Locita

Yerusalem: Pemersatu yang Diperebutkan

Ya Allah, tolonglah saudara kami umat Islam para pejuang di Palestina (Allahummanshur ikhwananal musliminal mujahidina fi filistin).

Doa itu dan variasinya sering hadir dalam khutbah Jum’at. Juga digunakan untuk do’a Qunut Nazilah, supaya Allah menurunkan pertolongannya untuk Palestina.

Beberapa hari terakhir ini seluruh umat Islam bersatu. Mereka kompak menyuarakan penolakan atas pernyataan Donald Trump bahwa Yerusalem adalah ibukota Israel. Bagi umat Islam pada umumnya, ini adalah sebuah kepedihan yang amat dalam.

Kepedihan itu bukanlah berdasarkan kebencian kepada Yahudi, atau yang dipopulerkan dengan istilah anti Semit. Sebab umat Islam tidak mengenal kebencian, mereka cinta perdamaian. Penolakan ini lebih kuat dari sekadar cinta atau benci.

Pengamat Islamologi yang bukan Muslim mungkin heran. Mereka selama ini menyaksikan umat Islam terkotak atas pilihan teologis sampai politik. Bahkan terkadang mengecam dan mengkritisi pihak yang bukan dari kelompoknya. Namun, untuk Yerusalem mereka satu suara. Meskipun sebagian besar dari umat Islam belum pernah kesana.

Yerusalem dan umat Islam memiliki keterikatan yang amat erat. Tempat itu menjadi monumental ketika Muhammad melaluinya untuk menjemput perintah ritual utama, Shalat.  Diajarkan juga di sekolah – sekolah, bahwa sebelum Muhammad diperintahkan untuk shalat ke arah Ka’bah, Baitul Maqdis yang berada di Yerusalem menjadi kiblat.

Ikatan ini juga tidak lepas dari keyakinan umat Islam terhadap sosok para Nabi sebelum Muhammad. Beberapa di antaranya diutus dan pernah hidup di kawasan Palestina. Misalnya Daud, Sulaiman dan juga Zakaria serta Isa. Beberapa sosok lain yang lain selain Nabi juga hidup disana seperti Maryam dan Keluarga Imran.

Kawasan Palestina pada umumnya dan Yerusalem khususnya bukan hanya diklaim oleh umat Islam. Umat lain yaitu Yahudi dan Kristiani juga mempunyai ikatan psikologis yang kuat terhadap tempat itu. Mereka mempunyai klaim lebih dahulu mendiami tempat itu dari pada bangsa Arab Islam. Situasi ini menjadi pusaran konflik berkepanjangan, seperti yang juga disaksikan di abad modern ini.

Martin Gilbert dalam bukunya Jerusalem: Ilustrated History Atlas menyatakan bahwa kota itu telah didiami oleh umat Yahudi semenjak 1.000 tahun sebelum Masehi. Raja mereka, David,  yang pada awalnya menaklukkan Yerusalem dan sejak itu menjadi pusat keagamaan dan politik mereka.

Umat Yahudi hidup tenang dan berdaulat di sana sekitar enam abad lamanya, sebelum akhirnya Babilonia meluluh lantakkan kehidupan mereka.

Situasi memang sempat membaik di bawah kekuasaan Persia, namun karena silih bergantinya penguasa mereka tercerai berai. Bagaimanapun jauhnya dari Yerusalem, tempat suci itu selalu diingat dalam doa-doa mereka.

Akan halnya bagi umat Kristiani, Yerusalem juga berada di hati mereka. Gilbert juga menyatakan area Yerusalem merupakan tempat hidupnya Yesus sebelum disalib. Setelah itu pengikutnya menyebar di sepanjang Kekaisaran Romawi. Meskipun demikian, mereka tidak pernah lupa bahwa Yerusalem adalah tempat hidup sosok yang mereka sucikan. Kota itu pun menjadi tempat ziarah spiritual mereka.

Beberapa situs utama, tempat yang dilalui Yesus di Yerusalem, menjadi tempat yang mereka ziarahi. Misalnya Bethlehem, Bethany, Bethabara dan Jericho. Tidak hanya itu, beberapa tempat terkait dengan para Santo seperti Santo Theodosius, Santo Chariton dan Santo John juga diperhatikan. Umat Kristiani mendapatkan posisi yang kuat ketika penguasa Bizantium memerintah tempat itu hingga abad ketujuh Masehi.

Melompati zaman, buku Destiny Disrupted: A History of the World Through Islamic Eyes karya Tamim Ansary mencatat bahwa menjelang perang dunia pecah, kawasan Palestina berada di bawah kekuasaan Turki Usmani. Ketika perang dunia berlangsung, rasa nasionalisme mulai bermunculan dikalangan orang Arab.  Mereka ingin melepaskan diri dari kekuasaan Usmani sekaligus cengkraman kolonial Eropa.

Pada saat yang sama, anti Semit bermunculan di Eropa dan menjadi salah satu faktor datangnya umat Yahudi kembali ke kawasan itu. Pada akhir abad ke 19 tercatat hanya 8 persen Yahudi di Palestina dan tumbuh menjadi 13 persen ketika perang dunia pertama berakhir.

Umat Yahudi lalu mendapatkan dukungan dari Deklarasi Balfour 1917. Isinya menyatakan dukungan pendirian negara bagi Yahudi di tanah Palestina oleh Kerajaan Britania Raya. Sebagaimana diketahui, beberapa waktu berselang umat Yahudi berhasil mendirikan negara yang dikenal dengan Israel.

Catatan kronologis diatas menunjukkan bahwa konflik berdarah yang pada hari ini disaksikan oleh dunia merupakan warisan dari kenyataan Yerusalem yang menyejarah. Khususnya bagi tiga agama besar, Yahudi, Kristiani dan Islam. Dua agama terakhir juga pernah terlibat konflik serius memperebutkan tempat itu dalam beberapa momen seperti perang Salib. Meskipun belakangan Yerusalem bisa dianggap pertaruhan antara antara cucu Ishaq dan keturunan Ismail. Atau lebih luas, antara umat Yahudi dengan Islam.

Ketika umat Islam bersatu karena Yerusalem, mestinya tempat itu juga bisa menjadi simbol persatuan dan perdamaian dunia. Sebagaimana diterangkan sebelumnya, tiga agama besar mempunyai ikatan batin yang kuat terhadap tempat itu. Yerusalem seharusnya menjadi tempat dimana para pecinta Ibrahim bergandengan tangan.

Namun, sampai kini masih diperebutkan dengan jumlah korban yang tidak terhitung sepanjang sejarah.

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Tentang Penulis

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.