Locita

Budi, Ratih, dan Jarot, lalu Datang Juga Bunga

ADA ujungnya. Budi yakin tentang hal itu. Jika pun ini tak berujung dia yakin juga semunya akan biasa jika mulai terbiasa. Perihal membunuh waktu adalah perihal sulit, semua orang juga tahu itu.

Dimulai ketika Ratih pamit diri dari kehidupanya. Semua terasa lambat bagi Budi. Detik, menit, jam mulai berjalan seperti kura-kura tua yang kelaparan. Di kamar 4×5-nya Budi mengurung diri sehari itu, membayangkan pantai dan dinding-dinding kamar yang mana adalah sebuah pengalihan dari paksaan kenangan bersama Ratih yang terus mendobrak masuk.

Mengapa pula Ratih memilihnya, mahluk belang sialan itu! Seketika ratih berhasil masuk ke dalam isi kepalanya menggusur pantai dan dinding-dinding.

Siang itu tak kunjung menjadi senja. Budi masih terasing di 4×5-nya. Pantai mulai berubah menjadi senyum ratih diwaktu membaca buku di perpustakaan, senyum yang coba di tebak budi dari samping bilik tempat di mana ratih membaca.

Isi kepala Budi coba menebak-nebak senyum apa itu, sesuatu apa yang sedang di bacanya, sebuah aksi lucu dari lakon dibuku itu? Atau kutipan manis dari seorang filsuf.  Sebuah percakapan harus dimulai oleh seseorang, Budi tahu itu, dan seseorang itu harus dirinya.

Karena jika yang memulai percakapan itu wanita yang di sebelahnya, tidak akan terjadi sebuah percakapan, yang terjadi hanya tanya jawab satu dua kalimat lalu selesai, Budi terlalu gagap dan kaget di terpa senyum dan kata itu duluan.

“Hai, apa yang kau sedang baca?” Budi bertanya.

“Hai, oh ini “Lapar”dari Knut Hamsun”. Senyum ratih mengakhiri.

“Sialan! siapa pula si Hamsun itu (?)” Budi berbisik dalam hati.

Sudah jelas Budi tak ingin percakapan itu berakhir cepat. “Apakah itu buku yang bagus?”

“Yaa, siapapun yang membacanya akan suka.”

“Siapa yang lapar di buku itu?” Budi memulai lagi, air mukanya tak menunjukan seseorang yang penasaran.

“Si tokoh utama, dia penulis yang lapar juga labil,” Ratih menjelaskan, ingin menuang kekaguman dalam kepala lawan bicaranya yang tak punya wujud penasaran.

“Apa kau juga lapar?” Budi tahu kalimatnya kali ini lebih hebat dari penyair manapun yang mencoba membuat kalimat pertama dalam sebuah roman.

Itulah hari pertama di mana mereka berkenalan dan bersambung di meja makan. Awal mula dari terasingnya Budi di 4×5-nya siang itu. Kegugupan budi adalah hal yang menarik bagi Ratih, sesuatu yang manis.

Siapa yang tidak tersenyum jika diperlakukan seperti itu, dan bagi Budi, Ratih adalah yang paling mengerti dirinya bahkan kegugupanya. Itulah yang dicari Budi selama ini seseorang yang mengerti dengan keterbatasan-batasan dirinya.

Yah, kegugupannya adalah hal yang paling menyebalkan bagi dia. Sudah lama Budi coba memperbaiki hal ini dan hasilnya selalu gagal. Gugupnya bukan  sesuatu yang bisa di atasinya seperti mengatasi kekurangan-kekurangan yang lain.

Dia memiliki ketidakahlian dalam banyak hal, tapi itu semua dapat di atasi dengan kerja keras, sedangkan kalau berbicara mengenai kegugupanya dengan orang baru, apalagi wanita, kerja keras tampak sia-sia bahkan semakin keras dia mencoba semakin terlihat konyol. Itulah juga alasan budi selalu tertatih-tatih dalam memiliki pasangan. Dia tidak pernah ahli dalam memulai, memulai apapun.

Perubahan membuat dia gugup bahkan mungkin takut. Dia tahu betul tentang semua itu. Masa kecil dan berkembang, dirinya selalu dalam bayang-bayang. Bayang-bayang orang tua yang selalu menuntunnya, bayang guru-guru yang selalu menggandengnya, bayang-bayang kakak-kakak-nya yang kini sudah menjadi tentara dan pegawai di lembaga negara.

Dia tak pernah memulainya sendiri, selalu di tuntun orang-orang di depanya. Apalagi semasa di perguruan tinggi saat budi sedang menjalani strata satunya di jurusan komunikasi bisnis. Itulah masa-masa hebat bagi dirinya setidaknya menurut Budi sendiri.

Bersama sejolinya Jarot, mereka selalu menaklukan hal-hal baru. Mulai dari mengusai himpunan jurusan; Jarot sebagai ketua dan budi sekretarisnya, menyuntik-nyuntikan minat kepada mahasiwa baru hingga menjatuh hatikan seorang gadis manis yang sekarang bersegera menikah bersama dengan Jarot.

Jarot sebenarnya hebat dalam menjatuh hatikan seorang wanita, tapi saat itu tanpa Budi mereka berdua tidak akan bersiap menikah di kemudian hari. Budilah yang menulis surat-surat cinta kepada gadis itu atas usul Jarot.

Dengan kata-kata Budi yang bak punjangga hebat, dengan menyisipkan kata “tabik” dan menggantikan kata “saya” dengan “sahaya”, gadis itu jatuh hati kepada Jarot atas bakat Budi dan Budi bangga akan hal itu.

Malam-malam antara Budi dan Jarot selalu di hiasi dengan obrolan-obrolan hebat. Mulai dari mengomentari kebijakan pemerintah, apapun tentang perang dunia dan kemungkinan perang dunia lagi, hingga kadang-kadang mereka berbicara tentang kesusastraan, hal yang sangat di pahami jarot.

Dalam obrolan-obrolan itu, budi tak pernah berusaha dominan, dia selalu hanya membenarkan argument Jarot. Sesekali Budi tidak sependapat tapi itu hanya sementara setelah Jarot mulai lagi dengan argument lanjutannya.

Budi sebenarnya sadar, obrolan-obrolan itu selalu pincang karena budi yang selalu menjadi pendengar, tapi budi tidak merasa itu hal yang perlu di khawatirkan, toh sebenarnya memang dia tidak tahu banyak hal untuk menjadi dominan.

Dan memang jarot selalu bisa merasionalkan pendapat-pendapat nya ,yang memang sebenar-benarnya pendapat untuk disepakati mereka.  Dan sekarang, ketika masa-masa itu sudah lewat, Jarot telah kembali ke kampung halaman untuk membangun peternakan ikan yang mana di lain hari budi tahu bahwa usaha itu gagal total dan sekarang jarot lebih memilih mendaftar sebagai pegawai negeri.

Budi yang kala itu merasa tidak tahu apa yang sebenarnya yang ingin dia lakukan setelah lulus starta satu memilih untuk melanjutkan lagi kuliahnya. Tapi kali ini tampa jarot.

Hari-harinya biasa saja selepas itu, tidak ada hal baru yang di taklukan dan dia merasa itu juga tak perlu, hidupnya sudah hebat dulu. Sekarang dia hanya memikirkan kuliahnya, barangkali selepas itu dia bisa mendaftar di salah satu perusahaan swasta atau barangkali juga menjadi dosen.

Tetapi di satu waktu, setelah mendapatkan kabar bahwa jarot hendak menikah, kegelisahan datang pada dirinya. Kegelisahan atas kesendirianya. Kali ini dia sadar, dia terlalu lama tidak terlibat dalam suatu percakapan.

Percakapan yang sebenarnya. Di sekitarnya hanya ada nilai-nilai dan buku-buku yang memberatkan mata, tidak ada lagi percakapan tentang kesusatraan atau hal lainya hingga larut malam. Memikirkan untuk memikat hati seorang wanita yang mana bisa ditemaninya dalam berbagai hal pun  tak pernah terpikir olehnya.

Apalagi mengingat kegugupanya dalam menjalin hubungan dengan orang baru. Dia benar-benar melupakan tentang persoalan pasangan hidup atau apapun namanya. Hingga pada suatu hari di sebuah perpustakaan dia bertemu dengan gadis manis, berkulit cerah yang ketika tersenyum menghadirkan tanda titik di pipinya yang manis.

Budi pun jatuh cinta padanya. Dia sangat-sangat menyadari hal itu. Ah, senyum itu. Senyum gadis bernama Ratih.

Malam kini tiba ditandai dengan udara yang semaki mendingin. Di 4kali5 nya, Budi menyadari dia terlalu lapar untuk melanjutkan kenelangsaannya.

Sial bagi budi, tak ada satu pun makanan di kamar kos nya disambung kali itu. “Ah, lapar dan patah hati memang berbeda. Tapi jika merasakan  sekaligus semuanya sama saja, sama-sama menyiksa entah yang mana lebih menyiksa” ucapnya pada lantai dan dinding-dinding.

“Kenapa pula Ratih dan si sialan yang bersamanya sekarang harus ada di hidupku.” Budi akhirnya memutuskan untuk keluar mencari makanan dan siapa tahu dia bisa menumpahkan kenangan-kenangan bersama Ratih di jalan-jalan menuju warung makan.

Sampailah dia di  tempat makan. Memilih makanan dan berusaha menghabiskan makanan secepatnya. Sehabis makan, Budi bergegas menuju kasir yang tepat berada di ujung pintu keluar.

Wanita manis yang duduk dibelakang meja kasir itu tersenyum kepada Budi setelah mengangkat pandangannya dari sebuah buku yang sedang ia baca, tapi kali ini tidak ada tanda tanda titik di pipinya. Alih-laih membayar makanan, budi yang gugup seketika di terpa senyum kata dan senyum duluan, spontan berkata,

“Apa yang sedang kau baca?” kali ini dengan air muka yang penuh penasaran.

“Oh ini, “Namaku Merah”, yang nulis Orham Pamuk”. Senyumnya mengakhiri jawaban.

“Jadi namamu Merah?”

“Bukan, aku Bunga”.

Budi tahu pertanyaan “namamu Merah?” adalah hal konyol. Spontanitas yang keluar dari kegugupanya. Dan semenjak hal itu, dia berjanji tidak akan pernah memulai percakapan apapun.

Dia akan hidup seperti biasa, seperti sebelum kemunculan ratih atau  keinginan ide untuk mencari pasangan hidup. Dia hanya akan menunggu hingga semesta menuntun  pasangan hidup yang sudah di takdirkan bersama dirinya untuk memulai percakapan duluan.

Padahal budi sadar ini semua bukan tentang percakapan. Tapi entah karena apa budi lebih mengkambing hitamkan kegugupannya.

Tapi dari seluruh kunjungannya ke warung makan itu, setidaknya ada suatu kabar baik bagi dirinya, yang ia baru sadar sesampai dikamar kosnya. Dia tidak lagi tenggelam dalam patah hatinya bersama Ratih.

Abdul Wazib

Wazib Abdul

Sarjana Sosial

Tentang Penulis

Abdul Wazib

Wazib Abdul

Sarjana Sosial

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.