Locita

Saat Sawit Hancurkan Papua

plang penolakan warga atas sawit. (foto: ekspedisi Indonesia Biru)

SEMUANYA berawal dari penaklukan. Di tahun 1453. Konstantinopel yang berpusat di Turki dan merupakan kekuasaan imperium Romawi jatuh. Peristiwa ini mendatangkan kesulitan bagi semua bangsa Eropa di berbagai aspek, khususnya aspek perdagangan.

Peristiwa ini memicu penjelajahan bangsa Eropa untuk mengarungi samudera, yang kemudian dikenal dengan motto: Gold, Gospel, Glory.

Negeri Belanda menjangkau Nusantara lalu mencaplok wilayah-wilayah di situ. Hingga akhirnya, Indonesia berdiri sebagaimana diproklamasikan oleh Sukarno pada tahun 1945.

Secara de jure dan de facto, Indonesia telah merdeka puluhan tahun yang lalu. Namun bentuk-bentuk penjajahan yang diwariskan oleh bangsa Eropa tersebut masih terus berlanjut hingga kini. Penjajahan itu masih tersisa dalam bentuk lain. Bukan lagi dilakukan orang kulit putih, tetapi dilakukan sesama bangsa Indonesia. Penjajahan adalah tindakan yang bisa dilakukan siapa saja.

Saya melihat penjajahan dalam bentuk lain yakni eksploitasi hutan. Tanah kelahiran saya Papua terancam mengalami kerusakan sumberdaya ekologis karena hutan yang terus dijarah.

Illegal loging mulanya menggunduli sebagaian besar hutan di Kalimantan dan Sumatra. Hingga akhirnya mengarah ke wilayah timur Indonesia.

Saya terkejut saat membaca buku Atlas Sawit Papua, yang disunting YL Franky dan Selwyn Morgan. Ternyata, puluhan tahun terakhir industri sawit di Indonesia berkembang sangat cepat dengan pusat utama Sumatera dan Kalimantan.  Kawasan hutan  di Indonesia barat tersebut telah berubah menjadi perkebunan kelapa sawit dan kemudian para investor melaporkan. Saat ini, semakin sulit memperoleh tanah untuk perkebunan kelapa sawit. Pihak penjajah modern, dalam wujud investor dan korporat, mulai mencari tanah ke Indonesia Timur.

Di tahun 2005, hanya ada tujuh perusahaan perkebunan kelapa sawit di Papua. Kini di tanah Papua sudah terdapat lebih dari 21 perusahaan kelapa sawit yang beroperasi  dan membuka lahan. Banyak perusahaan yang mulai beroperasi dalam lima tahun terakhir.

Dua puluh perusahaan lainnya berada dalam tahap lanjut  proses perizinan dan diduga hampir siap membuka lahan. Puluhan perusahaan lain sudah memegang izin lokasi dari Bupati dan sedang mengurusi syarat-syarat perizinan lainnya.

Perkembangan industri sawit yang sangat cepat ini membawa dampak sangat buruk untuk masyarakat adat Papua. Dalam banyak kasus, masyarakat adat sangat dirugikan karena hutan sumber kehidupan mereka sudah berubah, rusak dan menjadi perkebunan yang tidak jelas  manfaatnya.

Saya mencatat beberapa Kabupaten di Provinsi Papua Barat yang terkena dampak perkebunan Kelapa sawit:

Pertama, Kabupaten Sorong. Sumber daya hutan di wilayah ini tak dapat diragukan lagi. Ribuan juta kubik pohon terdapat di sana. Hal ini yang mendorong Perusahan Kayu Lapis Indonesia Group (KLIG) dengan leluasa melebarkan sayap.  

KLIG merupakan perusahan pembalak kayu terbesar di Papua, yang menguasai lahan seluas 1,4 Juta hektar. Namun beberapa waktu belakangan, perusahaan tersebut mengalihkan usahanya ke lahan kebun sawit. Setelah stok kayu mulai menipis.

KLIG berusaha untuk tetap eksis dalam mempertahankan bisnis mereka di Papua. Saat ini, PT Inti Kebun Sejatera dan PT Henrison Inti Persada yang merupakan anak perusahaan KLIG tersebut telah berhasil mengubah usaha kayu menjadi usaha perkebunan sawit.

Perusahaan perkebunan kelapa sawit tersebut telah beroperasi di wilayah Distrik Salawati dan Distrik Moisigin, Kabupaten Sorong, Papua Barat, semenjak tahun 2008. Meskipun sudah beroperasi lebih dari lima tahun terdapat banyak janji-janji perusahaan yang belum dilunasi. Seperti: perumahan, pendidikan dan pelayanan kesehatan, termasuk pemberian lahan kebun sawit plasma untuk masyarakat.

Kedua, Kabupaten Bintuni. Dataran rendah Teluk Bintuni adalah pusat industri migas di Papua Barat. Saat ini beberapa kawasan di Bintuni dijadikan pusat pengeboran minyak dan gas oleh beberapa perusahaan  raksasa kelas dunia.

Dahulu, Bintuni diselimuti hutan tropis dan berada di daerah terpencil, tetapi saat ini wajah Bintuni telah berubah. Bintuni telah berubah menjadi wajah industri baru di wilayah timur Nusantara. Di wilayah ini  terdapat banyak konsesi tambang batu bara yang saat ini sedang dalam proses eksplorasi.

Bumi Teluk Bintuni selain memiliki limpahan minyak dan gas alam cair, juga terdapat hamparan hutan yang luas. Masyarakat sekitarnya sejak lama telah memanfaatkan hutan adat mereka sebagai tempat berburu dan meramu.

Namun terjadi pola perubahan struktur  masyarakat  setelah  Para investor dalam maupun luar negeri melirik potensi minyak  dan hutan masyarakat di Bintuni. Untuk rencana pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit, para investor melirik  daerah Sumuri yang juga terdapat  kandungan minyak yang cukup menggiurkan.

Menurut kabar yang beredar, hingga saat ini masih terjadi konflik sengketa perebutan lahan di Bintuni antara para investor, pemerintah dan juga masyarakat adat.

Saya berharap semoga masyarakat adat tidak menjadi korban.

Ketiga, Sorong Selatan dan Maybrat. Kabupaten Sorong Selatan merupakan wilayah pemekaran dari Kabupaten Sorong. Sejak tahun 2002, Sorong Selatan dan Maybrat juga mengalami situasi yang tidak jauh berbeda.

Hutan-hutan di Kabupaten ini dicaplok dan digunduli untuk dijadikan industri kelapa sawit skala besar. Dua perusahaan kelapa sawit sudah membabat habis hutan mereka. Selain telah memiliki rencana  untuk membuka perkebunan baru, sementara beberapa lainnya tengah dalam proses pengurusan izin.

Perusahaan-perusahaan ini diketahui masih mempunyai hubungan dan dikendalikan para penguasa modal besar. Meraka menggunakan dan berada dibawah payung group-group perusahaan besar dan bekerjasama dengan perusahaan transnasional.

Mereka juga mengendalikan bisnis sektor usaha lainnya, seperti pembalakan kayu, hutan tanaman industri, pertambangan, penangkapan hasil laut di tanah Papua maupun di daerah lainnya di Indonesia.

Mario Yumte selaku Koordinator Pemuda,Pelajar dan Mahasiswa Maybrat mengatakan bahwa kehadiran perkebunan kelapa sawit itu hanya membawa masalah di tengah masyarakat pribumi yang hidupnya bergantung pada alam sekitar. Selain itu akan berdampak pada berkurangnya luasan hutan dan punahnya satwa di Maybrat.

Terhadap ancaman kerusakan ekologi Papua yang disebabkan sawit. Saya tak ingin sekadar mengelus dada. Saya ingin mengabarkan kepada banyak orang bahwa ada banyak pelanggaran di sana. Saya ingin menggugah kesadaran orang-orang bahwa tanah dan air Papua adalah rumah yang harus dijaga dan dilindungi. Sawit hanya menguntungkan bagi investor yang serupa penjajah baru datang menjarah ke tanah Papua.

Setelah mereka pergi, tinggallah kami warga lokal bersama alam yang merana dan sekarat.

Kepada banyak sahabat, saya mengucapkan tekad bersama. Ayo bersama-sama selamatkan Papua, bukan hanya manusianya tetapi juga alamnya. Alam memberikan kita makan. Alam memberi kita minum. Alam juga yang memberikan kita kekuatan.

Save Hutan Papua.

Avatar

Ricky Keiya

Warga Paniai, Papua. Sekolah di Pascasarjana IPB.

Tentang Penulis

Avatar

Ricky Keiya

Warga Paniai, Papua. Sekolah di Pascasarjana IPB.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.