Locita

Istirahatlah G30S/PKI

Ilustrasi Lubang Buaya (sumber foto: GoRiau.com)

“TERNYATA, jadi buron itu jauh lebih menakutkan, daripada menghadapi sekompi ‘kacang ijo’ bersenapan lengkap, yang membubarkan demonstrasi. Ha-ha-ha.” Ucapan ini meluncur dari mulut seorang paruh baya. Badannya kurus dan tak terawat. Ia mengucapkan itu sembari tertawa, pada sebuah malam yang larut. Ia sendirian dan tidak bisa tidur. Getir.

Pria itu bernama Wiji Thukul, kacang ijo yang ia maksud adalah tentara yang ditakutinya, ketika berjumpa di tempat tukang cukur, saat hendak bertamu.

Kalimatnya di atas merupakan sebuah fragmen film, yang membuat saya tempo hari menduga-duga, itulah inti dari film berjudul Istirahatlah Kata-Kata.

Film berdurasi 90 menit yang mengisahkan tentang pelarian Wiji Thukul ke Pontianak. Film bergenre drama biografi yang mengusung tema kemanusiaan tentang Thukul dan sang keluarga. Dalam film ini, Thukul, sang aktivis pergerakan tersebut, dituduh subversif dan buron.

Tuduhan ini kerap menjadi senjata ampuh oleh Orde Baru (Orba) yang membuat orang bergidik dan tetiba hilang.

Saya memutuskan menontonnya beberapa hari lalu, setelah ramai seruan nonton bareng film G30S/PKI. Ada alur cerita yang hampir sama. Ada orang yang sama-sama dihilangkan secara paksa.

Konon, nonton rame film G30S/PKI itu dalam rangka memperingati peristiwa pembantaian para jenderal dan niat kudeta oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) pada akhir September tahun 1965 silam.

Istirahatlah Kata-Kata, tak hanya penggalan perjalanan hidup Wiji Thukul, yang menyamar sebagai penjual Bakso Solo, di tengah pelariannya di Pontianak. Ada juga istrinya, Sipon, yang merasakan getir dan dicengkram rasa takut setiap hari, karena kedatangan polisi maupun tentara. Adapula anak mereka yang masih bocah, Fitri Nganthi Wani, yang menghadapi segalanya dengan kebisuan.

Film yang disutradari oleh Yosep Anggi Noen ini, memuat potongan kisah tak tuntas tentang hilangnya aktivis paling dicari Orde Baru itu.

Wiji Thukul lari karena menghindari kejaran aparat, pasca peristiwa penyerangan kantor DPP PDI di Jakarta, 27 Juli 1996. Tukul dilaporkan secara resmi hilang pada 2000. Laporan itu tak pernah dicabut hingga kini karena ia memang tak pernah pulang.

Melalui film ini, kita akan tahu ada makna yang diangkat sang sutradara, tentang aktivis yang menolak tunduk terhadap kekuasaan yang kejam, setia pada perlawanan, dan menolak menyerah pada kemiskinan. Tempo hari saya hampir menitikkan air mata menontonnya, beruntung ada seorang kawan di samping saya.

Nah, apakah juga ada hikmah yang dapat diambil dari film G30/S/PKI yang di tahun 2017 ini coba digandrungi lagi, setidaknya oleh para aparat? Tunggu dulu, saya hendak bercerita lagi, dari film Istirahatlah Kata-Kata setidaknya saya mengenang masa menjadi mahasiswa.

Pada suatu masa, saya merasa jauh lebih bertenaga, dan sedikit tampan, saat membacai sajaknya, sembari berdemonstrasi. Syairnya membakar semangat kami saat berada di tengah terik jalanan.

Syairnya juga menggelorakan semangat ribuan buruh, saat menentang hak-hak mereka yang disepelekan, atau sajak yang membuat pedagang kaki lima berontak, ketika digusur dan dipecundangi Satpol PP. Coba dengarkan berikut, sajaknya yang berjudul “Sajak Suara” :

 

“Suara-suara itu tak bisa dipenjarakan

di sana bersemayam kemerdekaan

apabila engkau memaksa diam,

aku siapkan untukmu: pemberontakan!”

***

Penggalan-penggalan sajak dan puisi-puisi agitatif Thukul, membuat keinginan untuk memberontak membuncah. Maka dalam dinamika kehidupan kampus film Istrahatlah Kata-Kata seharusnya menjadi film yang diwajibkan untuk ditonton para Mahasiswa Baru.

Hal ini harus dilakukan agar menyusupkan gelora perlawanan dan penindasan pada sanubari adik-adik mahasiswa. Hal ini agar mahasiswa kelak berteriak lantang, ketika mendengar hak masyarakat dilanggar. Tapi sepertinya hal itu mustahil dilakukan sekarang. Di banyak kampus, saya dengar para mahasiswa diminta untuk selalu tunduk. Iya kan?

Sementara itu ada film G30S/PKI yang kembali ‘dipaksakan’ untuk ditonton di bulan ini. Saya jadi bertanya-tanya apa yang hendak dikatakan melalui film ini? Inginkah anak-anak sekolah menjadi terbiasa dengan gerabak gerubuk pembunuhan? Terbiasa menikmati darah, atau jadi terbiasa dengan kekejaman yang disimbolkan oleh baju loreng-loreng?

Apa yang bisa diharapkan, selepas menonton film, yang menulis judulnya pun saya malas? Dapatkah jadi momen untuk mempertanyakan peristiwa pembunuhan terhadap ketujuh Jenderal?

Siapakah sebenarnya yang berkonspirasi membunuh mereka? Seperti halnya, kita bertanya-tanya tentang penyerangan ke kantor DPP PDI pada film Istirahatlah Kata-Kata.

Ataukah banyak hikmah dapat dipetik dari dari film G30S/PKI? Benarkah tak ada campur tangan CIA pada malam yang nahas itu?

Apa betul ketujuh jenderal sebelum dibunuh mata mereka dicongkel, bagian tubuh dipotong serta kulit mereka yang masih terbungkus baju piyama serta pakaian dinas, disayat-sayat?

Jika membaca buku yang ditulis Greg Poulgrain, The Incubus of Intervention: Conflicting Indonesian Strategies of John F. Kennedy and Allen Dulles, yang baru-baru ini diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Saya meragukan ‘cerita’ di atas selain waktu itu kita terbiasa menerima satu sumber kebenaran.

Buku ini dihasilkan melalui riset mendalam, menjelaskan keterlibatan CIA dalam menjatuhkan pemerintahan Soekarno, dengan menunggangi prahara di tubuh Angkatan Darat serta PKI.

Greg Poulgrain seolah ingin mengatakan bahwa pemberontakan PKI sengaja digerakkan oleh Dulles, mantan direktur CIA, untuk menjatuhkan Soekarno.

Jika dalam film Istirahatlah Kata-Kata pada ujung film, penonton menjadi paham bahwa penguasa memang mengambing-hitamkan Wiji Thukul pada kasus penyerangan kantor DPP PDI.

Maka, hal apa yang hendak ditangkap penonton ketika menyaksikan film lawas yang diproduksi sebelum generasi millenial lahir di muka bumi?

Seusai menonton film berdurasi 3 jam 37 menit itu, apa yang didapatkan penonton selain perasaan takut, kebencian dan kecurigaan pada ideologi yang justru di negerinya sendiri telah mati?

Berebut Ingatan

Milan Kundera dalam bukunya The Book of Laughter and Forgetting, Laughable Loves, Ignorance, mengatakan, mengingat dan melupakan merupakan tindakan politis. Keduanya berada dalam ranah politik, sejarah, dan kehidupan pribadi.

Maka serupa yang dikatakan oleh Umberto Eco, penulis Travels in Hiperreality ini yang lebih spesifik menjelaskan, bahwa jika ingin mempertahankan status quo kekuasaan, kuasai ingatan rakyat. Tentukan mana boleh diingat mana harus dilupakan. Sejarah akan memenangkan kalian.

Inilah alasan mengapa Orde Baru begitu semangat membiayai pembuatan film G30S/PKI. Sampai-sampai kala itu mewajibkan mulai anak sekolah, pegawai negeri sipil dan karyawan perusahaan daerah untuk menontonnya di tiap 30 September.

Sejarah yang telah ditulis oleh penguasa, dijaga dan rawat, ibarat sebuah guci yang dijaga dari debu dan keretakan agar ingatan terus dipertahankan. Hingga akhirnya film ini dilarang diputar selang empat bulan setelah Orba tumbang, karena tak sesuai semangat reformasi. Maka lucu, jika kita turut merawat produk ‘penulis’ yang menimbulkan kemelaratan kita sebagai bangsa.

Propaganda melalui sejarah, sebagaimana dikatakan lagi oleh Umberto Eco, memang kerap dibuat dengan kolaborasi para ahli dari berbagai bidang, seperti militer, politik, sastra, hingga sinema.

Apa yang harus diingat dan dilupakan, telah ditentukan oleh penguasa dengan berbagai instrumen dari buku sampai film. Maka tak heran di masa Orba, film dan buku diawasi peredarannya. Di belakang semua itu, ada simbol negara yakni militer yang sigap mengamankan tujuan penguasa.

***

Menarik dilihat akan berpihak kemanakah pemerintahan sekarang, melanjutkan pemutaran film G30S/PKI yang digarap sebagai propaganda Orba ini, atau memilih menceritakan sejarah dengan medium baru yang lebih mendekati kebenaran.

Kita sebagai masyarakat yang masih waras tentu tak boleh kalah, sesuai perkataan Milan Kundera bahwa perjuangan dari orang melawan kekuasaan, ialah perjuangan ingatan melawan lupa.

Ada banyak cara, jika nanti di sekolah atau tempat kerja misalnya, kita menghadapi paksaan untuk menonton film sejarah yang menyimpang ini. Kita bisa memilih alernatif film lain untuk menetralisir racun film yang akan masuk pada kepala anak maupun keluarga kita.

Anda boleh memilih film dewasa tentunya, tapi saya sarankan tak menontonnya di ruang keluarga, bersama anak ataupun istri. Ada banyak film tentang sejarah bangsa kita yang dikerjakan dengan riset dan fakta yang terang, seperti film Jagal maupun Senyap.

Tetapi sebelum menonton film yang disukai, marilah sejenak berdiri, menunjukkan semangat perlawanan. Meminjam gaya khas Wiji Thukul membaca sajaknya. Kita kemudian teriak:

“Hanya ada satu kata, Nonton!”

Avatar

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Tentang Penulis

Avatar

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.