Locita

Ada Seks dalam Setiap Makanan

ilustrasi (foto; http://www.eatthis.com)

‘if you want to show everybody what you are eating,

and do it with style!’  

Ikma Citra Ranteallo

MINGGU, 18 November 2017, kami berbincang tentang dua topik seksi: foodporn dan foodgasm. Kami menjelajahi artifak-artifak rasa yang tertinggal di masa silam. Foodporn dan foodgasm menjembatani kekosongan dan kesadaran rantai makanan global ataupun lokal sebagai basis etno-food-identity. Rasa dan artifak makanan adalah konstruksi warisan yang harus terjaga berdasarkan pada konteks ruang dan waktu, yang mewakili identitas dan status sosial individu maupun kelompok masing-masing.

Foodporn hadir dalam makanan yang telanjang dan seksi. Melihat makanan yang dalam posisi telanjang di hadapan meja seringkali menerbitkan selera dalam diri kita. Makanan itu kerap kali hanya ditutupi wadah piring, mangkuk, ataupun wadah-wadah lain, tapi begitu dibuka, kita langsung bernafsu. Foodporn mendorong hasrat yang mengendap dari ruang sadar demi menjadi selera yang liar.

Makanan itu serupa tubuh wanita yang hanya memakai bikini ataupun laki-laki yang bertelanjang dan sixpack. Keseksian makanan melelehkan liur, mengencangkan lidah untuk menikmati lekuk-lekuk tubuhnya. Foodporn merangsang selera, meningkatkan hasrat bercinta akan makanan.  Persoalan hasrat seksual bukan hanya relasi antara manusia dan manusia. Tapi juga, relasi manusia dan makanan tentang hasrat rasa dan selera yang mengendap di ruang sadar manusia.

Para ahli mengatakan, makanan bukan hanya sesuatu yang diolah kemudian dimasukkan ke dalam perut. Makanan selalu terkait ingatan dan fantasi. Ada identitas yang tertanam dan melekat (embeddeness) dalam setiap rasa kekhasan makanan. Rasa makanan Aceh berbeda dengan rasa makanan Bugis begitu pun Jawa dan etnis-etnis yang lain.

Identitas itu membawa konstruksi rasa masing-masing. Dua orang dengan latar budaya berbeda, mencicipi makanan yang sama, akan menghasilkan dua rasa berbeda pula. Dalam setiap inchi makanan, ada aspek sosial, budaya, dan sejarah. Semuanya membentuk rasa dan pemaknaan.

Setiap budaya menafsirkan rasa dan kekhasan makanannya. Setiap budaya menafsirkan sendiri apa yang disebut enak dan tidak enak. Pemisahan antara makanan dan pemilik identitas budaya itu meningkatkan hasrat rindu serta fantasi kehendak  untuk “bersenggama” (will to intercourse) dengan makanan. Hasrat rindu dan fantasi adalah persoalan jarak yang terpisah ruang dan waktu, antara aktor dengan makanannya.

Orang Bugis dan Makassar di tanah perantauan selalu merindukan kemolekan tubuh es pisang ijo yang dibaluri santan kental dan sirup DHT. Orang Luwu selalu merindukan kekenyalan sagu pada makanan kapurung. Orang-orang Aceh merindukan bedak rempah-rempah Mie Aceh. Itu sebabnya, ketika para perantau lama tidak menikmati makanan khas daerahnya, fantasinya menjadi liar. Pelampiasannya pada rumah-rumah bordir makanan yang mewakili identitasnya, saat itu dia mengalami foodgasm.

Foodgasm, adalah pelepasan kerinduan yang sudah membuncah atau puncak dari sensasi kenikmatan dalam menyantap makanan. foodgasm bagian dari pelampiasan ruang sadar manusia menikmati makanannya. Ekspresi-ekspresi kepuasan ditunjukkan dalam garis-garis wajahnya. Menyantap makanan membutuhkan saluran pelampiasan terhadap makanan yang dirindukan.

Hadirnya makanan di wilayah tertentu telah mewakili identitas keberadaan  di tempat tersebut. Tempat tersebut menjadi representasi keberadaan identitas di masyarakat sekitar. Misalnya warung Coto di kota Bogor menandakan bahwa di sekitarnya, ada orang-orang Bugis dan Makassar. Keberadaan warung Coto tersebut adalah tempat melepaskan libido dan merelaksasi lidah orang-orang Sulawesi selatan.

Praktek Kegilaan

Foodporn dan foodgasm menunjukkan bahwa hubungan manusia dan makanan sangatlah binal. Bahkan, wujud dari kegilaan itu sendiri. Daniel L Pals mengutip Freud mengatakan, beragama adalah salah satu dari praktek kegilaan manusia. Begitupun, dengan menyantap makanan. Makanan tidak sebatas lapar dan kenyang. Penyantapan makanan melampaui kedua hal tersebut. Sebab, menyantap adalah bentuk kegilaan dari praktek sosial yang dilakoni manusia.

Pertaruhan menyantap berada di ruang  sosial. Filsuf Perancis Pierre Bourdiue menekankan adanya rasa dalam menentukan kelas sosial, kesehatan, pendidikan dan ekonomi. Makanan telah menciptakan kategori baru dalam ruang sosial sebagai kaum-kaum Borjuasi Baru yang dilakonkan oleh kelas-kelas menengah (intermediate class).

Borjuasi baru ini mencipta budaya baru perihal mode makanan yang paling bergengsi dan bergaya. Borjuasi baru ini melakukan orgasme ketika mereka makan di KFC dan McDonalds, minum kopi di Starbuck atau tempat elit yang lain. Penyantapan makanan telah menggabungkan budaya komsumtivisme, pengeluaran, dan kenikmatan sebagai praktek kebudayaan.

Sebenarnya, keberagamaan telah digantikan dengan budaya memakan. Jika, ingin melihat manusia berperilaku binal pada makanan, lihatlah saat mereka sedang mengadakan ritual. Di bulan puasa, budaya konsumtivisme berlangsung masif. Konsumsi masyarakat melonjak tinggi dibandingkan hari-hari sebelumnya. Etalase penjualan makanan dan minuman dipenuhi lautan kepala manusia yang sedang mengantre.

Proses ritualisme agama di bulan puasa sebagai wujud merasakan kefakiran terhadap orang-orang yang berkurang, berubah sebagai wujud bermewahan. Misalnya berbuka di KFC, Mcdonals, Pizza Hut, Mall dan Starbucks.

Ada lagi kegilaan lain. Kepala boleh idealis, tapi soal perut, jangan. Anekdot ini saya temukan dalam perkawanan. Perihal idealis terhadap gagasan dan pengetahuan itu penting. Tapi, soal mengisi perut, kita harus pragmatis. Kita tak boleh kelaparan. Penyakit ini pun, banyak menghinggapi para aktivis hingga menukarkan idealismenya dengan kebutuhan penyantapan. Munculnya, pasukan-pasukan nasi bungkus adalah sebuah kewajaran dalam pemenuhan kegilaan mempertahankan status quo ataupun menumbangkannya. Soal makan, soal bertahan hidup.

Dalam berumah tangga pun, seorang suami berselingkuh dengan orang lain karena perihal makanan. Di novel berjudul Entrok, Okky Madasari membuka kisah membahas perkelahian istri-istri Suyat, antara Yu Parti (istri lama) dengan Yu Yem [istri baru]. Umpatan yang menarik dari Yu Yem terhadap Yu Parti “Salahmu sendiri tidak bisa ngaladeni suami”.

Kata ngaladeni bisa merujuk pada hubungan seksual ataupun pelayanan istri dalam keseharian termasuk pelayanan menyajikan makanan. Relasi kemesraan antara suami dan istri tersaji ketika menyajikan makanan, Istri dan suami yang baik adalah dia yang tidak lupa pada serumahnya. Boleh berbagi dengan orang fakir, tapi utamakan dulu yang tinggal serumah denganmu. Makan bersama adalah perihal keromantisan berumah tangga. Apatah lagi, makanan itu diracik pasangan sendiri.

Ternyata, di balik seksualitas makanan, kita bisa mengulik banyak hal. Mulai dari filsafat, sosial, hingga budaya.

Sampean Dali

sampean Dali

Penyuka bacaan filsafat, sosial, dan budaya.

Tentang Penulis

Sampean Dali

sampean Dali

Penyuka bacaan filsafat, sosial, dan budaya.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.