Locita

Bom Mesir, Masjid Sufi Diserang: Radikal?

Ilustrasi (Sumber foto: nydailynews.com)

SULIT untuk dipercaya bahwa kali ini Masjid yang menjadi sasaran bom dan serangan bersenjata, setelah akhir tahun lalu salah satu Gereja Mesir yang menderita dalam kejadian yang relatif sama.

Lebih sulit lagi mempercayai bahwa kejadian ini berlaku di Mesir, tempat di mana salah satu pusat akademik Islam di dunia berdiri, Universitas Al Azhar. Terlepas apapun tujuan kelompok penyerang, mereka layak dikutuk, memang biadab. Mereka menyerang tempat ibadah dan orang yang terkoneksi dengan Tuhan.

Masjid Ar Raudah yang berlokasi di kota Bir Al Abed dibom dan diserang selepas shalat Jumat. Orang yang berlarian begitu bom terjadi, ditembaki bahkan mobil ambulans juga tidak luput dari sasaran. Ada sekitar 40 orang bersenjata menembaki mereka. Menurut saksi mata, para penyerang terbagi kedalam empat kelompok, sebagaimana dilansir oleh Reuters. Korbannya tidak kurang dari 235 orang.

Laporan Reuters juga menyebutkan bahwa sebagian besar orang beribadah dalam masjid itu adalah para sufi. Mereka selama ini menjadi target kelompok pendukung ISIS sebab mengagungkan para wali dan tempat keramat. Milisi tersebut menuduh mereka memuja berhala.

Diketahui kelompok ini tidak hanya menarget para sufi. Mereka juga menyasar aparat militer dan suku-suku lokal karena dicurigai bekerja sama dengan militer. Kelompok suku tersebut dituduh berkhianat.

Sebenarnya belum ada kelompok yang menyatakan bertanggung jawab atas serangan tersebut. Namun pemberitaan di berbagai media internasional mencurigai bahwa pendukung ISIS pelaku penyerangan.

Mereka bertahan di bagian utara Sinai karena kekhalifahan ala mereka yang dideklarasikan di Suriah dan Irak sudah kolaps. Hal senada juga disampaikan oleh Zamzami, salah seorang mantan aktivis Pelajar Islam Indonesia perwakilan Mesir.

Dalam peristiwa mengerikan seperti itu orang barangkali terkenang dengan istilah ekstrimis atau kelompok radikal. Bagaimana tidak, objek yang diserang adalah orang yang beribadah. Kalau benar pelakunya pendukung ISIS, setidaknya penyerang maupun yang diserang mempunyai Tuhan, Nabi dan Kitab Suci yang sama.

Namun perbedaan ideologi khususnya tafsir keagamaan mengenai politik dan keadaan sosial yang berlaku, tampaknya membenarkan saudara seagama layak menjadi korban.

Perbedaan agama seharusnya juga tidak bisa membenarkan penyerangan terjadi. Orang-orang yang tidak beragama Islam dilindungi oleh Islam.

Mereka diberikan hak untuk menjalankan agamanya masing-masing. Situasi ini sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad ketika memimpin Madinah 14 abad yang lalu, dimana beberapa klan Yahudi menjadi penduduk kota cahaya itu. Walaupun berbeda konsep ketuhanan setidaknya sama dalam kemanusiaan.

Secara akademik terdapat beragam pandangan munculnya kelompok radikal. Pusaran utamanya terletak pada dua hal, teologis dan ekonomi politik. Dalam hal teologis mereka memaksakan supaya kelompok lain mengikuti tafsir keagamaan yang mereka anut. Diluar dari pemahaman mereka akan dianggap menyimpang.

Namun tidak semua kelompok yang menganut tafsir homogen ini membenarkan aksi kekerasan. Sebagaimana diutarakan oleh Masdar Hilmy dalam artikelnya Looking into God’s Heaven, faksi Jihadislah yang melegitimasi aksi kekerasan itu. Lainnya, menekankan kesalehan yang bersifat individual.

Dari kacamata teologis ini para sufi menjadi target mereka. Mereka tidak bisa menerima ritual para sufi yang senang berziarah untuk mengingat kematian atau memuliakan para wali berikut dengan cerita karomahnya.

Mereka gagal memahami bahwa memuliakan para Wali bukanlah mengkultuskan mereka sampai menjadi berhala, akan tetapi meneladani spirit perjuangan mereka dalam beragama. Kelompok itu juga tidak mau mengerti bahwa salah satu esensi sufistik terletak pada pembersihan jiwa, supaya dapat mengingat dan merasakan kehadiran Tuhan sepanjang aktivitas dalam kehidupan tanpa henti.

Dalam hal ekonomi politik, perspektif ini diurai dari segi perebutan kekuasaan atas sumber daya materi dan kepemimpinan. Vedi Hadiz menggunakan cara pandang ini terkait situasi Islam politik di Indonesia dalam terminologi populisme. Akan halnya di Mesir dan Timur Tengah pada umumnya kasusnya lebih kompleks dan dalam skala yang lebih luas.

Dengan kekhalifahan Islam sebagai daya tarik, dan dideklarasikannya ISIS sebagai suatu model perjuangan politik Islam mereka mencoba menarik para pemuda diseluruh dunia. Narasi yang dibangun begitu monolog, bahwa kezaliman terjadi atas kaum muslimin. Struktur politik ala demokrasi diimpor dari negara yang pernah mengkolonialisasi pada masa lampau mempertahankan hegemoni negara kolonial itu sendiri.

Pandangan ini kemudian menyebabkan mereka menyerang pemerintahan yang sah seperti situasi di Mesir, Suriah dan Irak. Mereka dianggap kelanjutan dari kolonial yang imperialis meskipun secara umum beragama Islam.

Negara pada akhirnya menjadi sebuah kelas dalam mengeksploitasi rakyatnya sendiri. Perjuangan kekhalifahan ala ISIS menjadi cita perwujudan nir-negara, bahwa umat Islam dunia bersatu dibawah satu kepemimpinan kekhalifahan.

Khalifah ISIS, Al Baghdadi, terlepas dari kontroversi megenai kematiannya merupakan orang yang  berpendidikan S3 studi Islam. Artinya dalam konteks ini dia adalah bagian dari kelompok elit masyarakat yang pernah menikmati posisi sebagai ulama.  Invasi Amerika ke Irak menjadikan posisinya sebagai kaum elit terancam.

Kompleksitas individu pemimpin ISIS dan struktur politik membuat gerakan ini menjadi massif. Narasi yang mereka bangun menarik orang-orang yang mempunyai kekecewaan yang sama. Hal ini belum lagi ditambah dengan sumber daya ekonomi seperti minyak yang juga diperebutkan oleh negara-negara yang eksploitatif dan kolonialis.

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Tentang Penulis

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.