Locita

Donald Trump, Yerusalem dan Orang Yahudi

PIDATO Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengguncang dunia. Dia secara terbuka dan jelas mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Dalam pidatonya itu, dia juga memerintahkan kepada pejabat pemerintahannya untuk memindahkan Kedutaan dan kantor administrasi Amerika Serikat yang ada di Tel Aviv ke Yerusalem. Selain itu, Trump menyatakan konsistensi Amerika terhadap solusi perdamaian, berupa Israel dan Palestina dipisah menjadi dua negara (two states solution).

Trump sekaligus menyindir para Presiden Amerika setelah Harry Truman sampai Obama tidak memiliki keberanian untuk mengakui kedudukan Yerusalem.  Trump juga menegaskan arti penting Yerusalem sebagai ibukota yang sah bagi Israel, karena merupakan ibukota umat Yahudi semenjak zaman kuno.

Pidato Trump langsung direspon oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Dia berterima kasih kepada Trump atas keberaniannya. Senada dengan Trump, juga menegaskan bahwa Yerusalem adalah ibukota Yahudi selama tiga abad. Netanyahu sekaligus mengundang negara lain untuk membuka Kedutaannya di Yerusalem. Dia memastikan, bahwa Yahudi, Islam dan Kristen diperlakukan sama untuk beribadah di kota suci tersebut.

Trump tentu memahami, bahwa pidatonya itu akan menyebabkan sikap anti Amerika akan meluas. Padahal itu sikap politik yang tidak jelas kepentingannya, kecuali menunjukkan pro Israelnya seorang Trump. Dan, dia akan mencederai hubungan baik dengan Arab Saudi dan Turki, sekaligus akan meningkat ketegangan Iran yang selama ini mempropagandakan hari Al Quds internasional.

Memeriksa tujuan Trump melalui pidatonya itu tentu hal yang rumit. Namun, menjelaskan kemungkinan mengapa Trump sampai mengeluarkan pernyataan bersejarah tersebut merupakan hal yang urgen. Setidaknya bisa diperoleh melalui informasi mengenai orang-orang yang berada disekitar Trump.

The Times of Israel pada November 2016 menerbitkan artikel dengan judul Meet the Jews in Donald Trump’s inner circle (Menjumpai orang Yahudi di lingkaran dalam Trump). Artikel itu mendaftar beberapa orang Yahudi yang berhubungan erat dengan Trump.

Pertama ada nama Jason Greenblatt. Dia adalah pengacara Trump untuk bisnis real estate-nya selama 19 tahun. Diketahui bahwa Greenblatt adalah seorang Yahudi Ortodoks yang pernah belajar didaerah Tepi Barat Yeshiva. Dia juga pernah menjalani tugas militer di sana.

Berikutnya David Friedman, yang juga menjadi pengacara Trump dalam waktu yang lama. Friedman merupakan anak dari seorang Rabbi (istilah untuk ulama Yahudi) yang konservatif.

Setelah itu terdapat Jared Kushner yang merupakan menantu Trump, suami dari anaknya Ivanka. Dia memainkan peran penting dalam kampanye Trump khususnya dalam kaitannya terhadap Israel. Kushner yang juga Yahudi Ortodoks merupakan seorang yang pro Israel. Anak Trump, Ivanka adalah seorang “mualaf” yang berkonversi dari agama sebelumnya menjadi Yahudi Ortodoks.

Lalu ada seorang Yahudi asal Rusia, Boris Epshteyn, yang merupakan penasihat politik Trump. Dia menjadi tangan kanan Trump dalam urusan relasi dengan Rusia. Dia berperan penting dalam meningkat hubungan Trump dengan Vladimir Putin.

Orang Yahudi lainnya adalah Stephen Miller. Dibesarkan dalam sebuah keluarga Yahudi liberal, Miller adalah manajer kampanye Donald Trump. Dia berperan dalam pembuatan pidato sekaligus untuk memanaskan suasana massa waktu Trump berkampanye.

Beberapa orang Yahudi lainnya adalah Steven Mnuchin, penanggung jawab keuangan kampanye Trump. Lewis Eisenberg, salah seorang pengelola finansial Partai Republik. Terakhir ada Michael Glassner, orang yang mengurusi politik Trump di level nasional.

Paparan diatas menunjukkan kemungkinan, bahwa pernyataan Trump tentang Yerusalem dipengaruhi oleh orang-orang Yahudi di sekitarnya. Beberapa orang penting Trump beragama Yahudi dan mereka mendukung eksistensi negara Israel. Mulai dari penasihat politiknya, menantu, hingga anaknya.

Akan halnya identitas Trump sebagai seorang Yahudi masih dipertanyakan. Di laman situs Quora ada sesi tanya jawab mengenai ke-Yahudian Trump. Pertanyaan itu dijawab oleh Yair Davidiy, seorang peneliti sejarah dan studi Bible di Israel.

Menurut Davidiy, keluarga Trump datang dari kawasan Kallstadt, Jerman. Daerah sekitar Kallstad, di bagian Perancis, merupakan area produksi Anggur. Orang Yahudi yang hidup disana terkenal dalam bisnis anggur pada abad pertengahan. Jadi ada kemungkinan nenek moyang Trump adalah seorang Yahudi pengusaha anggur. Kakek Trump sendiri, Friederich Trump, datang ke Amerika Serikat pada usia belia. Dia juga berbisnis salon dengan seorang Yahudi keturunan Rusia bernama Ernest Levin.

Daftar orang dekat Trump dan juga kemungkinan dia seorang Yahudi, tidak berarti bahwa sikap Trump mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel akan disambut gembira oleh seluruh orang Yahudi. Sebab Israel sebagai sebuah negara mayoritas Yahudi dan ke-Yahudian adalah dua hal yang berbeda.

Ada salah satu faksi Yahudi yang menolak eksistensi negara Israel, Neturei Karta. Kelompok ini merupakan kumpulan orang-orang Yahudi yang menolak Zionisme. Bagi mereka, pembentukan negara Israel adalah agenda orang Yahudi yang terkontaminasi ideologi zionis.

Kelompok Neturei Karta memandang terusirnya orang Yahudi dari tanah mereka sebagai hukuman atas dosa yang telah dilakukan. Karena itu tidak ada alasan pembentukan negara bagi orang Yahudi.

Tuhan sendirilah yang akan menentukan bila masa keterasingan mereka akan berakhir. Pembentukan negara Israel, bagi mereka, bertentangan dengan hukum Yahudi sendiri. Dan istilah Israel untuk negara, dicaplok secara ilegal oleh kelompok zionis.

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Tentang Penulis

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.