Locita

Humor dan Panggung Kota

Ilustrasi: ruangrupa.org

DI MANA letak kota tertawa orang Jawa? Barangkali Solo jawabannya. Sejak dulu Solo menjadi ruang kelahiran, bertumbuh, dan beredarnya humor.

Sidik Jatmika sampai-sampai menulis, janin para pelucu Solo Raya dari sononya sudah lucu-lucu. Nama Srimulat tentu yang paling menentukan sejarah humor di Solo.

Srimulat adalah grup lawak yang didirikan Teguh Slamet Rahardjo pada tahun 1950, di Solo. Seiring perkembangannya, Srimulat memperluas cakupan sampai ke Semarang, Surabaya, dan Jakarta. Tentu, nama Srimulat lantas termasyhur di panggung nasional. Srimulat konon merupakan satu-satunya grup lawak di Indonesia yang memiliki jumlah anggota sangat banyak.

Kita mengenali nama-nama kondang Srimulat seperti Asmuni, Gepeng, Jujuk, Timbul, Basuki, Gogon, Mamiek, Polo, Nunung, dan masih banyak lagi. Selain lewat kebesaran Srimulat, Solo hadir di panggung humor nasional dengan mendelegasikan Wahjoe Sardono.

Tahun 1974, pria berwajah seksi yang sering disapa Dono itu diajak bergabung Kasino Hadiwibowo, Nanu Mulyono, dan Rudy Badil siaran di radio Prambors. Mereka ditambah Indrojoyo Kusumonegoro secara rutin menyiarkan Obrolan Malem Jumatan. Lantaran obrolan dikisahkan berlatar warung kopi, grup lawak mereka pada akhirnya dikenal sebagai Warkop Prambors.

Meski ditinggal Rudy Badil yang jadi wartawan Kompas dan Nanu Mulyono yang keluar sebelum akhirnya meninggal dunia, nama Warkop justru membesar dan bergerak ke panggung yang lebih besar: layar lebar dan layar televisi. Pada masa itulah, mereka lebih dikenal sebagai Warkop DKI (Dono, Kasino, Indro).

Dono sebetulnya asli Delanggu, Klaten. Imajinasi kabupaten memang selalu kalah dengan kota. Maka, seringkali orang-orang kabupaten meminjam kota terdekat sebagai identitas. Misalnya, orang Wonogiri boleh mengaku dari Solo seumpama di perantauan ada yang menanyai asalnya.

Begitu pula dengan orang Bantul yang mengaku dari Jogja, orang Ungaran yang mengaku Semarang, dan sebagainya. Di panggung nasional, Dono tetap dikenal sebagai orang Solo. Kita pantas mensyukuri kecenderungan peminjaman identitas itu.

Dono bukan sekadar sepertiga Warkop, ia pun berkiprah sendiri di ranah humor yang lain: teks. Dono telah menulis buku kumpulan cerita humor Balada Paijo, tiga novel berlatar kehidupan dan politik mahasiswa: Cemara-Cemara Kampus, Bila Satpam Bercinta, Dua Batang Ilalang, serta novelet humor berjudul Senggol Kiri Senggol Kanan.

Dono menulis di masa ketika teks humor masih laris di Indonesia, entah itu novel atau kumpulan cerita humor. Dono mengakui dalam kata pengantar Balada Paijo.

“Orang pada membukukan cerita beginian. Saya pun ikut partisipasi! Kalau nggak kok kurang sip begitu. Apalagi saya dikenal di kalangan lucu-melucu. Makanya saya berani dan penuh rasa nekad memunculkan buku pengendor urat syaraf ini.”

Di masa itu banyak beredar buku kumpulan humor dari berbagai penerbit. Lahan humor disasar pula oleh penerbit-penerbit kecil karena dianggap strategis. Peniruan sudah lazim dilakukan, sebagai bentuk strategi dagang. Misalnya Mati Ketawa Cara banyak dipakai sebagai judul.

Buku kumpulan humor Dono pun bukan satu-satunya yang menggunakan judul Balada. Di tahun yang sama beredar pula Balada Paimin garapan Andreas Hero dan Margaretha S. Lho, kok mirip?

Kini, di zaman ketika teks humor berlimpah di lapak obralan, seorang sastrawan Solo nekat menulis buku kumpulan cerpen bercitarasa humor. Gunawan Tri Atmodjo mulai dikenal publik dan dianggap serius di kancah sastra Indonesia setelah Marjin Kiri menerbitkan bukunya, Sundari Keranjingan Puisi dan Cerita-Cerita Lainnya.

Ia secara enteng mengaku hanya ingin melawan arus sastra koran akhir pekan yang melulu sedih dan cengeng. Entah disadari atau tidak, Gunawan sebetulnya sedang melanjutkan jalur humor teks di Solo. Bedanya, jika Dono serta-merta terjun langsung ke teks humor dan novel populer, Gunawan memilih teks sastra.

Maka, bahasa yang dipakai Gunawan memang masih khas sastra: muram. Muram tak melulu sedih. Humor amat mungkin tersampaikan dalam muram. Iwan Simatupang telah menulis novel muram berjudul Ziarah.

Kemuraman membuat banyak pihak menyebut novel itu bermuatan filosofis. Kendati demikian, Sapardi Djoko Damono merasa Ziarah kental akan humor. Ia menulis:

“Saya beranggapan novel itu adalah salah satu novel yang padat dengan rasa humor, mungkin karena saya tidak buru-buru mengait-ngaitkannya dengan berbagai mazhab filsafat modern seperti eksistensialisme. Tanpa pretensi berfilsafat, kita pun bisa menemukan humor di cerpen Iwan Simatupang, Kereta Api Lewat di Jauhan, oleh karena ia pada suatu hari tak tahu apa yang harus dilakukan tangannya, ia mencari tali dan menggantung dirinya.” Sejak kalimat pertama saja sudah konyol!

Dono dan Gunawan sebetulnya berada di luar jalur utama humor Solo. Bagi kita, humor itu mesti dipanggungkan. Maka, kita memaklumi Joko Pinurbo yang termasyhur dengan puisi-puisi humornya. Sebab, puisi tak melulu berhenti pada teks.

Puisi, menurut Sosiawan Leak, senantiasa mungkin untuk dipanggungkan. Dengan kata lain, panggung menjadi ruang pengocok perut paling sahih di Solo, bukan di kertas. Laporan khusus di surat kabar lokal Solo menjadi pembuktian.

Jejak tawa di Solo hampir semuanya ada di panggung: Srimulat, Teamlo, Pecas Ndahe, Padat Karya, Kripik Peudeus, Owah Gerr Band, Nyiur Melambai, dan sebagainya. Dari nama-nama tersebut, kita menjumpai satu kecenderungan lain humor di Solo: melucu lewat musik.

Grup musik paling terkenal di Solo tentu saja Teamlo. Kita pasti selalu mengingat komposisi tiga vokalisnya: Wawan yang dapat menirukan vokal sekian musisi, Pangsit yang selalu mengubah lagu apa pun menjadi dangdut, dan Benjo yang senantiasa unjuk gigi (dalam arti yang sebenarnya).

Setelah sibuk meramaikan televisi nasional, Teamlo menurun pamornya sebagai dampak keluarnya Pangsit dan Benjo. Bagaimana pun, tiga vokalis dengan kekhasan masing-masing jadi komposisi ideal Teamlo. Kehilangan telah merusak komposisi.

Musik humor Solo pun lantas dihidupkan Pecas Ndahe, Owah Gerr Band yang muncul bersamaan pergantian nama Peterpan menjadi Noah, dan belakangan The Mudub kembali naik daun pasca peluncuran album kedua.

Kicau Kacau Kota, album baru The Mudub, baru saja diluncurkan di Pendapa PN Lokananta Solo. Lagu-lagu di album termaksud kental muatan humor khas The Mudub, meski keempat personilnya bersikeras mengatakan musik mereka adalah musik serius.

Kita memang pantas menghargai keseriusan mereka sebagai grup musik. The Mudub dikenal bukan semata dari lagu-lagu, namun juga kelakar yang mereka sajikan di setiap jeda lagu, bahkan tak jarang di tengah-tengah lagu. The Mudub menyanyi paling cuma beberapa menit, kelakarnya yang bisa berjam-jam.

Maka, album baru mereka memberi bukan sekadar lagu, melainkan juga bahan kelakar baru. Lagu-lagu bertema keseharian dan isu perkotaan memungkinkan The Mudub menjelma pengisah kota yang sahih dan jenaka. Kota tidak harus dikisahkan dengan nelangsa.

Didi Kempot boleh ngalah, trima mundur, timbang lara ati… []

Avatar

Udji Kayang Aditya Supriyanto

Peminat Kajian Budaya Populer dan Perkotaan

Tentang Penulis

Avatar

Udji Kayang Aditya Supriyanto

Peminat Kajian Budaya Populer dan Perkotaan

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.