Locita

Ritual Posipo, Menyehatkan Ibu Hamil di Tanah Buton

seorang ibu hamil berbusana tradisional saat ritual Posipo. (foto: Zuardin)

TEPAT di Hari Kesehatan Nasional, yang selalu diperingati setiap tanggal 12 November, saya berada di tanah Buton, Sulawesi Tenggara. Saya  menghadiri beberapa acara adat yang diadakan pada hari-hari yang dianggap baik oleh masyarakat setempat.

Betapa beruntungnya saya karena masih bisa menyaksikan beberapa ritual adat. Seperti pernikahan, aqiqah, pindah rumah, posipo, tauraka (pertunangan), serta acara haroa (acara adat) lainnya yang diadakan pada waktu yang hampir bersamaan.

Masyarakat Buton masih sangat yakin bahwasanya acara adat harus dilaksanakan pada waktu yang baik demi kebaikan bersama. Pada momen tertentu, masyarakat akan mengadakan acara adat haroa, yang dilakukan dalam bentuk perjamuan yang dihadiri semua kerabat dan tetangga.

Saat haroa, beberapa nampan dengan penganan tradisional akan disajikan. Semua yang hadir boleh mencicipinya, setelah sebelumnya diadakan pembacaan doa bersama.

Saya tertarik untuk menyoroti salah satu haroa yang diperuntukkan bagi wanita hamil yaitu posipo. Saya kagum karena kebudayaan Buton memosisikan seorang perempuan dalam posisi yang istimewa. Sehingga ketika hamil pun, ada acara adat yang tujuannya adalah menghormati perempuan, serta memberitahukan pada komunitas untuk memberi dukungan pada perempuan itu demi generasi yang kuat di masa mendatang.

Dalam ritual posipo, perempuan hamil akan disuapi dengan sejumlah makanan yang dianggap akan membawa keberkahan bagi dirinya dan calon bayi pada trimester ketiga. Apabila menengok rentang waktu pelaksanaannya yaitu prenatal usia 28-36 minggu kehamilan.

Saya berpikir hal ini tentu sangat sesuai dengan upaya pemenuhan gizi wanita hamil dalam mempersiapkan persalinan. Prosesi adat tersebut sebenarnya bisa dimanfaatkan oleh stakeholder terkait untuk mempersiapkan gizi bagi ibu dan calon bayi selama kehamilan.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Positive Deviance Resource Centre, Universitas Indonesia bahwa Positive Deviance merupakan sebuah metode yang mulai banyak dilakukan  di dunia kesehatan. Tujuannya adalah menangani masalah kesehatan yang didasarkan pada asumsi bahwa sebagian solusi untuk masalah-masalah kesehatan tersebut sudah ada atau dipraktekkan di dalam masyarakat itu sendiri. Hanya saja, solusi ini perlu diidentifikasi kembali.

Khusus di Tanah Buton, prosesi Posipo dapat menjadi salah satu positive deviance namun belum dioptimalkan. Paling tidak, ritual ini penting untuk mengamati bagaimana dukungan budaya pada upaya komunitas menjaga kesehatan perempuan hamil yang kelak akan melahirkan generasi mendatang.

Ibu hamil berbusana tradisional Buton saat ritual Posipo (foto: instagram)

Positive deviance tersebut dapat dioptimalkan dengan memodifikasi ulang menu makanan yang disajikan sesuai dengan kebutuhan gizi ibu hamil. Selama kehamilan, perempuan membutuhkan beberapa nutrisi yang dibutuhkan diantaranya lemak, asam lemak esensial, kolin, fiber, karbohidrat, vitamin A, vitamin D, kalsium, vitamin B, vitamin B12, folat, zat besi, magnesium, zinc serta iodine.

Pertanyaannya, apakah menu makanan posipo sudah memenuhi kebutuhan gizi selama kehamilan? Tentu saja belum.

Saya melihat ada peluang untuk melakukan modifikasi makanan, yang tentu saja diupayakan tidak akan mengubah tradisi masyarakat setempat. Melainkan memperkuat tradisi itu sehingga bisa juga menjadi sarana untuk mengontrol kesehatan ibu hamil.

Beberapa lembaga internasional seperti UNICEF tengah mencari upaya lokal yang kreatif dan bersumber pada kearifan masyarakat setempat demi meningkatkan kesehatan ibu hamil. Serta mengurangi risiko kematian, yang bisa menjadi indikator pembangunan suatu bangsa. Pada titik ini, posipo bisa menjadi solusi kreatif yang berakar pada tradisi masyarakat Buton.

Kedepannya, sebelum posipo dilakukan, kita mesti menentukan status gizi ibu hamil pada trimester ke tiga. Tujuannya adalah agar kita bisa menentukan  menu makanan yang akan dihidangkan pada saat posipo.

Saya melihat upaya memperkaya gizi dan kandungan makanan tradisional khusus untuk prosesi posipo sebagai makanan fungsional kesehatan sejauh ini belum terpikirkan oleh pemerintah dan masyarakat setempat. Selama ini, posipo hanya dilakukan sebagai ritual yang rutin dilakukan. Akan sangat disayangkan jika tradisi ini hanya berakhir sebagai ritual tanpa memperhatikan fungsi yang mengikutinya.

Saya berharap di tahun mendatang para masyarakat adat, stakeholder kesehatan, serta pemerintah setempat mulai mengangkat isu ini sebagai upaya pembangunan kesehatan berbasis budaya.

Hal ini yang menjadi tanggung jawab bersama sebagaimana slogan Hari Kesehatan Nasional, 12 November 2017,  “Sehat Keluargaku, Sehat Indonesiaku”.

Avatar

Zuardin Arif

Dosen dan Peneliti UIN Sunan Ampel Surabaya

Tentang Penulis

Avatar

Zuardin Arif

Dosen dan Peneliti UIN Sunan Ampel Surabaya

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.