Locita

DISABILITAS: PRESTASIMU TAK SEMENTERENG FASILITASMU

BELUM genap sebulan rasanya negara ini diharumkan oleh atlet-atlet difabel di ajang ASEAN Para Games 2017 yang dihelat di Kuala Lumpur, Malaysia. Tak tanggung-tanggung, gelar juara umum resmi direbut.

Setidaknya ini menjadi penawar setelah kekalahan kontigen Indonesia di ajang ASEAN Games 2017. Indonesia tercatat dua kali menyandang juara umum dan dua kali mendapatkan juara dua di ajang olah raga bergengsi ASEAN ini sejak tahun 2011.

Tentu ini berbanding terbalik dengan sederet prestasi politisi tanah air yang satu demi persatu memakai rompi KPK. Melihat deretan prestasi tersebut. Tentu, kita bertanya-tanya bagaimana mereka berlatih dan bagaimana fasilitas penunjang aktifitas latihan mereka.

Lebih jauh lagi, siapa pelatih handal dibalik atlet-atlet berbakat tersebut. Tapi, mari lebih fokus dan detil dengan fasilitas olahraga yang disediakan bagi warga difabel di negeri tercinta ini.

apakah fasilitas ramah disabilitas di gelanggang-gelanggang olahraga telah tersedia secara baik di negeri ini?

Rasanya sulit untuk mengatakan “sudah”, melihat masih banyak fasilitas olahraga yang belum ramah bagi warga difabel. Katakan saja stadion termegah di negeri ini seperti Gelora Bung Karno.

Meski telah diperbaiki dengan penambahan fasilitas-fasilitas prima. Tapi, hasil peninjauan Presiden INAPGOC (Indonesia Asian Para Games Organizing Committee) pada bulan Agustus lalu menunjukkan belum terpenuhinya standard fasilitas bagi warga difabel.

Kondisi yang kurang baik sepertinya juga terjadi di beberapa stadion-stadion olahraga di negeri ini. Hal ini sangat disayangkan melihat potensi atlet difabel di tanah air.

Dapat dibayangkan apabila fasilitas olahraga bagi warga difabel ditingkatkan. Maka akan muncul atlet angkat besi seperti Ni Nengah Widiasih dan pemanah hebat layaknya Toto Wastomi yang baru atau mungkin akan menambah deretan warga difabel yang mendapatkan medali emas.

Terpenuhinya fasilitas ramah difabel juga dapat memberikan ruang secara umum bagi penyandang difabel untuk berinteraksi secara luas dengan masyarakat lainnya.

Dapat kita saksikan bahwa acap kali warga difabel “dikurung” di rumah karena banyak alasan. Salah satunya adanya anggapan yang meremehkan kemampuan yang dibandingkan dengan warga non-difabel.

Rasanya “kezel” jika anggapan ini masih aja langgeng di masyarakat. Parahnya jika keluarga merasa malu memiliki anggota keluarga yang difabel.

Tapi, akan lebih kurang ajar bagi kita yang masih mengolok-olok kondisi dan potensi warga difabel. Apalagi jika hal ini dibuat “guyonan” yang diwajarkan, sudahlah ! Guyonan norak ini dihindari saja.

Kondisi tersingkirkannya warga difabel dari interaksi sosial secara luas dapat memunculkan kondisi eksklusi sosial. Dimana warga difabel dibatasi aktifitas dan peluang dalam ruang gerak kehidupan sehari-hari sehingga mereka menjadi disabilitas atau dis (tidak) – able (mampu) yang berarti tidak mampu mengembangkan maupun memaksimalkan potensi dan peluang sosial.

Dampaknya justru memberatkan warga difabel secara personal dimana mereka merasa minder dan bisa saja strees atas kondisi yang sedang dialaminya.

Terpenuhinya fasilitas gerak dan ruang interaksi layaknya di tempat olahraga memungkinkan warga difabel untuk beriteraksi dengan banyak orang. Di sisi lain mereka juga mampu berlatih dan menciptakan kegemaran yang sehat, serta mampu memenuhi hak rekreasional yang juga dimiliknya.

Jikalau kita menengok ke negeri seberang, Singapura. Fasilitas olahraga bagi penyandang disabilitas telah tertata rapi di Singapore Sports Hub. Meskipun tak pernah menyandang juara umum diajang ASEAN Para Games. Singapura telah memberikan fasilitas prima bagi warganya termasuk warga difabel.

Beberapa venue yang diberikan khusus bagi pelatihan warga difabel layaknya OCBC Aquatic Centre, OCBC Arena, Stadion Nasional, dan Kallang Wave telah dibangun di dalam gelanggang terbesar di Singapura ini.

Memang, menengok rumput tetangga akan lebih hijau. Namun, bagimanapun, fasilitas olahraga juga menjadi hak warga difabel.

Harapan besar saya adalah, tersedianya fasilitas olahraga bagi warga difabel bukan hanya karena tuntutan karena Indonesia bakal jadi tuan rumah bagi ASEAN Para Games selanjutnya, tapi memang disediakan secara massiv sebagai usaha pemenuhan hak oleh pemerintah.

Avatar

Darmawan Prasetya

Peminat studi kebijakan sosial, kopi, dan pantai. Pegiat difabel.

Tentang Penulis

Avatar

Darmawan Prasetya

Peminat studi kebijakan sosial, kopi, dan pantai. Pegiat difabel.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.