Locita

Media dan Selera Humor Kita

ilustrasi: tertawa [foto: istimewa]

Lelucon yang renyah memerlukan pengetahuan yang dalam. Tapi kita sudah terlanjur menikmati lawakan yang banal sebagai hiburan. Mendengarkan berbagai kedunguan, menyaksikan tragedi, lalu kita tertawa terpingkal – pingkal. Itulah selera humor kita kini.

Apakah ini masalah? Barangkali sebagai hiburan tidak, namun dengan menggunakan kacamata pendidikan melihat, rupanya kita bangsa yang gagal. Hiburan kita telah diselenggarakan dengan akal miring. Dan yang menjadi sponsor resmi atas seluruh ketidakcerdasan itu ialah media.

Media adalah bagian dari konfigurasi besar. Media punya relasi yang kuat menyangkut derajat pengetahuan masyarakat. Dari sanalah potret pendidikan masyarakat itu dapat tergambarkan secara utuh. Dan dari situ pula keindahan sebuah pikiran dipertontonkan.

Tapi itu tidak terjadi hari ini, Artinya kita tidak melihat di televisi sebuah pertunjukan kecerdasan dari humor. Yang sebenarnya kita simak adalah adegan badut, bukan komedi yang betul-betul berfungsi sebagai siasat untuk merawat rasionalitas publik.

Ini akan berdampak pada kemampuan kita untuk maju berkembang. Terutama standar kualitas humor kita, menurun. Akibatnya, bisa kita lihat dari bagaimana cara pedangdut zaskia gotik mengucapkan sebuah guyonan. Saya tidak sedang bicara dalam rangka untuk melecehkan idola publik.

Namun pada hakikatnya, tidak ada pelajaran sama sekali yang bisa kita petik dari blunder semacam itu. Kecuali hanya sebuah nasehat : kebodohan tidak akan pernah menolong siapapun. Taktis, jika begitu maka manfaat humor tidak lagi konstruktif.

Humor tidak berhasil merubah jidat kerut merut manusia menjadi tawa, tetapi justru menghalangi jalan masuk bagi kegembiraan itu sendiri. Di negara kita, negeri yang sudah terbiasa dengan kalimat “penderitaan dan kemiskinan adalah pengalaman sehari-hari. Hiburan dapat menjadi sebuah alternatif. Tetapi tidaklah hiburan yang melulu mengocok perut. Namun mampu mengantarkan kita kepada kenaikan kelas masyarakat.

Kita masih sangat jauh dari seperti apa yang di ilustrasikan oleh Antonio Gramscy sebagai Masyarakat Intelektual. Alih alih intelek, bahkan urusan melawak kita terkebelakang. Benar bahwa mereka bukan lapisan yang semula dipersiapkan secara sadar untuk menjaga akal sehat republik ini. Mereka mungkin lebih serupa seperti pedagang yang sedang memasarkan tubuh.

Namun bagaimana dengan nasib peradaban kita. Padahal kita butuh mutu humor yang tinggi. Menandai suatu transisi era yang baru. Asumsi itupun menegasikan bahwa media wajib untuk mengedarkan konsep logis etis, yaitu membiasakan masyarakat hidup dengan dagelan cerdas. Menerangkan aktivitas melawak sebagai hasil kerja otak bukan tergelincirnya logika.

Tetapi mungkin urusan inilah yang amat jauh dari sorotan media. Sesungguhnya yang hidup disana adalah nalar pasar, uang uang dan uang. Disinilah kita perlu kembali kepada akal sehat, yakni keluar dari abusrditas kelucuan itu.

Kita harus memastikan, bahwa humor bukan kemiskinan, humor bukan kelainan fisik, humor bukan kebodohan dan bukan pula penyalur nafsu-nafsu agresif. Dari sana baru kemudian kita bisa menghitung kembali tentang taraf humoritas kita. benarkah baik baik saja.


Tulisan ini pernah dimuat pada http://www.qureta.com/post/media-dan-selera-humor-kita

Muktamar Umakaapa

Bergerilya di Suropati Syndicate, Lembaga kajian dan diskusi di Taman Suropati Menteng Jakarta pusat.

Tentang Penulis

Muktamar Umakaapa

Bergerilya di Suropati Syndicate, Lembaga kajian dan diskusi di Taman Suropati Menteng Jakarta pusat.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.