Locita

Aksi Massa, dan Determinisme Rezim yang Berlebih

Ilustrasi (Sumber Foto: Beritasatu.com)

BELAKANGAN, aksi masa front mahasiswa yang bersatu menduduki istana bubar dengan aksi represi para abdi negara berseragam pengayom masyarakat, bersama itu ada bekas luka dan lebam di wajah mereka.

Seketika peristiwa ini menurut saya cukup aneh, saat banyak berita yang berseliweran tentang keberhasilan pemerintah menyelesaikan proyek mangkrak, pencapaian ekonomi di tiga tahun kepemimpinan, atau klaim keberhasilan BBM satu harga.

Lalu, mengapa aksi masa yang secara bersama mengingatkan tentang pekerjaan rezim lainnya yang belum tuntas malah dipukul mundur dengan gas air mata, pentungan, dan barikade baraccuda? Keadaan yang tak seharusnya terjadi di tengah capaian keberhasilan?

***

Semenjak era reformasi bergulir hampir dua dasawarsa terakhir. Kehidupan demokrasi kita telah mengalami banyak pasang surut. Tentu banyak hal yang patut diapresiasi. Yakni tentang kebebasan berpendapat, hingga pergeseran kewenangan pemerintahan menuju sistem desentralisasi yang bottom-up adalah buah manis dari sejarah reformasi.

Hal ini telah menjadi harapan baru akan kehidupan kebangsaan yang rasanya, telah bergerak ke arah yang kita kehendaki bersama. Tetapi, hingar bingar dan romantisme reformasi nyatanya menunjukkan sisi lain yang terlihat lebih suram dan kalut.

Tak lagi terhitung pejabat publik yang akhirnya tertunduk lesu mengenakan jaket khas berwana oranye seperti pesakitan. Walau tak jarang yang lainnya tetap sumringah dengan senyum tanpa beban.

Pemilu terbuka sebagai anak kandung reformasi hingga tahun 2014 menjadi semacam ekstasi dan lahirnya kesadaran politik baru yang lebih terbuka, dan telanjang. Mungkin Pilkada DKI Jakarta adalah peristiwa paling segar di ingatan kita semua, bagaimana proses demokrasi dilaksanakan dengan sangat ekstrim, berikut borok dan isu negatif yang menyertainya.

Tapi yah, itulah jalan demokrasi kita, makin ke sini saya menyaksikan publik figur tampak vulgar di lini masa dan menyeruak sampai ke ruang pribadi kita masing-masing.

Keterbukaan informasi, jejak dan renik digital yang bisa terakses kapan saja sontak menambah transparan rekam jejak dari politisi, dan publik figur. Keterbukaan ini pada putarannya memancing reaksi yang tak tentu pada berbagai level dan tingkatan, menambah kompleksitas dinamika demokrasi yang kita lakoni saat ini.

Tentu kita belum lupa aksi masa 212 yang bekelindan dengan Pilkada DKI Jakarta, atau peristiwa Alfi si anak “jaman now” yang hadir dengan contekan tulisannya tentang keberagaman, akhirnya memancing reaksi yang amat beragam dari masyarakat.

Pada titik ini, poin pentingnya adalah kondisi lalu lintas informasi kita yang dihalalkan oleh demokrasi. Begitu cepat merambat, mengisi ruang pikiran kita tanpa batas dan tanpa filter.

Mungkin ini alasannya mengapa informasi yang bersifat hoax juga punya pasar dan penjualnya sendiri. Keterbukaan informasi melalu dunia maya diakui telah menggeser lingkaran diskusi fisik, pada periode sebelum kelahiran era reformasi menjadi diskusi dan opini virtual yang diproduksi melalui telpon pintar kita.

Lantas apakah aksi masa seperti demonstrasi menjadi tak menarik lagi? Atau bahkan dianggap tak lazim? Mari kita lihat dengan seksama.

Berkaca pada peristiwa 212 dan 411, di mana wacana virtual bermula dari video unggahan Buni Yani akhirnya berubah menjadi aksi masa yang tumpah ruah memenuhi Monas dan juga menjadi wacana global.

Peristiwa ini sontak membuat punggawa rezim seperti kurang percaya diri menghadapi gelombang rakyat yang riuh menyuarakan tuntutan. Cukup kontras dengan ribuan barikade pasukan pengamanan yang berjibun menjadi pagar betis barikade rezim yang dimintai pertanggungjawabannya.

Dan seperti kita tahu, akhirnya sang Presiden begitu gagap menghadapi gelombang itu. Sang presiden memilih tak menunjukkan dirinya di tengah gelombang.

***

Sama halnya pada anak muda itu, rezim seharusnya sangat percaya diri dan keep calm untuk memaparkan kesuksesan dan pencapaiannya di hadapan gerombolan anak-anak muda itu, dengan lebih elegan. Terlebih jika aksi masa itu adalah generasi milenial yang tumbuh dengan iringan lagu-lagu mellow yang berbeda jauh dari generasi masa aksi reformasi yang mendidih bersama dentuman syair bongkar iwan fals atau pekikan minor “Darah Juang”.

Tentu aksi masa anak-anak muda ini tidak bisa dianggap sebagai aksi yang hanya bertopeng, atau sok kritis. Mereka nyatanya adalah para junior barisan menteri, pejabat negara, yang mengisi seluruh kursi jabatan rezim ini.

Berasal dari kampus yang mungkin juga sama dengan hampir seluruh pejabat negara tersebut. Hmm… mungkin rezim ini lupa, pustaka virtual telah menyimpan banyak data tentang pekerjaan lain yang belum selesai, dan janji yang belum tuntas tertunaikan, yang tentu terakses dengan mudahnya oleh anak-anak muda milenial ini.

Sekali lagi, kita masih bersyukur jika ada elemen demokrasi yakni mahasiswa, pers, organisasi masyarakat, partai, atau individu yang dengan rasional dan kritis mengingatkan rezim dengan tongkat kuasa di tangannya. Itu berarti perangkat demokrasi kita masih tetap berjalan dan bergerak pada koridornya.

Juga menjadi kepantasan dan lumrah jika rezim bertubi-tubi menghadapi gempuran kritik yang juga harus kita akui tidak semua berwatak konstruktif dan solutif.Tapi itulah hukumnya, pucuk pohon akan terus diterpa angin kencang bahkan badai.

Tugas pohonlah untuk tetap tumbuh, tetap kuat dan memberi banyak manfaat. Selebihnya mari memberi solusi, mendukung kerja yang produktif, dan saling mengingatkan, dan pastinya harapan akan kehidupan bangsa yang lebih baik akan terus ada.

Avatar

Atri Munanta

Peniliti Urban and Regional Planning di Suropati Syndicate

Tentang Penulis

Avatar

Atri Munanta

Peniliti Urban and Regional Planning di Suropati Syndicate

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.