Locita

Merial Institute Bilang, Pemuda Kota Semakin Buta Aksara

Ilustrasi (sumber foto: Jawapos.com)

SUATU waktu saya berurusan dengan sistem administrasi di daerah asal saya, tepatnya di Kantor Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (Samsat) Sinjai, Sulawesi Selatan.

Hari itu saya akan memperpanjang Surat Izin Mengemudi (SIM), yang telah jatuh tempo seminggu silam. Saya bertemu dengan Rudi. Laki-laki berusia sekitar 30 tahun itu terlihat grasak-grusuk saat diminta mengisi formulir pendaftaran. Ia sibuk melihat ke kiri ke kanan, tanpa mengisinya.

Saya bertanya dalam hati, mengapa ia tidak mengisi formulirnya? Keanehan itu ditangkap oleh petugas yang segera mendekatinya. Ternyata, pemuda yang setiap hari bekerja sebagai pengembala sapi itu tak bisa menulis dan membaca. Ia seorang buta aksara. Akhirnya dalam proses administrasi tersebut, Rudi didampingi oleh petugas yang mengarahkannya mengisi kertas pembuatan SIM tadi.

Cerita lain datang dari rekan saya. Ia mengisahkan bahwa banyak penduduk di daerah asalnya, utamanya yang telah lanjut usia belum mengenal huruf  latin. Namun, orang-orang terdahulu masih banyak yang mampu mengenal aksara lain. Seperti aksara Jawa kuno, aksara lontara dan lain-lain. Sehingga perlu dipahami jika buta aksara yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah buta aksara latin.

Melihat masih banyak masyarakat Indonesia yang buta huruf khususnya bagi pemuda. Merial Insitute, sebuah lembaga yang peduli pada isu kepemudaan nasional merilis angka buta aksara pemuda di Indonesia yang mengkhawatirkan.

Lembaga riset Merial Institute yang bermarkas di Gedung FS Point, Tebet, Jakarta, ini menyajikan data persentase pertumbuhan pemuda di Indonesia. Tahun 2016, Indonesia memiliki 62 juta orang pemuda atau 24,07 persen dari total keseluruhan penduduk Indonesia.

Pada tahun 2012-2016 terjadi penurunan tren proporsi pemuda terhadap total penduduk. Yakni, kelompok usia 21-25 lebih besar dari usia 16-20 tahun. Dari jumlah tersebut, sebanyak 53,8 persen pemuda tinggal di kota, dan 46,2 persen pemuda tinggal di desa. Dari keseluruhan pemuda tersebut yang mencengangkan adalah angka buta aksara pemuda sebesar 0,57 di tahun 2016.

Meskipun tingkat buta aksara pemuda tergolong rendah, namun yang harus diwaspadai adalah tingkat buta aksara pemuda laki-laki di perkotaan merangkak naik secara signifikan sejak tahun 2014-2016.

Melek aksara itu, tergolong pada usia produktif, yang semestinya menjadi sumber daya yang bermutu. Upaya untuk meningkatkan sumber daya manusia tersebut haruslah dilakukan. Semua pohak tidak boleh berhenti pada upaya yang telah berjalan, yakni sekadar mendidik masyarakat mampu membaca, menulis, dan berhitung. Tetapi juga mengembangkan kemampuan individu agar mampu mengatasi persoalan kehidupan melalui keaksaraan.

***

Tak sekadar merilis data riset, Merial Insitute juga merancang strategi pembangunan pemuda. Mengingat sifat dasar permasalahan kepemudaan yang multisektoral, maka pemerintah Indonesia dituntut untuk memiliki kebijakan kepemudaan nasional yang terintegrasi (integrated national youth policy) dengan menekankan elemen pemuda dalam proses pembentukan, implementasi, dan evaluasi.

Dengan terbitnya Pepres 66/2017 tentang Koordinasi Lintas Sektor Pelayanan Pemuda, Kemenpora dituntut untuk lebih produktif dan agresif sebagai leading-sector pembangunan kepemudaan.

Peneliti Merial Insitute, Ale Laitte menungkapkan perlu adanya kerjasama stakeholder kepemudaan untuk mengurangi ketimpangan  sosial-ekonomi. Kampanye gerakan kepemimpinan bagi pemuda yang kekurangan akses sosial-ekonomi.

“Perlu melakukan program pelatihan life-skill, peningkatan literasi digital, pelatihan wirausaha. Dan mendorong partisipasi pemuda dalam pembangunan di tingkat kota-kabupaten,” jelas Ale saat merilis hasil temuan mereka di daerah Jakarta Pusat.

Berdasarkan data yang ada, masih tersisa 3,43 persen dari total jumlah penduduk Indonesia buta aksara. Sebagian besar persebaran penduduk buta aksara masih berada pada daerah kantong kantong buta aksara atau sebanyak 41 kabupaten/kota yang memiliki penduduk buta aksara di atas 30.000 orang.

Penduduk buta aksara juga terdapat pada Daerah 3T, Papua, dan Papua Barat. Mereka itu pada umumnya berada di daerah yang secara geografis terisolir, terpencil, dan mempunyai potensi mengalami ketertinggalan.

Selain itu penduduk buta aksara juga dijumpai pada komunitas adat terpencil/khusus. Konsep dasar komunitas adat terpencil/khusus dimaknai dalam Undang-Undang Nomor 11 tahun 2009 tentang kesejahteraan sosial sebagai “keterpencilan” yaitu lomunitas sosial budaya yang bersifat lokal dan terpencar serta kurang atau belum terlibat dalam jaringan dan pelayanan.

Buta Aksara dan Kemiskinan

Stigma awal yang melekat pada masyarakat buta aksara adalah kemiskinan dan pendidikan. Direktur Jenderal Paud dan Pendidikan Masyarakat Kemendikbud Harris Iskandar mengatakan kemiskinan masih menjadi penyebab utama masalah tuna aksara di Indonesia, sebagaimana dilansir jawapos.com.

Menurutnya, tingkat kemiskinan yang tinggi akan diikuti penyandang tuna aksara. Sebab, kemiskinan membuat rendah kesadaran bahwa pendidikan dan belajar sangat penting. Meski demikian, tidak ada satupun negara yang bisa memberantas sepenuhnya angka buta aksara. Negara maju sekalipun, Amerika Serikat masih memilki 2,07 persen buta aksara dari keseluruhan penduduknya.

Fenomena ini perlu menjadi perhatian pemerintah, apalagi jika melihat banyaknya mimpi-mimpi pemimpin akan terwujudnya Indonesia yang mandiri. Hal itu sangat jelas tertuang dalam program Nawa Cita, Jokowi-JK.

Pemerintah telah melakukan beberapa program pengawasan dan pendampingan hingga ke polosok dengan kucuran dana yang cukup besar. Namun nyatanya kita belum bisa menuntaskan tingginya angka buta aksara tersebut.

Bahkan angka buta aksara yang tinggi ternyata tidak hanya ada di daerah pelosok dan minim infrastruktur. Jawa Timur yang dikenal sebagai kota pendidikan dengan akses informasi dan infrastruktur yang memadai juga belum bisa keluar dari tingginya angka buta huruf.

Apakah ada yang salah dari sistem pendidikan kita? Kita bisa berkaca dari Palestina, negara yang masih terus dijatuhi bom ini justru menjadi negara yang tingkat buta aksaranya terendah di dunia. Di tahun 2017 Palestina kembali meraih penghargaan internasional di bidang pendidikan. Palestina juga disematkan sebagai negara yang memiliki sekolah dan guru terbaik di dunia.

Jika Indonesia telah memiliki sarana dan prasarana yang lengkap. Bisa saja sistem pendidikan kita bermasalah di kompetensi guru yang rendah. Tentu kita tidak perlu mencari kambing hitam dari permasalahan ini. Tanggung jawab generasi penerus bangsa bukanlah tugas pemerintah tapi kita semua.

Yang pasti, banyaknya orang yang mengidap buta aksara ini ibarat setitik nila yang merusak wajah republik kita. Buta aksara harus dilihat alarm besar bagi bangsa ini untuk segera melakukan langkah strategis demi mengatasi problem sumberdaya mausia.

Ini juga indikasi bahwa sekian tahun republik ini berdiri, terdapat banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan sebelum jauh berbicara tentang kemajuan. Yah, sebagaimna dikatakan penyair Chairil Anwar, “Kerja memang belum selesai. Belum apa-apa.”

 

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Tentang Penulis

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.