Locita

Surat Dukungan untuk Sang Matador, Dandhy Laksono

Sumber foto; kabarpasee.com

Halo Mas Dandhy. Apa kabarmu? Saya yakin kau sedang baik-baik saja. Sudah berapa ancaman yang Kau nikmati hari ini? Ah, saya pikir Kau mungkin sudah terbiasa dengan hal itu. Bisa jadi yang kini Kau rasakan hanyalah buih dari advokasi Kendeng, penggusuran, dan reklamasi yang Kau perjuangkan.

Pertama kali membaca tulisanmu adalah mengenai Koes plus di Jakartabeat. Di situ saya yang saat itu masih mahasiswa ababil terbuka akan wawasan tentang kekuasaan itu berbahaya, seperti halnya Soekarno yang memenjarakan Koes Plus karena musik ngek-ngik-ngok.

Beberapa tulisanmu yang kemudian saya baca adalah api yang menjalar dan mengoyak rasionalitas dan emosi, khususnya bagaimana kritik kerasmu terhadap reklamasi. Salah satu yang menurut saya magnum opusmu, Jakarta Unfair turut menambah wawasan saya yang dari kampung ini akan ibukota.

Mas Dandhy yang baik,

Kadangkala saya bingung kenapa yang kritik kini dianggap pencemaran, kenapa pula yang bentuk kritik dianggap subversif. Apalagi sesuatu yang rasional disertai data-data, sekalipun saya tahu beberapa orang terkadang memelintir data untuk menjadikannya sebagai pembenaran.

Tapi untuk seseorang sekelas dirimu saya yakin data itu bukan asal ambil dan asal tempel. Data seperti mata yang menerawang, seperti pula mulut yang berbicara. Saya yakin data bagimu adalah fakta lapangan. Pengalamanmu sebagai jurnalis membuktikan itu.

Dan kini dirimu menjadi matador. Diperhadapkan dengan banteng. Banteng yang kini terusik setelah dirimu mengayunkan kain merah “muleta”, mengkomparasikan salah satu petingginya dengan seorang nominator tokoh ketidakmanusiaan dari Myanmar.

Mas Dandhy yang baik,

Apa salahnya dengan komparasi. Di tumpukan kolom di koran dan jejeran opini di portal dan situs berita acap kali menyajikan tulisan yang membandingkan satu fenomena dengan fenomena lainnya, satu tokoh dengan tokoh lainnya.

Dalam ilmu logika, ada isitilahnya analogi. Sebuah metode pengambilan kesimpulan berdasarkan perbandingan suatu fakta khusus dengan fakta lainnya. Metode yang diperkenalkan oleh Aristoteles ini kemudian berkembang pesat, memasuki ranah-ranah pengetahuan. Namun untuk mengevaluasi analogi tersebut memang berat.

Terlebih Analogi terhadap sejarah. Zheng Wang, seorang cendekiawan dari Seton Hall University dalam artikelnya yang berjudul, “The Dangers of History Analogies”, memaparkan bagaimana kecenderungan manusia untuk melakukan simplifikasi pada banyaknya informasi yang mereka dapatkan.

Menurutnya, banyak faktor yang dapat mendukung analogi sejarah. Seperti relevansi dari perihal yang dibandingkan, contoh yang ada, serta jumlah dan variasi yang dibandingkan. Dan beberapa penulis yang menggunakan metode ini acap kali terjebak pada ‘cocoklogi’ sebagai pemenuhan agitasi.

Apakah tepat menggeneralisasikan seorang Suu Kyi dengan Megawati tanpa menyampingkan faktor semisal gaya kepemimpinan dan karakter pribadi? Apakah kasus Papua dan Aceh betul-betul sama dari banyak aspek dengan Rohingiya?

Tulisanmu memang bukanlah ciutan seorang Alfian Tanjung yang asal ngomong. Di situ berbagai fakta, rekaman, dan data bermunculan. Namun, Saya pikir itu butuh analisis yang komprehensif.

Rasanya tidak tepat jika mengulas keduanya hanya dengan naskah sepanjang 1000-an kata saja. Mungkin benar apa yang Dandhy lainnya katakan (a.k.a Nurhady Sirimorok), segala perihal dunia maya merupakan dunia yang sangat cepat dan serba permukaan (lihat tulisan “Eksodus Oposisi ke Facebook” buku kumpulan tulisan, Oposisi Maya, 2010).

Satu hal yang dapat saya petik dan turut yang saya aminkan, negara ini sibuk mengurusi negeri orang, padahal tragedi dan isu kemanusiaan dalam negeri sendiri belum dituntaskan.

Tapi ah, bukan wewenang saya untuk menilai itu. Saya pikir itu membutuhkan pakar hermeutika, bukan seorang dokter gigi dodol dan paganna-ganna seperti saya ini. Apalagi tulisan dari begawan seperti dirimu, Mas.

Mas Dandhy yang baik,

Bukan konteks tulisanmu yang ingin saya bahas, tapi kebebasan bersuaralah yang saya tekankan. Belakangan memang para orang yang memakai jubah nasionalisme, demokrasi dan Pancasila diam-diam menganut fasisme. Fasisme ini sangat sensitif, apa-apa serba reaktif. Dan kini ia menghampirimu. Sialnya dia datang dari Repdem, organisasi yang menjual nama demokrasi di dalamnya.

Entah juga mengapa tulisanmu dibalas pelaporan, bukan dibalas dengan tulisan bantahan dari kader-kadernya. Padahal setahu saya partai tersebut memiliki banyak intelektual dan beberapa diantaranya adalah penulis.

Saya salut dengan pilihanmu menjadi matador. Matador yang memancing banteng untuk menanduk. Matador dalam artian sama dengan jurnalis yang kehormatannya adalah memberitakan fakta dan kebenaran. Pilihan yang mungkin tidak semua penulis ataupun jurnalis berani tempuh.

Apa yang Kau rasakan akan kelak dialami oleh para musisi punk yang menghardik realitas dalam musik tiga kunci, para penulis yang dengan tangannya melawan penindasan, atau para bomber yang di graffitinya melukiskan senak-enaknya kekuasaan.

Bagi saya, penghargaan bagi penulis non-fiksi di negara yang tidak mengapresiasi karya non-fiksi (selain pujian dan honor yang horor) adalah seperti yang kini kau rasakan, Mas. Bagaimana karyamu menjadi polemik. Serta dapat membuat objek atau subjek di tulisanmu ikut bereaksi. Saya ucapkan selamat atas pelaporannya, Mas.

Mas Dandhy yang baik,

Teringat kutipan Ernest Hemingway dalam karyanya Death in the Afternoon. Dia menganggap pertarungan banteng dan matador adalah sebuah seni, yang di mana seninya terletak kehormatan sang matador untuk melepaskan diri dari kematian.

Oh iya, saya lupa. Novelis Amerika itu menambahkan, keindahan pertarungan banteng ini tidak akan didapatkan ketika seorang matador yang artistik berhadapan dengan banteng yang bodoh. Nilai seninya adalah ketika banteng yang mampu membuat emosi penonton meletup-letup berhadapan dengan matador yang luar biasa. Entah kategori banteng yang mana yang melaporkanmu.

Saya tahu Mas, saya juga mengalami kesalahan analogi. Namun biarlah itu menjadi dukungan. Bahwa saya ada di sampingmu. Orang yang turut berang akan fasisme. Saya harap tidak ada minta maaf yang terucap dari mulutmu.

Tetaplah menjadi matador untuk kemerdekaan yang lugas sekaligus garis depan untuk yang tertindas. Jangan berhenti menginspirasi untuk resah akan kemanusiaan.

Sekalipun kita tidak pernah bertemu tapi saya mampu merasakan semangatmu.

Aku padamu Mas Dandhy!

 

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Tentang Penulis

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.