Locita

Mereka Yang Berjubel di Mall adalah Pahlawan Kita

ilustrasi pengunjung Mall di masa pandemi (foto: Bantenhits.com)

Sampara geleng-geleng kepala melihat video yang sedang viral. Masyarakat berjubel antri di depan satu mall. Mereka berkumpul sejak pagi. Begitu pintu mall terbuka, mereka berdesakan masuk ke dalamnya. Mereka seolah sudah puluhan tahun tidak menginjak mall.

“Bagaimana ini, Kyai?” gumam Sampara. Kyai Saleh yang berada tidak jauh menolehkan wajah demi mendengar Sampara berbicara.

“Kenapako Sampara?”

“Ini Kyai. Sudah mulaimi terbuka mall. Bahaya na. Kenapa juga ada perintah mall dibuka?”
Kyai Saleh tidak segera menjawab. Fenomena ini juga menyulitkan nalar Kyai Saleh.

“Kita berprasangka baik saja Sampara. Pemerintah mungkin punya tujuan-tujuan lain yang lebih baik. Cara pandang warga dan pemerintah memang berbeda. Pendekatan dan keputusannya pun berbeda. Saya sekilas mendengar kalau mall dibuka untuk mengaktifkan roda ekonomi. Tetapi kebijakan ini seperti melanggar anjuran tetap di rumah yang dibuat sendiri oleh pemerintah.”

“Iye, Kyai. Pemerintah kayak tidak konsisten dengan aturannya. Belumpi selesai PSBB, masih ada beberapa hari. Mall sudah dibuka. Jadi dengan sendirinya, PSBB batal karena tidak dibatasimi orang.”

Kyai Saleh terdiam sembari menghembuskan nafas yang berat.

Suasana menjadi hening. Kyai Saleh tampak kurang berselera menanggapi pernyataan Sampara.

Keheningan segera terinterupsi. Ponsel Kyai Saleh berdering.

Lelaki tua itu segera mengambil benda pintar itu dari meja. Wajahnya sumringah demi melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Kyai Jafar. Karibnya nun jauh di Pulau Jawa.

“Assalamu alaikum, Kyai Jafar!”

“Wassalamu alaikum, Kyai Saleh. Kaifa haluk?”

Lalu, kedua kyai ini saling berbasa-basi melepas rindu. Sudah cukup lama mereka tidak saling komunikasi.

“Bagaimana keadaan di wilayahmu, Kyai Jafar?”

“Sepertinya seluruh Indonesia sudah sama semua. Warga mulai memadati jalanan. Mall dibuka. Atasnama ekonomi, nyawa warga dipertaruhkan.”

“Situasi kita sangat dilematis, memang Kyai.”

“Benar. Kyai Saleh. Situasi seperti ini kita harus saling mendukung satu sama lain. Tidak boleh saling mengejek. Alam sedang menguji cara kita menyelesaikan persoalan ini. Beberapa negara seperti Vietnam. Politiknya berhasil mengendalikan peredaran virus ini. Di Taiwan, kultur masyarakatnya berhasil mengendalikan virus ini. Taiwan tidak menerapkan lockdown dan stay at home. Mereka tetap beraktivitas normal tetapi dengan kesadaran warga yang sangat tinggi. Mereka adalah wilayah yang dekat dengan sumber awal virus tetapi sangat sedikit terpapar dan sekarang mereka sudah bebas. Sedangkan negara kita, dua-duanya tidak bisa berfungsi dengan baik. Politik negara kita tidak bisa diandalkan. Terlalu lentur, hiruk, dan kebijakan yang sengkarut menjadi wabah tersendiri. Juga, kesadaran kultural masyarakat tidak bekerja dengan baik. Masjid ditutup protes. Mall dibuka malah berjubel datang. Memang butuh cara yang natural, seleksi alam.”

“Apa ini tidak berarti mempertaruhkan nyawa banyak orang?” Kyai Saleh menyela.

“Tidak ada pilihan lain, kan?”

Lalu hening sejenak. Kedua kyai ini tampaknya sedang tersandera oleh situasi pelik yang sedang terjadi di sekitar mereka.

“Menurut Kyai Jafar, apa yang membuat kesadaran warga kita sangat lemah?”

“Menurutku, ini karena virus corona ini abstrak dan cenderung spekulatif. Tidak ada keputusan sains yang jernih terhadap virus ini. Semuanya acak dan berbeda-beda. Para ahli virus tidak sepakat bulat. Ada dokter yang muncul dengan mengatakan ini sangat berbahaya. Ada ahli virus yang muncul dengan bahasa yang menganggap ringan. Ada juga yang bilang jenis virus yang ada di negara kita berbeda dengan di China dan Amerika. Pemerintah kita juga tidak bisa menetapkan secara tegas, jenis virus yang ada di negara kita. Dengan situasi yang tidak bulat ini, masyarakat membentuk cara berfikir mereka sendiri.”

“Iya juga. Apalagi masyarakat kita sudah terbiasa bercanda dengan penyakit. Kurang apa kampanye dunia kesehatan tentang bahaya merokok. Tetapi jumlah perokok tetap stabil dari generasi ke generasi.”

Nyinggung nih, Kyai?”

Kyai Saleh tersenyum. Dia lupa kalau Kyai Jafar belum bisa berhenti dari kebiasaan merokok.

“Tetapi lama-lama, saya kok setuju dengan kebijakan mall dibuka dan orang-orang pada ramai ke sana.” Kata Kyai Jafar menginterupsi jenak .

“Loohh… tadi katanya membahayakan nyawa warga, Kyai. Piye to?”

“Iya. Kalau disuruh milih. Saya tetap menganjurkan cara lama ini, stay at home. Tetapi faktanya sudah terjadi. Situasi sudah berubah. Kita tidak bisa lagi menghadang laju orang yang ingin keluari rumah dengan segala alasannya.”

“Yang membuat Kyai Jafar setuju dengan semua ini.”

“Ini bisa menjadi hipotesis baru.”

“Maksud antum?”

“Begini, Kyai Saleh. Kita ini kan sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang Covid ini. Kita hanya diberitahu ada bahaya. Setiap hari diinformasikan ada orang terkena, ada sembuh, ada yang meninggal. Kita pun percaya ada virus. Tetapi, sebenarnya kita tidak tahu apa-apa.”

“Trus?” Kyai Saleh penasaran dengan cara berfikir Kyai Jafar.

“Kita ubah cara pandang kita. Orang-orang yang berjubel ke mall ini adalah pasukan pendeteksi virus. Mereka sekarang menjadi front-liner kita. Siapa tahu situasi sebenarnya sudah aman atau virus ini sudah bukan pandemik, bisa kita ketahui dengan cepat. Kalau orang-orang ini ternyata sehat wal afiat. Berarti kan suasana sudah aman. Buktinya mereka berdesak-desakan, tetapi aman-aman saja.”

“Bagaimana kalau yang terjadi justru sebaliknya?”

“Maka tamat lah kita! Virus ini akan semakin lama bercokol di negeri kita dan menggerogoti kehidupan kita dari semua sisi.”

“Tetapi Kyai Jafar. Cara pandangmu ini seperti mengorbankan mereka. Menjadikan umpan untuk kepentingan kita yang tetap di rumah.”

“Siapa suruh keluar rumah? Siapa suruh buka mall? Siapa suruh merasa tidak nyaman kalau tidak berjamaah di masjid. Ini kan cara yang mereka inginkan. Kalau pemerintah gak buka mall tidak akan ada yang kesana. Kalau kesadaran warga tinggi. Mau mall buka 24 jam tidak akan akan ada yang ke sana. Tetapi ini seperti pucuk dicinta ulam pun tiba. Pemerintah butuh sirkulasi ekonomi bertemu dengan masyarakat yang ingin baju baru. Klop. Daripada kita mengejek mereka dan marah atas sikap mereka. Mengapa kita tidak angkat saja mereka sebagai pahlawan kita. Mereka yang gagah berani mempertaruhkan nyawa demi kita yang tinggal di rumah.”

“Baiklah, Kyai Jafar. Saya paham!”

Kyai Saleh tersenyum kecil. Dia mulai memahami arah berfikir sahabatnya itu. Puzzy logic. Logika acak sebagai jalan keluar dari fenomena yang terlihat kontradiksi dan rumit.

“Sudah dulu, Kyai. Minal aidin wal faidzin. Semoga situasi ini cepat berakhir. Kita semua diselamatkan dan kembali beraktivitas seperti dulu.” Ucap Kyai Jafar.

“Amin!”

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Tentang Penulis

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.