkan hubungan yang cukup dekat dan selevel. Dugaan itu semakin diperkuat saat  dia menyebutkan namanya tanpa embel-embel kesantunan, “pak”, “menteri”, atau  mungkin “kanda”.

Suara decak menghambur dari aku dan teman-teman. Siapapun tidak akan menyangka seorang yang dulunya dikenal dirajah panas aspal di terik sembari melantangkan suara “tolak” atau “tangkap”, disertai sukses drop out dari kampus dapat mengalahkan pencapaian seorang bergelar lulusan terbaik.

“Dinda, saya akan garap proyek tambang miliaran di Kalimantan dengan Bang Seto.” Dia mengucapkannya sembari menyeruput kopi. Yang dia maksudkan mungkin adalah Seto temannya atau bisa jadi orang terkenal di sebuah partai terbesar di negeri ini.

Pemakaian kata “kanda” biasanya sudah jelas menerangkan bahwa Is memiliki boss, sebuah istilah tempat para eksponen organisasi menggantungkan diri secara finansial, jaringan politik, atau perihal kenikmatan duniawi lainnya.

Mendengar itu kami membelalakkan mata. Saris yang polos mulai bertanya-tanya tentang seputar bisnis lain yang dilakukannya. Dia sebut satu persatu semuanya dengan jumlah nominalnya. Alamak, semua bisnis yang disebutnya bernilai miliaran. Kapan ya, aku bisa seperti kanda Is?

Para “jamaahnya” mendengar dan ikutan berdecak kagum, beberapa di antaranya menggelengkan kepala lalu berujar,

“Ketua pasti kaya sekali.”

Istilah ketua merujuk pada posisinya di pucuk organisasiku. Rumit untuk dihapal memang, intinya kalau menduduki sebuah jabatan, istilah itu akan layak disematkan—juga sebagai bahan bualan demi segelas kopi dan sebungkus rokok.

“Biasa itu Dinda, kecil itu,” pungkasnya sembari melentikkan jempol dan kelingkingnya.

“Pesan lagi, Dinda,” perintahnya sedikit pongah pada kami berempat.

Beberapa teman mulai melirik penuh seksama buku menu. Kami memesan kopi juga cemilan, plus beberapa bungkus rokok buat cadangan selama seminggu.

“Kayaknya kalau sama ketua, masa depan Indonesia ini dipertaruhkan ya?” kata Ilham.

Rekanku yang satu ini memang pintar menjilat. Skill seperti ini memang dibutuhkan dalam lingkaran organisasi. Kalau perlu sampai kutu dan kencingnya untuk dijejali, Ilham siap mengulumkan lidahnya dengan kata-kata semanis madu.

Tak mau kalah di panggung perjilatan, Fadlan kemudian menyambung dan memanaskan kawah ini.

“Tenang Ketua, setelah ini jabatan direktur BUMN menanti atau ketua partai. Setelah itu siap-siap dikutuk jadi presiden.”

Pernyataan itu sepertinya sebuah pujian yang semakin menambah daya letupan Bang Is untuk bercerita lebih lebar dan lebih panjang tanpa jeda.

Tiba-tiba gawainya berbunyi, sang magma terlihat sedikit kikuk dan menjawab dengan sopan orang yang menelpon.

“Siap Kanda, ada petunjuk?”

Sepertinya yang menelpon banyak berbicara, dan Is hanya mengatakan kata “siap”. Selang kurang lebih semenit. Pembicaraan telepon itu selesai, dengan wajah sedikit serius dia berkata kepada kami, “Maaf Dindaku, ada urusan ini buat besok.”

Aku hanya bengong tanpa mengerti apapun. Dia mengangkat tangannya memberi kode kepada waitress untuk meminta bill.

Seorang pelayan datang, sembari menyodorkan tagihan. Dia merogoh sakunya. Setelah itu ia menatap dalam kami sembari berucap, “Dinda, tolong bayarkan ini ya, kanda tidak punya uang kecil.”

Tanpa menunggu jawaban, dia meninggalkan kami. Di hadapanku lembar tagihan menunggu disambangi, yang kami tak bisa beri. Kami saling memandang, seakan mengerti isi dompet masing-masing. Saris memasang gurat ketegangan. Fadlan tanpa beban kemudian berucap pada waitress,

“Sebentar ya Mbak, kopinya belum habis.”

Memang betul beberapa gelas kopi masih terisi sepertiga atau seperempat, utamanya gelas sang magma. Secara spontan Ilham mengambill gelas sisa tempelan bibir Is. Entah apa ini drama atau totalitasnya dalam perihal mengecap.

“Oh iya, Kakak,” balas si waitress yang kemudian meninggalkan kami.

Ilham berjalan keluar dengan santai. Beberapa menit kemudian Fadlan seakan mengangkat telepon, ikut juga berjalan keluar. Tinggal aku dan Saris yang tampak semakin tegang. Melihat para pegawai yang lengah. Berdua kami sebat melangkah ke arah pintu keluar, berusaha tidak mengacuhkan sorot mata yang bisa jadi menghujam kami.

Sembari melangkahkan kaki yang semakin kram hingga mencapai dekat kosan, aku beberapa kali memaki Fadlan. Saris juga tak luput dari panas yang menggapai ubun-ubun dan terlempar lewat lisan. Fadlan menampik kesemuanya dengan alasan-alasannya. Ya, namun teman tetaplah teman, sesalah apapun tetap saja menjadi teman tidur sekasur, tetap saja menjadi teman berlapar-lapar. Akhirnya kami cuma bisa menertawakan ketololan yang mendera.

“Saya mau berdoa seribu sial untuk Is!” teriak Saris kesal di sebuah jalan sepi.

“Emangnya Tuhan menerima doa seorang penipu dan penyebar aib?” kelakar Ilham. Kemudian disusul tawa kami.

Beberapa hari berlalu. Ingatan sial itu hilang terbang bersama jelaga di jalan. Tanpa membekas dalam memori. Malam ini berbeda dari malam itu, untungnya sebungkus mie dan kopi instan, dan sebatang rokok di warung sebelah membuat kami terhindar dari obat maag.

Siang tadi kami dapat orderan berteriak sambil bakar satu-dua ban. Lumayanlah, aku dan teman-teman bisa survive untuk beberapa hari.

Sebuah televisi terpampang di satu sisi warung, berhadapan dengan kami yang menikmati penganan. Ilham, Saris, dan Fadlan tampak sibuk berlomba menjadi pemerhati politik kelas teri.

Mataku mengarah ke layar. Sebuah breaking news memperlihatkan penangkapan tersangka kasus makar kepada presiden dan penipuan. Terlihat seseorang bertubuh legam dengan tubuh pendek disambut deru silau lampu kamera dan wajah meminta belas kasihan.

Aku memicingkan mata memastikan. Ya, dia memang kukenal. Kawah itu mendingin bahkan mati. Menyisakan bubungan asap tanpa arti.

Avatar

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Tentang Penulis

Avatar

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.