Locita

Mari Cukupkan Polemik Komunis

Ilustrasi: boombastis.com

SETIAP datang September, selalu ada bahagia sekaligus kekalutan. Bahagia karena permulaannya saya peroleh banyak doa juga kado dalam rangka merayakan bertambahnya usia, kalut karena drama PKI datang kemudian.

Sebagai seseorang yang tidak lahir di tahun pergolakan itu (1965), salah satu hal yang paling tidak dapat saya lupakan adalah bagaimana kengerian film G30SPKI. Saya masih ingat ketika masih bersekolah. Ketika film itu diwajibkan dinonton oleh saya yang kala itu masih SD. Itu pertama kalinya saya melihat kesadisan dan teror lewat jendela televisi.

Interaksi yang kedua yaitu saat di lingkungan perkuliahan. Saya masuk kampus, di awal reformasi sekaligus sedang panas-panasnya geliat intelektual di kampus saya, Universitas Hasanuddin. Di sana saya banyak berinteraksi dengan literatur-literatur kiri hingga pengenalan lebih jauh kepada sejarah kelam bangsa kita.

Posisi saya saat itu jelas, bagi saya komunis dan PKI sudah saatnya mangkat. Mereka sudah tidak relevan dengan bangsa ataupun negara kita. Hingga hari ini saya teguh pada pendirian itu. Saya sepakat dengan Taufiq Ismail, kita tidak boleh lupa bahwa PKI juga tidak bersih-bersih amat. Tragedi Madiun 1948 adalah salah satunya.

Beberapa waktu ini, isu PKI dan tragedi 1965 ini semakin menguat. Salah satunya adalah pemutaran serentak film G30SPKI. Himbauan untuk menonton tak perlu acuh berlebihan. Toh kalau ada yang belum lurus, generasi milenial sudah pasti mampu memilah dengan baik. Tak usah mengajarinya berlebihan, dia mampu menelusuri belukar informasi dengan sebenar-benarnya jika mereka penasaran.

Kalau memang mau ideal, pemutaran itu diikuti juga film sejarah alternatif lainnya. Sebut saja Jagal dan Senyap karya Joshua Oppenheimer.

Menjadikan Pelajaran

Saya jadi teringat 24 Maret 2014 silam, dengan KMP Temi saya harus berangkat ke Namlea, Maluku untuk melantik HMI Cabang Namlea. Saya baru sadar kalau disanalah juga Pulau Buru berada.

Setibanya di sana, karena waktu sangat sempit, saya mendesak beberapa teman yang mendampingi saya untuk bisa melihat sisa-sisa tempat tahanan politik diasingkan. Termasuk penulis termasyhur kita, calon peraih hadiah Nobel, Pramoedya Ananta Toer. Saya adalah pengagum Pram, terlepas dari perbedaan politik dan cara pandang saya dengannya.

Tuan rumah dan teman-teman pengurus HMI Cabang Namlea langsung mengantarkan saya berkunjung ke Desa Savana Jaya. Menyempatkan berfoto di tugu, hingga ke bangsal seni yang dibangun Pram dan kawan-kawannya sesama Tapol.

Menutup kunjungan, kami menyempatkan diri mampir ke rumah salah satu tahanan politik, kalau tak salah beliau sebagai pembawa kertas dalam penulisan tetralogi pulau buru oleh Pram saat menjalani hukumannya di sana.

Pak Diro Utomo, meski usianya senja tapi berapi-api dalam menjelaskan nasibnya sejak dituduh sebagai PKI. Sejak tuduhan itu hidupnya dan keluarga seperti terbalik dalam sekejap, ia diusir dan dibuang dari kampung dimana ia lahir tanpa pengadilan apapun.

Sekalipun saya adalah orang yang tidak mendukung pemahaman komunisme dan PKI, namun saya tidak menampik bahwa tragedi 1965 adalah luka bangsa. Di situ ada memang pembantaian dan tragedi kemanusiaan. Salah tebang sering kali terjadi.

Kita bisa juga berkaca pada karya-karya seperti Amba, Ronggeng Dukuh Paruk, atau Pulang. Sesekali kita juga perlu melihat perjuangan para ibu-ibu dan anak muda yang menggugat tanggung jawab negara di acara Kamisan. Sebagai pembanding akan sejarah dan bersama-sama kita kaji.

Kita memang perlu belajar dari masa lalu. Agar sejarah kelam tidak terulang lagi. Dendam memang tidak perlu diwariskan. Trauma dan stigma PKI juga perlu dicukupkan. Kita rasanya perlu belajar agar mengingat. Belajar untuk menghindari kejadian serupa terjadi lagi dan dikendarai untuk momen-momen politik lainnya. Sentimen seperti ini adalah bara dalam sekam, seketika dalam membakar lumbung kita bersama.

Demokrasi juga adalah kebebasan berpikir dan bertindak. Pelarangan menonton, dan tuduhan PKI pada orang-orang yang dianggap meminta kita mengingat adalah pelanggaran terhadap kebebasan berekspresi. Baik mendukung atau menolak semua berhak bersuara.

Tentu kita tak berharap kisah seperti ini berulang, biarkan setiap warga negara peroleh kemerdekaannya, bukan juga bebas sebebas-bebasnya tanpa aturan. Menonton boleh, apalagi berdiskusi. Tak perlu ada yang dilarang sepanjang mereka tertib dalam aturan. Kita adalah anak reformasi, generasi muda tanpa beban masa lalu. Biar dendam dan tragedi terkubur, yang sesekali dapat kita ziarahi.

Avatar

Arief Rosyid

Seorang ayah dan suami, dokter gigi, Ketua Umum PB HMI 2013-2015

Tentang Penulis

Avatar

Arief Rosyid

Seorang ayah dan suami, dokter gigi, Ketua Umum PB HMI 2013-2015

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.