Locita

Jalan Sunyi Halimah Dg. Sikati

Ilustrasi (sumber foto: Cerpin.com)

SORE ITU, Selasa 7 November 2017 saya menuju Rumah Sakit Ibnu Sina bersama seorang kawan M.Yusran Mukrim. Kami menyusuri padatnya lalu lalang kendaraan dari arah kampus Unhas Tamalanrea, Makassar. Tujuan kami adalah menjenguk Bonda Halimah Dg. Sikati yang sementara terbaring lemah di rumah sakit itu. Kami memanggilnya, Bonda sebagai tanda keakraban kami padanya.

Siapakah Bonda Halimah Dg. Sikati? Pertanyaan itu menyeret ingatan saya tentang sebuah buku biografi yang ditulis oleh dua orang Jurnalis senior yaitu M. Dahlan Abu Bakar dan (Alm.) Asdar Muis RMS. Buku ini digagas oleh dua dosen bedah mulut FKG Unhas, yakni Drg. Muhammad Ruslin M.kes, SpBM (K) dan Drg. Andi Tajrin M.kes, SpBM (K) buku itu diberi judul Drg. Hj. Halimah Dg. Sikati, Pejuang Pendidikan Tanpa Pamrih.

Membaca buku itu ibarat mengajak para pembacanya menyelam dalam butiran makna sejarah, bahwa di balik berdirinya Fakultas Kedokteran Gigi Unhas, tidak terlepas dari tangan dingin seorang perempuan hebat, Bonda Halimah Dg. Sikati. Anehnya, sepak terjang seorang Bonda Halimah Dg. Sikati tak begitu dikenal dalam literatur pembangunan di bidang pendidikan, dia ibarat tokoh yang sejak dulu berjalan senyap sebagai sosok yang penuh cita-cita dan cinta demi kemajuan Sulawesi Selatan.

Demi cita-citanya mendirikan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Unhas, ia harus merelakan tawaran dari negeri jiran Malaysia untuk menjadi pegawai dengan gaji yang tinggi. Lulusan sarjana pertama dari Sulawesi Selatan itu menyelesaikan studinya di School Tot Opelding Van Indische Tandarsten (STOVIT) Surabaya dengan lama studi 4 tahun pada tahun 1958, bahkan dengan prestasi yang dia miliki dan kemampuan berbahasa Inggris dan Belanda.

Setelah lulus dari STOVIT dia mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi di New York University, Amerika Serikat dalam bidang studi Bedah Mulut ( Oral Surgery), dan bagi dirinya pada saat itu, New York adalah kota masa depan yang penuh harapan.

Ketangguhan, kegigihan dan karakter tidak pernah menyerah yang ada pada diri seorang Halimah ibarat oase kaum intelektual yang terbentuk dari rahim masa-masa sulit bagi bangsa Indonesia, dialah bayi mungil yang lahir prematur 7 bulan, di Sinjai pada 9 Desember 1927.

Latar belakang tak pernah menyerah itu, membuat ia tercatat sebagai perempuan yang melampui zamanya, dia terlahir dengan cita-cita modern, berkemajuan di tengah-tengah tradisi merenggut kebebasan perempuan untuk mengenyam pendidikan, barangkali dia serupa Kartini dari timur. Serpihan ingatan saya tentang beberapa poin isi buku tersebut akhirnya berakhir ketika kami memasuki lift menuju lantai lima RS. Ibnu Sina, saya mencari kamar Bonda Halimah.

***

Tubuh yang ringkih itu terbaring di sebuah ruang perawatan, tapi saya tidak menemukan cahaya kepedihan dari pancaran mata yang tajam itu, jiwa yang memiliki semangat meluap-luap tetap terpancar dari wajah seorang bonda Halimah. Menyelami setiap tutur sejarah yang dia ungkapkan sepertinya akan memberikan gelombang energi yang besar, bahwa alur cerita yang sama selalu diungkapkan tentang sejarahnya sendiri seolah olah adalah penegasan sekaligus ibrah bagi pemuda-pemuda masa kini tentang artinya sebuah terima kasih.

Ketika berdiri di sampingnya, saya menggamit tangannya dengan lembut dan menciumnya dengan takzim, sungguh dalam hati saya yang paling dalam berdesir bahwa saya dan semua alumni dokter gigi Universitas Hasanuddin mampu menggapai cita-cita sebagai profesi dokter gigi karena dirinya, perjuangannya dan segala kebanggaan, kesulitan serta tantangannya hanyalah dirinya sendiri yang mengetahuinya dengan pasti.

Bonda Halimah Dg. Sikati seumpama guru yang selalu gelisah dengan perubahan-perubahan baru , harapannya yang kini terwujud menjadi sebuah institusi FKG terbesar di Indonesia Timur, merupakan buah pikirnya yang sejatinya merupakan sebuah loncatan yang jauh dan berani di kala itu.

Perempuan yang berjuang hingga ke negeri Belanda dan bertemu dengan ratu belanda hanya karena ingin mendirikan sekolah dokter gigi agar generasi sulawesi selatan tidak perlu jauh-jauh ke Jawa jika bercita-cita menjadi dokter gigi.

Sebagai seorang dokter gigi pertama di Sulawesi Selatan, dia bisa saja segera menjemput kemapanan dan berhenti disuatu titik dengan jabatan terpenting, tapi hal itu tidak dia lakukan, Bonda dengan segala kualitas dirinya melakukan langkah out of the box berjuang sendiri, memanfaatkan jaringannya dan segala strategi yang dia miliki demi menciptakan dokter gigi dan membesarkan mereka di kemudian hari.

Kini berkat keberhasilanya itu, Bonda Halimah telah melahirkan ‘anak-anak’ yang menyebar dari Sabang sampai Merauke, beberapa di antara mereka selain sebagai dokter gigi juga mengabdi dengan banyak peran seperti kepala daerah, anggota dewan pusat maupun daerah, kepala rumah sakit, kepala dinas kesehatan, penulis,¬†jurnalis, aktivis sosial, politisi dan lain-lain.

Beberapa saat kemudian saya masih berdiri di samping tempat dia terbaring lemah. Beberapa orang sahabat dan barangkali muridnya dari sekolah perawat gigi mengunjungi dirinya,  memperkenalkan diri dan disapa dengan baik oleh bonda dengan anggukan kecil.

“Bonda saya pamit pulang, mulai sebentar malam akan ada anak-anak ta’ residen yag akan bergantian tiap malam menjaga kita‘ di sini,” kata saya ketika pamit untuk pulang. Dia mengangguk pelan dengan ekspresi senang.

***

Apa yang abadi di dunia ini selain kebaikan-atau keburukan. Manusia hanya berada pada titik persinggahan tempat dia mengukir sejarah untuk dikenang. Kenangan itu dapat diingat sebagai dua sisi mata uang, dia dapat menjadi kenangan indah sebagai kebaikan abadi tapi juga dapat menjadi keburukan dengan kegelisahan abadi.

Bonda Halimah Dg. Sikati adalah miniatur kebaikan abadi yang diikat oleh fakta sejarah yang tak akan pernah lekang oleh waktu. Kita sebagai generasi pelanjut hanya bisa berkhidmat kepadanya, berusaha mengikuti jejak kepahlawanan yang ada pada dirinya.

Kini kedatangan sahabat, mahasiswa FKG Unhas, alumni FKG Unhas atau sebagai ‘anak-anaknya’ menjenguk di rumah sakit barangkali akan menggiring ingatannya dengan rasa syukur, bahwa dia memiliki keluarga besar dengan cinta yang tak pernah habis, seperti sejarah dan kebaikan yang melimpah dan yang dia torehkan, darinya untuk Indonesia tercinta.

Avatar

Rustan Ambo Asse

Penulis, dokter gigi, dan seorang ayah yang baik

Tentang Penulis

Avatar

Rustan Ambo Asse

Penulis, dokter gigi, dan seorang ayah yang baik

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.