Locita

Kasus Gilang “Bungkus”: Agar Tidak Mudah Terkecoh dengan Dalih Penelitian

Selama hampir seminggu, saya bolak balik ke kantor Human Subject Committee (HSC) di kampus saya – Southern Illinois University Carbondale—untuk memastikan pengambilan data riset  saya yang melibatkan responden manusia sesuai dengan protokol. Salah satu poin protokol yang dimaksud adalah pelecehan seksual. Setidaknya dua kali saya harus merevisi berkas-berkas penelitian sebelum disetujui dan boleh disebarkan untuk pengambilan data.

HSC bertujuan untuk memastikan bahwa responden tidak dirugikan dalam pengambilan data. Mereka akan mereview setiap berkas dan instruksi. Jika bukan dalam bahasa Inggris, maka harus diterjemahkan dengan penerjemahan yang divalidasi. Karena beberapa artikel penelitian saya berbahasa Indonesia, maka berkas saya harus diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh orang Indonesia dan harus ditanda tangani.

Penelitian yang melibatkan manusia  sangat ketat. Peneliti harus menyiapkan lembar ‘consent’ yaitu lembar izin persetujuan untuk responden. Jika pemberitahuan di awal dikhawatirkan mempengaruhi hasil penelitian maka peneliti dapat melakukan ‘deception’. Dengan catatan, responden harus diberitahu di akhir survei atau pengambilan data. Dan peneliti harus mengkonfirmasi persetujuan atau tidak setelah diberitahu. Jika tidak setuju maka responden berhak untuk tidak memberitakan datanya.

Apa yang terjadi pada kasus Gilang ‘bungkus’ adalah karena responden tidak mengetahui hak-hak mereka. Dengan dalih penelitian, artikel, makalah atau sekadar tugas kampus, pelaku bisa dengan mudah mengelabui korban. Alasan-alasan tersebut bisa menjadi legitimasi pelaku dapat melakukan pelecehan terhadap korban.

Ada berapa banyak yang menjadi korban karena ketidaktahuan mereka terhadap ‘consent’? Jawabannya banyak. Seorang teman baik saya turut membagikan pengalamannya yang nyaris menjadi korban pelecehan seks dengan dalih penelitian.

Kemunculan teman-teman lain yang turut bersuara jika ada kasus pelecehan seksual adalah fenomena gunung es. Saya sangat meyakini bahwa masih sangat banyak yang mengalami pengalaman serupa namun tidak cukup punya  keberanian untuk bersuara. Maka jika ada satu orang yang berani bersaksi, yang lain biasanya akan muncul satu per satu memberi kesaksian. Seringnya dimulai di sosial media. Saya meyakini masih banyak yang memilih bungkam, terlepas dari apapun alasannya.

Yang menarik –untuk tidak mengatakannya celaka—adalah para korban, seperti korban Gilang ini adalah anak SMA, mahasiswa baru, dan bahkan mahasiswa semester tiga ke atas. Singkatnya, mereka adalah orang-orang terdidik. Orang-orang terdidik, katakanlah itu mahasiswa, seharusnya sudah cukup matang untuk berpikir seberapa pantas sebuah percobaan dilakukan. Bersyukurlah bahwa masih ada juga yang tetap waras dan menjaga nalar sehingga selamat. Sayangnya, ada begitu banyak yang terjebak dan selanjutnya menjadi korban.

Tidak sekadar menjadi korban, pengalaman itu bisa menjadi trauma psikologis. Suatu hal yang membutuhkan waktu yang lama untuk menyembuhkannya. Tentu seberapa cepatnya sembuh akan tergantung lagi pada tingkat keburukan pengalaman mereka.

Gilang hanyalah satu contoh. Ada banyak di luar sana –yang bisa jadi bukan hanya mahasiswa tetapi juga dosen—yang sering mengatasnamakan riset untuk mengelabui korban. Terkuaknya kasus Gilang semoga melecut juga kasus-kasus serupa dengan kasus berbeda tetapi memiliki motif yang sama.

Maka pengetahuan tentang ‘consent’ atau lembar persetujuan sangat penting untuk diketahui bukan hanya sebagai responden tetapi juga sebagai peneliti. Sebagai responden, ia akan tahu hak-haknya. Hal-hal yang tidak seharusnya mereka tanyakan. Data-data yang boleh mereka bagikan atau tidak. Bahkan responden tahu bahwa ia punya untuk tidak memberi izin menggunakan datanya jika ia keberatan. Jika datanya tersebut dianggap dapat merugikan dirinya. Bahkan ketika repsonden merasa tidak nyaman saja dengan data yang hendak diberikan.

Salah satu kasus terbesar di Amerika Serikat adalah kasus rasisme yang memanfaatkan orang-orang kulit hitam untuk kepentingan penelitian tanpa sepengetahuan mereka. The Tuskegee Syphilis Experiment adalah kasus fenomenal yang memanfaatkan sekelompok masyarakat kulit hitam di Alabama, Amerika Serikat. Mereka tidak diberitahu tujuan studi tersebut. Dengan kata lain, peneliti menipu mereka dan ini adalah pelanggaran kode etik. Pelanggaran berat.

Beberapa tahun lalu, saya mengingat salah satu teman saya bercerita jika dia sering memanfaatkan tukang becak untuk dirontgen [rongseng] tanpa sepengetahuan mereka untuk kepentingan penelitian. Para tukang becak mau saja melakukannya dengan iming-iming 20 ribu rupiah. Angka yang tidak sepadan dengan harga kesehatan mereka. Radiasi bisa berbahaya bagi kesehatan mereka.

Sebaliknya peneliti juga harus tahu kewajiban-kewajibannya dan hak-hak respodennya. Bukan justru menyalahkan gunakan kepercayaan responden, terutama karena responden tidak tahu. Para responden harus dihormati hak-haknya.

Saya pikir para pengajar terutama dosen di perguruan tinggi sangat penting untuk menekankan bagian ini saat mereka mengajar. Sejauh pengalaman saya, ‘consent’ ini kurang mendapat perhatian baik peneliti apalagi sebagai responden di bangku-bangku kuliah.

Halo para dosen penelitian?

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Tentang Penulis

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.