Locita

Sepercik Inspirasi Dari Perjalanan Sufi Kota

ilustrasi (sumber foto: zawiyaharraudah.com)

BAGI manusia yang mengaku modern, menjalani suatu kehidupan spiritual terkadang lebih dari mengikuti seperangkat aturan yang diajarkan oleh agama. Hal ini berlaku di banyak tempat. Misalnya di Amerika Serikat. Jalaluddin Rakhmat menjelaskan, warga negara Paman Sam itu telah mengalami kemajuan ekonomi dan menjalani kehidupan dengan mapan. Namun, banyaknya harta mereka, tidak lantas membuat mereka bahagia dalam kehidupan. Masih ada ruang kosong dalam diri yang tidak bisa diisi dengan materi.

Oleh karena itu segala yang berkaitan dengan spiritual menjadi populer. Mereka mulai menjalani meditasi dan latihan Yoga. Bahokan belakangan, ritual kaum Shaman menjadi suatu teknik dalam merelaksasi tubuh.

Kondisi yang sama terlihat di perkotaan Indonesia. Khususnya di sekitar Jakarta, dapat dilihat banyak majelis ruhani tumbuh. Begitupun di Tebet, terdapat majelis yang rutin mengadakan pertemuan setiap Minggu. Adakalanya guru sufi kenamaan dari Timur Tengah diundang untuk berbagi ilmu di tempat yang dikenal dengan Zawiyah Arraudhah.

Di Ujung selatan Jakarta terdapat majelis yang serius mengkaji pemikiran Jalaluddin Rumi. Para pecinta yang kebanyakan golongan menengah ke atas ini berkumpul di lantai dua sebuah cafe. Mereka membahas butiran-butiran hikmah dari kitab Masnawi. Pada kesempatan lain, mereka juga mengkaji konsep spiritual dari seorang sufi masyhur, Ibnu Arabi.

Fenomena ini membuat saya tergerak untuk menelurusi pemahaman dari orang yang aktif dalam mengikuti kajian-kajian tasawuf tersebut. Beruntung, ada yang mau membuka kisahnya dalam mengarungi kelezatan zikir kepada Allah, di tengah macetnya ibukota dan tingginya tuntutan hidup.

Aby -bukan nama sebenarnya- menyambut kedatangan saya dengan sumringah. Dia kelihatan trendy memakai baju kaos merah, celana cargo abu-abu, dan sepatu sneakers. Saya lalu diajak ke warung Padang yang berjarak dua rumah dari kantornya. “Ngopi dulu, ngobrolnya nanti di atas,”katanya.

Sekitar 30 menit obrolan ringan, Aby mengajak saya masuk ke kantornya. Kami duduk di hamparan sofa berwarna kuning dalam susunan setengah lingkaran. Di atas meja kaca kecil terdapat air minum, rokok dan korek api. Setelah menyulut api untuk rokoknya, Aby mulai bercerita.

Kehidupannya dari kecil selalu bergelut dengan seni. Waktu sekolah dasar dia mengikuti latihan dan penampilan tari tradisional. Masuk SMP, mulai membentuk band sendiri dengan berposisi sebagai drummer. Dengan band yang bermarkas di Tanah Abang ini dia keluar masuk festival musik. Aktivitas itu berlangsung hingga masuk SMA.

Ane padahal sempat mengharamkan musik,”Pernyataannya itu membuat saya kaget dan mempertanyakan alasannya.

Sewaktu SMA, dia pernah dekat dengan anak buah Hercules di Tanah Abang. Terbiasa tidur di emperan dan bergaul dengan para preman. Suatu waktu, ada orang yang mengajak dia untuk ikut demonstrasi mengenai konflik di Ambon. Dalam aksi itu dia terpana. “Hati ane bergetar mendengar takbir,” ujarnya.

Demonstrasi menjadi pintu bagi Aby untuk bergaul dan masuk ke dalam organisasi pelajar Islam. Di dalamnya dia aktif mengikuti pengajian dan membaca buku. Hasil olah pikirnya dari kegiatan – kegiatan itu membuat dia berhenti total bermain musik selama lebih kurang setahun.

Namun, karena jiwa seninya belum pudar seutuhnya, selepas SMA mulai lagi aktif di dunia musik. Sembari kerja dia membentuk band dan rajin latihan. Aby kembali lagi keluar masuk festival musik, dan bahkan menjuarainya. Malahan dia berhenti kerja untuk fokus ke dunia musik.

Dengan tidak melupakan kuliah, lebih kurang empat tahun Aby mengkarantinakan diri untuk serius latihan. Hasilnya, band baru dimana dia beralih posisi menjadi pemetik bass masuk ke dalam album kompilasi. Tidak hanya itu, bandnya mendapat tantangan untuk menyelesaikan sebuah album dalam waktu tiga bulan dari salah satu label musik nasional.

Tantangan ini membuat semangat Aby dan bandnya terpacu. Di sela-sela itu muncul lagi tawaran rekaman lain. Kali ini dari label musik internasional yang juga terkenal di Indonesia dalam mengorbitkan band-band kharismatik dalam negeri.  Aby dan bandnya menjadi dilema, harus memilih. Mereka akhirnya menjatuhkan pilihan untuk bergabung dengan label internasional itu.

“Rekaman di label menjadi impian semua anak musik waktu itu,” ujarnya.

Aby dan band akhirnya merilis album sendiri. Mereka tidak mempersoalkan keharusan untuk mengganti nama bandnya. Bagi Aby sendiri nama band barunya cukup filosofis. Sebab merupakan nama hewan bersayap yang untuk terbang lebih tinggi lagi dia harus mencabuti semua bulu, kuku hingga paruhnya.

“Untuk kehidupan ini terkadang kita harus sakit, dan memulai semua hal dari nol lagi,” begitu Aby memaknai hewan tersebut. Hal ini ternyata dialami Aby sendiri. Band itu akhirnya bubar karena masalah sepele. Bahkan Abypun tidak bisa mendapatkan haknya sebagai pencipta lagu meski nama band itu masih dipakai hingga sekarang.

Aby sampai hari ini masih menjalankan studionya sendiri. Merekam lagu dan juga menciptakannya merupakan rutinitas yang dilakoninya sehari-hari. Di samping itu dia juga pengusaha makanan khas Arab yang cukup digemari.

Mempertanyakan Diri

Suatu ketika Aby merasakan dadanya penuh, pikirannya tidak stabil dalam menjalani pekerjaan. Dia kerap bertanya pada diri sendiri.

“Apakah memang tidak berkah pekerjaanku ini”? Pikiran demi pikiran terus berputar di kepalanya.

Aby memutuskan untuk mengontak salah seorang senior yang membinanya sewaktu aktif di organisasi pelajar Islam dulu. Dia bertanya masih adakah pengajian atau ta’lim yang bisa dia ikuti.

Sang senior lalu membawanya menjumpai seorang ustadz. Bicara dengan ustadz itu Aby merasa jengkel. Rupanya si ahli agama mempertanyakan ibadahnya. Aby dan Ustadz itu terus berdebat megenai ibadah. Suatu saat Aby terperangah.

“Untuk siapa kamu beribadah”? tanya ustadz.

“Tentu saja untuk Allah”, jawab Aby.

“Di manakah Allah itu”? ustadz bertanya lagi. Aby menjadi  bingung.

Aby kemudian di-talqin (inisiasi dengan membaca zikir tertentu) oleh Ustadz itu untuk masuk ke ranah tasawuf praktis, dalam sebuah tarekat yang tidak mau disebutkan namanya.

Tarekat atau Thariqah merupakan jalan untuk menempuh kehidupan spiritual dan mempelajari tasawuf dalam bentuk sistematis. Biasanya dalam setiap tarekat mempunyai Mursyid (guru ruhani) yang membimbing perjalanan spiritual muridnya. Sebelum tasawwuf disistematisasi dalam bentuk tarekat, sudah ada beberapa individu yang dikenal sebagai sufi di abad awal Islam.

Buya Hamka dalam bukunya Perkembangan Tasawuf dari Abad ke Abad mencatat misalnya  Hasan Bashri. Beliau merupakan sufi kenamaan yang menjalani kehidupannya dengan khauf dan raja. Khauf merupakan rasa takut pada Allah yang senantiasa dihadirkan dalam diri. Sedangkan raja adalah harapan akan karunia Allah.

Meskipun di awal hatinya masih protes, pelan-pelan Aby mendalaminya. Aktif mengikuti pertemuan  dengan ustadz yang kini menjadi Mursyidnya itu, dia memahami dengan sadar bahwa segala sesuatunya adalah ciptaan dan berjalan atas kehendak Allah. Dirinya, waktu dan juga pekerjaannya tidak terlepas dari peran Sang Pencipta.

Pada poin itu dia juga sadar, bahwa kesombongan, ke-akuan manusia merupakan sesuatu yang tercela. Aby menilai, sombong itu termasuk syirik khofi, syirik tersembunyi, sebab tidak ada yang sejatinya milik manusia.

Seiring berjalannya waktu Aby, dalam posisinya sebagai seorang salik (penempuh jalan tasawuf) menemukan berbagai fenomena ganjil dan tidak masuk akal. Suatu kali dia sedang membutuhkan sejumlah uang. Dalam penuh keyakinan kepada Allah saat berzikir, Aby menyebut nama orang-orang yang sekiranya bisa membantu. Keesokan harinya di antara orang tersebut memang ada yang membantunya lewat berbagai jalan.

Pada kesempatan lain, keluarga istri Aby membutuhkan sekitar 20 juta untuk sebuah acara. Dia pusing, sebab uang tidak ada. Waktu itu ada pertemuan dengan Mursyidnya, dia sebenarnya tidak mau ikut sebab sedang berusaha mencari uang. Keesokan harinya dia juga harus mengirimkan sekitar satu juta. Mursyidnya bilang, itu mudah saja.

Pada malam harinya, tiba-tiba ada orderan untuk memproduksi lagu dalam bentuk kepingan CD. Si pemesan langsung membayar uang muka sebanyak tiga juta rupiah.  Dengan uang itu Aby langsung mengirim separuhnya untuk keluarga istrinya. Beberapa hari kemudian datang pesanan untuk membeli alat musik. Hasilnya, dia mendapatkan dua puluh juta lebih.

Pada momen menceritakan kisah di atas Aby berkata.

“Dulu ane tidak percaya, semua persoalan jawabannya Allah”.

Tampaknya kini dia memahami bahwa keyakinan kepada Allah akan memudahkan semua urusannya. Bahkan dia mengatakan, 99% kebutuhan istrinya dapat dipenuhi. Istrinya tinggal menuliskan daftarnya di secarik kertas, lalu menyerahkan padanya.

Aby melanjutkan ceritanya bahwa kita harus dapat membedakan antara kebutuhan dengan keinginan.

“Allah pasti tahu kebutuhan manusia dan doa sudah diijabah sebelum meminta” katanya.

Manusia yang protes sebab doanya tidak dikabulkan Allah menurutnya bukan berdoa atas dasar kebutuhan melainkan berdoa dengan nafsu. Dia memaksa Allah untuk mengabulkan keinginannya, padahal Allah mengetahui apa yang dibutuhkannya.

Aby adalah keturunan Habaib yang mempunyai nasab bersambung sampai ke Rasulullah SAW dari garis Bapak dan keturunan salah satu kerajaan Nusantara dari garis Ibu. Mengingat itu saya bertanya, adakah dia merasa tersambung dengan leluhurnya dalam bertasawuf? Dia menyatakan bahwa siapa kita hari adalah hasil doa nenek moyang kita dulu. Meski begitu menurutnya semua orang di hadapan Allah sama. Tidak ada bedanya. Seseorang harus egois dalam berhubungan dengan Allah, tanpa memandang siapa dirinya.

Mantan musisi itu juga bercerita mengenai perubahan lain yang dialaminya setelah belajar tasawuf. Dulu dia adalah seorang yang rasis. Namun sekarang tidak lagi, sebab dia sudah menyadari semuanya adalah ciptaan Allah.

“Tidak ada sesuatupun di dunia ini yang pantas kita hina,” katanya. Dia juga mencontohkan, bisa jadi seseorang menghina orang mabuk, namun ternyata dia shalat karena kesombongan.

Saya menemukan berbagai hikmah ketika mendengarkan cerita Aby. Selain perjalanan spiritual yang begitu signifikan, ungkapannya dipenuhi mutiara yang tinggi nilainya. Sebelum menutup pembicaraan Aby berkata mengenai pentingnya memejamkan mata. Alasannya ketika memejamkan mata, seseorang akan menemukan hamparan yang seakan-akan tidak ada batasnya. Hal ini mengingatkan saya pada Allah, yang kekuasaan-Nya melingkupi segala sesuatu pula.

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Tentang Penulis

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.